Warga Binaan Lapas Singaraja Sulap Koran Bekas Jadi Miniatur Praja Mandala

Singaraja, koranbuleleng.com| Delapan warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Singaraja menyulap koran bekas menjadi miniatur kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja, Buleleng. Karya berukuran 194 x 104 sentimeter itu dirampungkan dalam waktu 50 hari dengan detail bangunan, jalan, trotoar hingga area makam pahlawan.

Pembuatan miniatur tersebut dipimpin NS, warga binaan berusia 69 tahun asal Kelurahan Banjar Jawa, Kecamatan Buleleng. Berbekal pendidikan teknik sipil, ia mengarahkan tujuh warga binaan lainnya untuk menyusun setiap bagian replika kawasan pusat pemerintahan Kabupaten Buleleng tersebut.

- Advertisement -

Ide pembuatan miniatur muncul ketika NS beberapa kali melintasi kawasan Praja Mandala. Keinginannya semakin kuat setelah mengetahui Bupati Buleleng juga menginginkan adanya miniatur kawasan tersebut.

“Memang saya sudah lama terinspirasi untuk membuat ini. Kebetulan saya memiliki dasar teknik sipil. Jadi saya coba dengan teman-teman untuk membuat,” ujarnya.

Meski menggunakan bahan sederhana, pengerjaan miniatur membutuhkan ketelitian tinggi. Setiap bagian harus disesuaikan dengan bentuk aslinya, termasuk trotoar yang dibuat dengan ketebalan sekitar 2 milimeter.

“Karena skalanya kecil, setiap bagian cukup sulit dibuat. Trotoar saja sekitar 2 milimeter, termasuk paving dan bagian makam pahlawan. Semuanya harus diperhatikan detailnya,” kata dia.

- Advertisement -

Miniatur itu tidak dibuat untuk kepentingan komersial. NS berencana menyerahkan hasil karya bersama tujuh warga binaan lainnya tersebut kepada Bupati Buleleng.

Kemampuan NS membuat replika bangunan bukan kali pertama ditunjukkan. Pada 2024, ia pernah menyelesaikan miniatur Masjid Istiqlal Jakarta yang kini dipajang di masjid tersebut. Sekitar empat bulan lalu, ia juga merampungkan miniatur Pura Besakih.

Di dalam Lapas, kegiatan kerajinan tangan menjadi salah satu aktivitas yang membuat NS tetap produktif. Ia mengaku bersyukur mendapat kesempatan mengembangkan keterampilannya selama menjalani masa hukuman yang masih tersisa sekitar dua tahun.

Kepala Lapas Kelas IIB Singaraja, Iskandar Djamil, mengatakan pembuatan miniatur Praja Mandala merupakan bagian dari program pembinaan kemandirian. Program tersebut diarahkan untuk membekali warga binaan dengan keterampilan produktif selama menjalani masa pidana.

Pembinaan tidak hanya menyasar kerajinan tangan. Lapas Singaraja juga mengembangkan budidaya ikan lele, penanaman kangkung, produksi tempe, pembuatan dupa hingga jasa pencucian sepeda motor.

Dari sejumlah kegiatan tersebut, produksi tempe dan dupa menjadi usaha yang paling banyak diminati pasar. Produk warga binaan itu dipasarkan ke pasar tradisional, warung hingga lingkungan instansi.

“Yang paling laris itu dupa dan tempe. Dupa kami pasarkan ke luar, seperti warung-warung dan instansi. Jadi, meskipun mereka sedang menjalani hukuman, tetap bisa menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomi,” jelasnya.

Penjualan produk tersebut juga memberikan penghasilan bagi warga binaan. Sebagian hasilnya disisihkan dan dicatat dalam buku tabungan masing-masing, sedangkan sisanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan produksi dan kegiatan di dalam Lapas.

“Setiap bulan ada hasil penjualan yang kami berikan kepada warga binaan dalam bentuk tabungan. Sebagian lagi digunakan untuk memenuhi kebutuhan di dalam,” ujarnya.

Iskandar menegaskan, seluruh aktivitas produksi merupakan program resmi Lapas, bukan usaha pribadi warga binaan. Pihaknya menyediakan modal dan bahan baku untuk menjaga kegiatan tersebut tetap berjalan.

Selain memberikan keterampilan dan penghasilan kepada warga binaan, kegiatan produksi itu juga menyumbang penerimaan negara bukan pajak (PNBP).(*)

Pewarta: Kadek Yoga Sariada

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru