Langit Buleleng Kelabu, BMKG Pastikan Bukan Asap Karhutla

Singaraja, koranbuleleng.com| Langit kelabu yang menyelimuti Kabupaten Buleleng sejak Senin, 26 Oktober 2026 bukan disebabkan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hasil pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan tidak ada deteksi sebaran asap di wilayah Bali.

Kondisi langit yang masih buram hingga Rabu, 28 Oktober 2026 tersebut dipicu oleh tutupan awan altostratus. Lapisan awan ini menghalangi sebagian besar cahaya matahari sehingga langit terlihat redup, meskipun cuaca di permukaan masih dapat terasa panas.

- Advertisement -

Kepala Stasiun Klimatologi Bali, Aminudin Al Roniri, menjelaskan hasil pengamatan menunjukkan awan altostratus menutupi seluruh bagian langit di wilayah pengamatan.

Berdasarkan informasi Tim Kerja Operasional Meteorologi BMKG Wilayah III Badung, citra satelit pemantauan sebaran asap di Indonesia juga tidak menunjukkan adanya deteksi asap di Bali.

Aminudin menerangkan, awan altostratus merupakan jenis awan menengah yang membentuk lapisan luas. Tutupannya dapat menjangkau sebagian besar hingga seluruh bagian langit dan mengurangi intensitas sinar matahari yang mencapai permukaan bumi.

“Sehingga langit terlihat kelabu, meskipun kondisi di permukaan masih terasa panas,” lanjut dia.

- Advertisement -

Fenomena tersebut juga dapat memengaruhi penampakan bulan pada malam hari. Bulan yang berada dalam fase purnama sekalipun bisa terlihat samar ketika tertutup lapisan awan.

Aminudin menyebut, tutupan awan altostratus secara merata umumnya bertahan selama satu hingga tiga hari. Lamanya kondisi tersebut dipengaruhi kecepatan angin di lapisan menengah atmosfer serta pergerakan sistem cuaca di sekitar Bali.

“Durasi ini sangat bergantung pada kecepatan angin di lapisan menengah atmosfer dan pergerakan sistem cuaca di sekitar wilayah Bali,” jelasnya.

Langit berpotensi kembali cerah ketika lapisan awan menipis dan terpecah akibat dorongan angin yang lebih kuat. Berkurangnya tutupan awan memungkinkan sinar matahari kembali mencapai permukaan bumi dengan lebih leluasa.

Sebaliknya, jika lapisan awan semakin tebal, kondisi tersebut dapat berlanjut dengan hujan ringan hingga sedang yang turun secara terus-menerus dalam waktu cukup lama.(*)

Pewarta: Kadek Yoga Sariada

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru