Singaraja, koranbuleleng.com | Kerajinan saab mute di Desa Nagasepaha, Kecamatan Buleleng, perlahan menghadapi tantangan regenerasi. Keterampilan yang pada era 1990-an hampir dikuasai setiap perempuan di desa tersebut kini hanya bertahan di tangan sebagian warga.
Saab mute dibuat dari daun lontar atau ental yang dipadukan dengan kain beludru dan mute. Selain digunakan untuk kebutuhan adat dan keagamaan Hindu, kerajinan ini masih menjadi sumber pendapatan tambahan bagi sejumlah keluarga.
Perbekel Desa Nagasepaha I Wayan Sumeken mengatakan, perubahan tersebut terjadi seiring meningkatnya pendidikan generasi muda. Jika dahulu sebagian besar masyarakat hanya menempuh pendidikan hingga SMP, kini semakin banyak anak-anak Nagasepaha melanjutkan pendidikan ke SMA hingga perguruan tinggi.
Kondisi itu membuat pilihan pekerjaan generasi muda semakin beragam. Keterampilan membuat saab mute yang diwariskan dari orang tua pun tidak banyak diteruskan.
“Ini ikon kita. Kami ingin saab mute bisa menjadi salah satu ikon Desa Nagasepaha dan terus dikembangkan sebagai warisan budaya tak benda,” ujar Sumeken belum lama ini.
Sumeken mengatakan, pada era 1990-an hampir setiap perempuan di Nagasepaha memiliki kemampuan membuat saab. Kerajinan tersebut umumnya dikerjakan ibu rumah tangga setelah menyelesaikan pekerjaan rumah dan mengasuh anak.
“Pada tahun 1990-an, hampir setiap perempuan di Desa Nagasepaha bisa membuat kerajinan saab. Selain mengisi waktu, hasilnya juga bisa membantu menambah ekonomi keluarga,” ungkap Sumeken.
Memasuki tahun 2000-an, jumlah pengrajin mulai berkurang. Sebagian generasi muda memilih melanjutkan pendidikan dan kemudian bekerja di bidang yang berbeda.
Namun, sejumlah warga masih mempertahankan keterampilan tersebut. Mereka mengerjakan saab mute dari rumah sehingga tetap dapat menjalankan pekerjaan rumah tangga sekaligus memperoleh penghasilan tambahan.
“Yang masih bertahan biasanya mereka yang belum memiliki pekerjaan tetap. Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, mereka membuat saab mute untuk menambah pendapatan keluarga,” imbuhnya.
Salah satu pengrajin, Kadek Puniantari, menjadi bagian dari warga yang masih mempertahankan keterampilan tersebut. Ia mulai membuat saab mute sejak 2008 ketika masih menjadi ibu rumah tangga.
“Saya mulai membuat saab mute sekitar 2008. Waktu itu sebagai ibu rumah tangga, saya belajar membuat saab mute sambil menjaga anak,” ujarnya.
Puniantari membuat saab menggunakan daun lontar sebagai bahan utama. Bahan tersebut kemudian dipadukan dengan kain beludru dan mute untuk membentuk motif sesuai pesanan.
Dalam sehari, ia dapat menyelesaikan sekitar dua hingga tiga saab. Lama pengerjaan bergantung pada tingkat kerumitan motif dan jumlah pesanan.
Persoalan lain muncul dari sisi biaya produksi. Harga bahan baku terus meningkat, sementara pengrajin tidak selalu bisa menaikkan harga jual karena harus bersaing dengan produk serupa dari daerah lain.
“Kendalanya bahan baku karena harganya terus naik, sementara harga kerajinan masih tetap. Ada persaingan dengan produk dari tempat lain sehingga harga harus menyesuaikan,” ungkapnya.
Harga saab mute saat ini bervariasi. Kerajinan tersebut dapat dijual mulai sekitar Rp25 ribu hingga ratusan ribu rupiah, tergantung motif, ukuran, dan permintaan.
Untuk mempertahankan pasar, pengrajin mulai melakukan penyesuaian motif dan desain. Penggunaan saab mute juga diperluas, tidak hanya untuk kebutuhan adat dan keagamaan, tetapi dapat dikembangkan menjadi hiasan rumah, dekorasi dinding hingga perlengkapan seperti tedung saji.
Sumeken menyebut inovasi tersebut diperlukan agar saab mute tetap memiliki nilai ekonomi tanpa menghilangkan ciri khas Nagasepaha.
“Motifnya ada yang dikombinasikan oleh pengrajin untuk menyesuaikan kebutuhan pasar. Harganya juga relatif terjangkau, mulai Rp 25 ribu hingga ratusan ribu rupiah, tergantung motif dan permintaan,” jelasnya.
Pemerintah Desa Nagasepaha juga berupaya menjaga keterampilan tersebut melalui kerja sama dengan organisasi perangkat daerah, perguruan tinggi dan pihak lain yang memiliki perhatian terhadap pengembangan kerajinan lokal.
Kerja sama itu dilakukan melalui kajian, pelatihan, praktik pembuatan kerajinan, bantuan bahan hingga pendampingan pengelolaan usaha. Sejumlah perguruan tinggi juga telah melakukan penelitian terhadap saab mute Nagasepaha karena dinilai memiliki keunikan dan masih berpeluang dikembangkan menjadi berbagai produk.
Bagi Nagasepaha, persoalan saab mute bukan hanya mengenai keberlangsungan sebuah produk kerajinan. Berkurangnya pengrajin juga menjadi tantangan untuk mempertahankan pengetahuan dan keterampilan yang selama ini diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

