Singaraja, koranbuleleng.com | Generasi Z di Bali belum sepenuhnya siap menjalankan peran sebagai orangtua. Riset Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) terhadap 400 responden Gen Z berusia 18-26 tahun menemukan tingkat kesiapan pengasuhan anak masih berada pada kategori sedang.
Temuan itu merupakan bagian dari penelitian Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) Undiksha bertajuk “Jaga Krama Bali: Analisis Kesiapan Pengasuhan Anak Generasi Z dalam Fenomena Childfree sebagai Tantangan Regenerasi Sosial Budaya di Bali”.
Penelitian tersebut mendapat dukungan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Ditjen Belmawa).
Ketua tim penelitian, Ni Putu Okta Ginanti mengatakan, hasil riset menunjukkan kesiapan menjadi orangtua tidak bisa hanya diukur dari keinginan seseorang untuk memiliki anak.
Menurutnya, terdapat sejumlah faktor yang berkaitan dengan kesiapan pengasuhan anak. Faktor tersebut mencakup kondisi ekonomi dan psikologis, pendidikan, pekerjaan, hingga pengetahuan mengenai pengasuhan.
Selain itu, kesiapan juga dipengaruhi pasangan, pengalaman keluarga, akses informasi, orientasi terhadap keturunan, nilai adat dan agama, serta kesehatan reproduksi.
Untuk memperdalam temuan tersebut, tim penelitian juga mewawancarai enam informan guna menggali alasan dan pertimbangan Generasi Z Bali dalam mempersiapkan kehidupan berkeluarga.
Riset tersebut menemukan bahwa rendahnya kesiapan mengasuh anak tidak serta-merta membuat seseorang memilih childfree. Sebaliknya, keinginan memiliki anak juga belum tentu menunjukkan seseorang siap segera menjadi orangtua.
“Sebaliknya, keinginan untuk mempunyai anak juga belum tentu menunjukkan seseorang siap segera menjadi orangtua,” ujar Okta Ginanti, Senin, 31 Agustus 2026.
Dalam penelitian ini, childfree ditempatkan sebagai konteks perubahan cara pandang generasi muda terhadap pembentukan keluarga. Fenomena tersebut bukan menjadi variabel yang secara langsung diuji dalam penelitian.
Persoalan kesiapan menjadi orangtua dinilai semakin kompleks ketika ditempatkan dalam konteks Bali. Sebab, keberadaan generasi penerus tidak hanya berkaitan dengan keberlanjutan keluarga, tetapi juga menyangkut keberlanjutan adat dan budaya.
Pandangan BKKBN Provinsi Bali dan Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali yang turut menjadi bagian dalam pendalaman penelitian memperkuat temuan tersebut.
Kesiapan generasi muda dinilai tidak cukup hanya dengan kemampuan ekonomi maupun kesiapan psikologis. Generasi muda yang nantinya membangun keluarga juga dihadapkan pada tanggung jawab sosial dan budaya.
Okta Ginanti menjelaskan, pembahasan mengenai childfree tidak cukup jika hanya ditempatkan sebagai persoalan pilihan memiliki atau tidak memiliki anak.
“Ada persoalan yang lebih mendasar, yakni bagaimana generasi muda mempersiapkan diri jika nantinya memilih membangun keluarga dan menjalankan peran sebagai orangtua,” tutup dia.(*/adv)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

