Singaraja, koranbuleleng.com | Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang serta Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPR-Perkim) mulai menggenjot perbaikan jaringan irigasi di sejumlah wilayah pertanian pada tahun 2026.
Program tersebut dibiayai melalui Bantuan Keuangan Khusus (BKK) dari Pemerintah Provinsi Bali dengan total anggaran yang mencapai sekitar Rp4 miliar. Anggaran ini difokuskan untuk meningkatkan fungsi saluran irigasi yang menopang sektor pertanian di berbagai kecamatan.
Kepala Dinas PUPR-Perkim Buleleng, I Putu Adiptha Eka Putra, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas produksi pangan di wilayah Buleleng.
“Perbaikan seluruh jaringan irigasi ini untuk memperkuat ketahanan pangan kita, karena pangan itu sangat penting. Pak Bupati juga punya program ketahanan pangan, pemerintah pusat juga menginstruksikan agar sawah harus dijaga,” ujarnya, Jumat, 6 Maret 2026.
Menurutnya, keberadaan jaringan irigasi yang berfungsi optimal memiliki peran vital dalam mendukung produktivitas pertanian. Saluran air yang lancar akan memastikan kebutuhan air bagi tanaman tetap terpenuhi sepanjang musim.
Selain memperkuat ketahanan pangan daerah, pembenahan irigasi ini juga dinilai selaras dengan upaya pemerintah dalam menopang berbagai program nasional, termasuk penyediaan bahan pangan yang berkelanjutan.
Saat ini, Dinas PUPR-Perkim Buleleng mencatat sedikitnya sekitar 25 titik jaringan irigasi tengah menjalani proses perbaikan. Lokasi pekerjaan tersebar di sejumlah kecamatan dengan prioritas pada kawasan pertanian yang masih aktif dan produktif.
“Ini bukan karena rusak akibat bencana saja, tapi memang untuk memperbaiki jaringan agar distribusi air lebih stabil dan lancar,” jelasnya.
Pekerjaan perbaikan dilakukan dengan beberapa metode teknis. Di antaranya memperkuat struktur dinding saluran, memperpanjang jalur irigasi yang sebelumnya terputus, hingga memperbaiki titik-titik distribusi air yang dinilai belum optimal.
Upaya ini diharapkan mampu menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian sepanjang tahun, tidak hanya bergantung pada curah hujan semata.
“Jadi bukan hanya saat musim hujan saja ada air, di musim kemarau pun harus tetap tersedia untuk mensuplai tanaman seperti padi dan palawija,” ucapnya.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

