Bambu Melimpah di Sinabun, Produksi Kerajinan Terkendala Tenaga Kerja

Singaraja, koranbuleleng.com | Potensi bambu yang melimpah di Desa Sinabun, Kecamatan Sawan, Buleleng, belum sepenuhnya berkembang menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Salah satu kendalanya terlihat pada usaha Manasa Handycraft milik Gede Suarsa Ariawan yang masih kesulitan mendapatkan tenaga kerja untuk meningkatkan kapasitas produksi.

Sejak merintis usaha kerajinan bambu pada 2019, warga Banjar Menasa tersebut mampu mengolah bahan baku lokal menjadi berbagai produk bernilai jual. Mulai dari pulpen, tumbler, sedotan hingga asbak, seluruhnya dibuat dengan memadukan fungsi barang dan sentuhan seni.

- Advertisement -

Usaha yang dikelola secara mandiri itu kini menghasilkan pendapatan sekitar Rp5 juta per bulan. Namun, peluang untuk memperluas pasar belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan karena keterbatasan tenaga kerja membuat jumlah produk yang dihasilkan masih terbatas.

“Awalnya saya membuat pulpen dari bahan bambu. Bahan bakunya juga tidak terlalu sulit dicari,” ujar Suarsa.

Pulpen bambu menjadi salah satu produk andalan Manasa Handycraft. Berbeda dari alat tulis biasa, produk tersebut dihiasi gambar bernuansa budaya Bali, termasuk tokoh pewayangan yang dilukis langsung pada permukaan bambu.

Proses pembuatannya dimulai dengan memilih bambu kering, kemudian memotongnya sesuai ukuran. Badan pulpen dibuat sepanjang sekitar 12 sentimeter, sedangkan bagian tutupnya sekitar 5 sentimeter. Setelah dipotong, bambu diamplas hingga halus sebelum masuk ke tahap penghiasan.

- Advertisement -

Keterampilan menggambar menjadi salah satu nilai tambah produk tersebut. Suarsa tidak menggunakan mal untuk membuat gambar wayang pada permukaan pulpen, melainkan mengerjakannya secara langsung dengan tangan.

“Untuk menggambar wayangnya sekitar dua menit karena saya gambar langsung, tidak menggunakan mal,” jelasnya.

Dalam sehari, Suarsa mampu menghasilkan sekitar 20 pulpen bambu. Setiap produk dijual mulai Rp25 ribu, sedangkan harga kerajinan lainnya menyesuaikan desain dan tingkat kesulitan pengerjaan.

Meski memiliki produk dengan ciri khas tersendiri, keterbatasan tenaga kerja membuat pengembangan usaha berjalan belum maksimal. Kondisi tersebut juga memengaruhi kemampuannya mengikuti kegiatan promosi dan pameran secara rutin.

“Usaha kami masih sulit mencari tenaga kerja. Jadi untuk pameran di tingkat kabupaten juga masih jarang ikut karena produk kami terbatas,” ungkapnya.

Selama ini, pemasaran Manasa Handycraft masih mengandalkan pesanan melalui aplikasi WhatsApp, terutama dari pembeli lokal. Produk tersebut juga mulai menarik perhatian pengunjung dari luar daerah hingga wisatawan mancanegara yang datang ke Desa Sinabun.

Bagi Suarsa, pengembangan usaha tidak hanya berkaitan dengan peningkatan penjualan. Ia berharap kerajinan bambu dapat membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar sekaligus memberikan nilai tambah bagi bahan baku yang tersedia di desa.

Perbekel Sinabun, Nyoman Sumanada, menilai usaha kerajinan bambu memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bagian dari ekonomi kreatif desa. Menurutnya, ketersediaan bambu dapat menjadi modal untuk membangun kegiatan ekonomi yang melibatkan lebih banyak warga.

Masyarakat yang memiliki tanaman bambu berpeluang menjadi pemasok bahan baku, sedangkan proses pengolahan dapat membuka kesempatan kerja. Dengan pola tersebut, manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati pengrajin, tetapi juga dapat dirasakan warga yang terlibat dalam rantai produksi.

“Harapannya inovasi pengrajin ini bisa memberdayakan masyarakat, menyerap tenaga kerja, dan membuat bahan baku yang tersedia di wilayah desa menjadi memiliki nilai ekonomis,” ucapnya.

Sumanada mengatakan, produk kerajinan bambu dari Sinabun juga telah beberapa kali mengikuti pameran di tingkat kabupaten maupun provinsi. Keikutsertaan tersebut menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan produk lokal kepada pasar yang lebih luas.

Namun, pengembangan usaha masih membutuhkan dukungan untuk memperkuat proses produksi. Pemerintah desa berharap pemerintah daerah maupun instansi terkait dapat membantu melalui penyediaan peralatan, pelatihan keterampilan, peningkatan kapasitas produksi, dan perluasan akses pemasaran.

“Harapan kami pemerintah atau instansi terkait bisa membantu, terutama alat-alat yang lebih canggih sehingga proses pengerjaan kerajinan bisa lebih cepat,” harapnya.(*)

Pewarta: Kadek Yoga Sariada

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru