More

    Diberikan Anugerah Kemakmuran, Warga Gelar Ritual Ngider Githa

    Singaraja, koranbuleleng.com| Tradisi ngider githa  digelar oleh salah satu keluarga dari Desa Pekraman Sudaji, Jumat 21 April 2017. Tradisi ini digelar di Subak Kusia, Desa Pekraman Bebetin oleh keluarga Jero mangku Budiarta. Diyakini, tradisi ini sebagai tradisi yang diturunkan oleh leluhur di Desa Pekraman Sudaji.

    Tradisi Ngider Githa ini merupakan ritual pegat soot atau pengider,sebagai simbol sujud bakti kepada Bhatara Sri dan leluhur yang sudah mewariskan berkah alam dan hasilnya. Berkah dan hasil alam ini bisa diwarisi sampai generasi saat ini.

    Dalam tradisi ini,  keluarga yang menjadi yadmana atau yang mempersembahkan upacara ini juga menggunakan sapi gerumbungan sebagai salah satu pelengkap upacara, karena dulunya leluhur mereka juga berkaul menggunakan sapi gerumbungan untuk menggelar ritual.

    Sapi gerumbungan mengitari areal persawahan dan dinaiki oleh beberapa keluarga pelaku ritual ngider githa. Mereka mengundang Baga Sabali wilayah Buleleng Timur yakni dari Desa Sawan, Desa Menyali dan juga Lemukih.

    Sebenarnya, tradisi Ngider Githa digelar dalam memenuhi sesangi (janji) yang diucapkan oleh leluhur pada dahulu kala. Sesangi itu pun biasanya dihaturkan, setelah keinginan itu tercapai. Inti dari tradisi yakni pegat soot dan paideran, sedangkan sapi grumbungan hanya sebagai pelengkap upacara.

    Sambil memangku adegan kain kampuh pihak keluarga yang menggelar ritual ngider githa ini, satu per satu menaiki sapi grumbungan mengitari petakan persawahan seluas 25 meter persegi. Nampak pula seorang wanita ikut naik diatas sapi gerumbungan sambil membawa seikat padi.

    Jero Mangku Made Budiarta, yang menggelar prosesi ini menuturkan leluhurnya di masa lalu, yakni Pan Tantri mempunyai sebuah sesangi atau kaul untuk menggelar ngider githa ini. Karena itu, tradisi ngider githa itu pun lengkap dihadiri oleh pihak keluarga mendiang Pan Tantri, dan disaksikan lengkap oleh prajuru dari Desa Pakraman Bebetin dan Desa Pakraman Sudaji seperti, truna pesaren, pasek bendesa kubayan, klian adat. 

     “Dulu, sewaktu mendiang bapak saya Pan Tantri masih hidup, beliau rupanya sempat mesesangi akan menggelar Ngider Githa jika berhasil membeli petakan sawah di Subak Kusia, Desa Pakraman Bebetin,” kata Budiarta.

    Mangku Budiarta juga menjelaskan bahwa persiapan acara itu sudah dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya, lantaran tradisi ngider githa merupakan tradisi sakral dan butuh banyak persiapan.

    “Setelah prosesi pegat soot, disusul dengan paideran minuman arak, tuak brem, kemudian membajak sawah dengan sapi grumbungan, dan acara terakhir makan megibung dengan pangkonan,” terangnya.

    Selain itu, ritual ini disebut tidak bisa dilaksanakan oleh sembarang orang lantaran membutuhkan biaya yang cukup besar. Konon, sekali menggelar tradisi ini bisa menghabiskan menelan biaya sebesar Rp 50 juta.

    “Biaya untuk menggelar upacara ini sekitar Rp 50 juta. Karena sarana untuk melengkapi sesajen juga sangat banyak. Ada lima ekor babi, ngupah sapi grumbungan, juga sekaa gong dan biaya banten lainnya,” ungkapnya.

    Sementara Ulun Desa Desa Pekraman Sudaji, Jero Pasek Gede Negara (69) menjelaskan bahwa ritual ngider githa merupakan sebuah tradisi yang tidak ada ujung pangkalnya dan sudah berlangsung secara turun temurun.

    “Ngider itu artinya keliling dengan membawa minuman arak, tuak dan brem dalam bumbung. Sedangkan Githa itu bernyanyi. Dalam kearifan lokal di desa kami, ngider githa itu tak lain adalah puji syukur dari pihak keluarga sang yajmana dengan cara mekidung mengelilingi areal persawahan yang sudah dimilikinya,” ucapnya Jumat, 21 April 2017.

    Pria kelahiran tahun 1948 itu juga menerangkan, dalam kehidupan agraris di Desa Sudaji, aspek kepercayaan terhadap sesuatu yang gaib tidak dapat diabaikan. Ada kepercayaan yang timbul secara turun-temurun terhadap adanya suatu kekuatan hingga muncul tradisi ngider githa. Kesakralan dari ritual tersebut juga diyakini dapat mempengaruhi hasil panen dari para petani itu sendiri.

    “Aspek kepercayaan masyarakat memang sangat kental. Jika mereka sudah mengucapkan sebuah  janji akan menggelar ritual ngider githa, keinginan dan tujuan yang dicita-citakan biasanya tercapai dengan mulus. Biasanya, dilakukan ketika alih fungsi lahan dari kebun menjadi sawah, bahkan tidak menutup kemungkinan saat keinginan kita tercapai untuk membeli tanah persawahan,” terangnya. |NH|

     

    Berita Terpopuler

    Polisi Bubarkan Balap Liar di Pucaksari

    Polisi menyita sepeda motor yang diduga milik pelaku balapan liar di Desa Pucaksari. Saat polisi membubarkan aksi balapan, para pelaku kabur...

    Buyan Dirancang Jadi Kawasan Premium

    Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana saat menyosialisasikan penataan danau Buyan menjadi salah satu kawasan pariwisata premium di Buleleng |FOTO : Istimewa|

    Proses Hukum Ngaben di Sudaji Resmi Dihentikan

    Tim hukum dan tim litigasi dari Berdikari Law Office bersama Gede S dan keluarga |FOTO : Istimewa|

    Dosen Muda Selesaikan Program Doktor Tercepat dengan Predikat Cumlaude

    Ni Kadek Juliantari |FOTO : Istimewa| Singajara, koranbuleleng.com |Kebahagiaan terpancar dari wajah mahasiswa Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha),...

    Related articles