Antre BBM Hampir 8 Jam, Eka Bertahan demi Aktivitas Keluarga

Singaraja, koranbuleleng.com | Kebutuhan keluarga membuat Eka bertahan di tengah antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng, Jumat (16/10/2026). Sejak subuh, ia menunggu hampir delapan jam demi mendapatkan bensin untuk menunjang mobilitas sehari-hari.

Eka mulai mengantre pukul 04.16 Wita. Namun, ia baru bisa mengisi BBM pada pukul 12.14 Wita. Selama hampir delapan jam, ia menyaksikan antrean bergerak perlahan hingga akhirnya tiba giliran sepeda motor Honda Scoopy miliknya.

- Advertisement -

Waktu tunggu yang panjang itu tidak membuat Eka meninggalkan antrean. Ia membawa bekal sederhana berupa air mineral dan pisang rebus, serta minyak kayu putih untuk menemani dirinya selama menunggu.

Setiap satu jam, Eka juga memperbarui status melalui aplikasi WhatsApp. Di tengah antrean yang berjalan lambat, ia terus memantau perkembangan posisinya hingga semakin dekat dengan SPBU yang berjarak sekitar 550 meter.

Bagi Eka, mendapatkan bensin bukan sekadar memenuhi kebutuhan kendaraan. Ia membutuhkan bahan bakar untuk berbelanja ke pasar dan mendukung berbagai aktivitas keluarga. Karena itu, ia memilih mengisi penuh tangki Honda Scoopy yang berkapasitas 4,2 liter.

Waktu tunggu yang panjang juga berkaitan dengan kebutuhan anaknya pada sore hari. Eka ingin memastikan sepeda motornya bisa digunakan untuk menunjang aktivitas tersebut.

- Advertisement -

“Ini menunjang aktivitas anak, karena jam 15.00 Wita mau dipakai kerja kelompok. Makanya semangat antre aku,” ujarnya.

Eka juga berencana memindahkan sebagian bensin dari tangki Honda Scoopy ke kendaraan lainnya. Dengan cara tersebut, bahan bakar yang diperolehnya diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan transportasi keluarga.

Pengalaman Eka memperlihatkan bagaimana antrean BBM menyita waktu warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Waktu yang biasanya dapat digunakan untuk bekerja, berbelanja, atau mengurus keluarga harus dialihkan untuk menunggu giliran mengisi bahan bakar.

Pasokan Pertamax di Buleleng Anjlok Hampir 95 Persen

Antrean panjang yang dialami warga terjadi di tengah penurunan pasokan BBM jenis Pertamax ke Kabupaten Buleleng. Dari kondisi normal sekitar 132.000 liter, pasokan yang diterima kini hanya sekitar 7.000 liter.

Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (DisdagperinkopUKM) Buleleng, Dewa Made Sudiarta, mengatakan pasokan yang masuk belum mampu memenuhi kebutuhan normal masyarakat.

“Pasokan Pertamax saat ini hanya sekitar 7.000 liter, jauh dari kondisi normal yang mencapai 132.000 liter,” ujar Sudiarta, dikonfirmasi Jumat, 16 Oktober 2026.

Berdasarkan angka tersebut, pasokan Pertamax yang diterima hanya sekitar 5,3 persen dari kondisi normal, atau turun sekitar 94,7 persen. Penurunan ini terjadi ketika antrean kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) telah berlangsung selama empat hari, sejak Selasa, 13 Oktober 2026.

Pasokan Pertalite juga belum kembali normal. Dari kebutuhan atau pasokan normal sekitar 349.000 liter, jumlah yang diterima baru mencapai 63 persen.

Keterbatasan pasokan kedua jenis BBM tersebut berdampak pada pelayanan di sejumlah SPBU. Masyarakat harus menghadapi antrean panjang untuk mendapatkan bahan bakar bagi kebutuhan transportasi sehari-hari.

Sudiarta mengungkapkan, pada awal terjadinya kekurangan pasokan, distribusi sempat dipercepat dengan perkiraan kondisi akan kembali normal dalam dua hingga tiga hari. Namun, hingga Jumat (16/10/2026), pasokan yang masuk ke Buleleng masih belum sesuai kebutuhan.

“Kami tetap meminta penambahan pasokan. Informasi dari Pertamina, mereka sedang berupaya memaksimalkan pasokan ke daerah,” ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Buleleng terus berkoordinasi dengan Pertamina dan pengelola SPBU untuk mendorong penambahan pasokan. DisdagperinkopUKM juga telah dua kali melakukan pemantauan langsung terhadap 21 SPBU guna memeriksa ketersediaan BBM dan pola pembelian masyarakat.

Di tengah keterbatasan tersebut, pemerintah daerah meminta kendaraan operasional kedaruratan tetap memperoleh prioritas pelayanan selama BBM masih tersedia. Langkah ini diperlukan agar kebutuhan layanan darurat tidak terganggu oleh distribusi yang belum stabil.

“Hal ini ini sudah kita komunikasikan. Mana kendaraan operasional kedaruratan harus diutamakan selama stok BBM masih ada,” kata dia.(*)

Pewarta: Kadek Yoga Sariada

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru