Pemkab Buleleng Olah Sukun Jadi Pangan Kreatif Bernilai Jual

Singaraja, Koranbuleleng.com | Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng mendorong pangan lokal tidak berhenti sebagai bahan konsumsi, tetapi berkembang menjadi produk bernilai ekonomi. Dorongan itu diwujudkan melalui Lomba Kreasi Pangan Lokal Tahun 2026 yang digelar di lapangan parkir timur Kantor Bupati Buleleng, Kamis, 20 Agustus 2026.

Lomba yang menjadi bagian dari rangkaian Buleleng Festival 2026 tersebut diikuti 18 peserta. Pesertanya berasal dari pelaku usaha kuliner serta pelajar SMA/SMK jurusan tata boga.

- Advertisement -

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra bersama Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna membuka langsung kegiatan tersebut. Pemkab Buleleng menggelar lomba ini melalui Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng berkolaborasi dengan Indonesian Chef Association (ICA) BPC Buleleng.

Peserta terbagi dalam dua kategori. Kategori umum yang diikuti pelaku usaha kuliner mengolah jukut undis dan sudang lepet. Sementara kategori pelajar SMK ditantang mengolah sukun menjadi sajian kekinian untuk meningkatkan nilai jual komoditas lokal.

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mengatakan, lomba tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong pemanfaatan potensi pangan lokal.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Buleleng dalam memperkuat ketahanan pangan daerah melalui percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis potensi sumber daya lokal. Kita ingin masyarakat semakin mengenal, mencintai, mengonsumsi, dan mengembangkan pangan lokal sebagai bagian dari budaya hidup sehat sekaligus penguatan ekonomi daerah,” ujarnya.

- Advertisement -

Ketentuan lomba juga dibuat ketat. Seluruh bahan pangan yang digunakan peserta wajib berasal dari produk lokal Buleleng. Sebelum peserta mulai memasak, juri dari ICA terlebih dahulu melakukan pengecekan terhadap bahan masakan yang dibawa masing-masing peserta. Ketentuan tersebut untuk memastikan seluruh kreasi benar-benar menggunakan komoditas lokal.

“Tidak boleh ada yang interlokal maupun internasional. Jadi betul-betul ini lokal, sehingga nanti jurinya betul-betul bisa menilai ini apakah asli Buleleng atau nanti impor dari luar,” tegas Sutjidra.

Menurut Sutjidra, Buleleng memiliki sumber daya pangan yang cukup beragam. Potensi tersebut mencakup umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan hingga perikanan. Namun, potensi tersebut dinilai tidak cukup hanya tersedia sebagai bahan mentah. Pengolahan yang kreatif diperlukan agar komoditas lokal memiliki nilai tambah dan mampu bersaing di pasar.

Sukun menjadi salah satu komoditas yang mendapat perhatian dalam lomba tahun ini. Para pelajar SMK diminta mengembangkan sukun menjadi olahan kekinian yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

“Potensi tersebut akan memberikan nilai tambah apabila mampu diolah menjadi produk yang inovatif, memiliki cita rasa yang baik, aman dikonsumsi, bernilai gizi, dan memiliki daya saing di pasar,” ungkapnya.

Sutjidra juga meminta peserta tidak menjadikan kompetisi sebagai satu-satunya tujuan. Menurutnya, lomba dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan, menemukan inovasi baru sekaligus membangun jejaring usaha.

“Menang atau kalah bukanlah tujuan utama. Yang terpenting adalah lahirnya inovasi baru yang mampu meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, membuka peluang usaha, menciptakan lapangan kerja, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Buleleng,” ujarnya.

Pemkab Buleleng juga menyiapkan dukungan yang lebih luas terhadap pengembangan pangan lokal. Dukungan tersebut diarahkan melalui pemberdayaan petani dan penguatan UMKM pangan.

Selain itu, Pemkab Buleleng berencana membangun kerja sama dengan PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) Buleleng. Kerja sama tersebut diarahkan agar hotel-hotel di Buleleng turut memanfaatkan produk UMKM setempat serta bahan pangan lokal dalam kebutuhan usahanya.(*/ads-pr)

Pewarta: Kadek Yoga Sariada

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru