Twin Lake Festival Harus Jadi Momentum Pelestarian Kawasan Danau

Singaraja, koranbuleleng.com| Di awal, ketika masih bernama Festival Danau Buyan yang digelar di Desa Pancasari, festival ini pernah mmbawa misi suci, yakni untuk melestarikan kawasan dananu Buyan dan danau Tamblingan sebagai hulu (bagian atas)  Pulau Bali. Hingga sampai saat ini digelar untuk keenam kali dan bernama Twin Lake festival, misi suci itu sebenarnya masih dipegang, namun tidak secara jelas.

Pelestarian Danau Buyan dan Danau Tamblingan, semisal menjaga ekosistem asli di wilayah kedua danau, menjaga kawasan resapan dan penyangga air bagi Bali serta mengembalikan alih fungsi lahan yang selama ini masif terjadi.

- Advertisement -

Dulu, lahan masih banyak ditanami dengan tanaman yang menjaga tanah dari potensi erosi, seperti tanaman kopi, namun seiring peningkatan kebutuhan ekonomi masyarakat petani, lahan diisi dengan tanaman lain seperti tanaman bunga dengan nilai ekonomi lebih cepat dan tinggi.

Perubahan alih fungsi lahan di era kekinian juga lebih sporadis. Faktanya bisa dilihat, dari arena Twin Lake Festival dengan pandangan mata terarah ke perbukitan di seberang danau Buyan, terlihat ada wilayah perbukitan yang bopeng atau gundul karena tanaman dibabat habis.

Kondisi itu, mendapat perhatian serius dari Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana saat membuka Twin Lake Festival, Rabu 3 Juli 2019.  Bupati Agus Suradnyana juga ingin agar semua pihak mau membuka mata. Jika saat ini daerah dataran tinggi yang ada di kawasan dua Danau di Buleleng ini sudah terjadi alih fungsi tanaman.

Bagaimana kini pohon-pohon besar seperti kopi yang juga berfungsi untuk mengikat tanah dan mencegah longsor, beralih menjadi tamana bunga. Kondisi ini pun dikhawatirkan akan menggangu fungsi ideologis terhadap daerah resapan yang memberikan kontribusi air bagi Buleleng.

- Advertisement -

Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana dalam sambutannya mengatakan, Twin Lake Festival harus menjadi momentum menjaga kawasan Danau Buyan dan Tamblingan. Ia ingin memperkenalkan kawasan dua Danau di Buleleng ini menjadi kawasan yang asri sesuai dengan namanya Taman Wisata Alam.

Terlebih lagi, di kawasan Danau Buyan dan Danau Tamblingan memberikan banyak ketersediaan hayati dan makanan. Sehingga Ia mengajak seluruh pihak untuk mau menjaga ekosistem yang ada di kawasan ini, dan berupaya mengembalikannya sebagai kawasan daerah resapan.

“Danau ini harus kita selamatkan bersama. Banyak sekalai orang berkeinginan menata kawasan ini, saya tentu membikin festival ini untuk semua eling, semua ngeh dengan keberadaan hulu dari Pulau bali ini keberadaan daerah resapan Danau Buyan dan Tamblingan,” ujarnya.

Mengusung tema “Back To Nature”,yang berarti kembali ke alam, gelaran TLF VI Tahun 2019 secara resmi dibuka oleh Staf Ahli Gubernur Bali Bidang Pembangunan Kemasyarakatan dan SDM, Luh Made Wiratmi.  Sejalan dengan tema yang diusung, TLF tahun ini kembali mengangkat potensi pertanian lokal Buleleng, dengan menyuguhkan sejumlah potensi pertanian berbasis organic.

Pelepasan burung menandai Pembukaan Twin Lake Festival 2019 di Desa Pancasari

Berbagai kegiatan lomba dan pementasan juga mewarnai pembukaan festival tersebut, mulai dari Lomba Gebogan, merangkai bunga. Kemudian dalam ceremonial pembukaan juga dipentaskan tari rejang renteng masal, dan juga pementasan Sang Hyang Penyalin.

Dalam kesempatan itu pula, Bupati dua periode ini meminta Pemerintah Provinsi Bali menyelenggarakan sebuah forum diskusi dengan melibatkan sejumlah pihak. Baik itu pihak desa dinas, adat, pemerintah daerah, termasuk Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) selaku pengelola kawasan.

Ia juga meminta Gubernur Bali Wayan Koster yang memprogramkan pembangunan dengan Nangun Sat Kertih Loka Bali untuk ikut pro aktif membangun kawasan dan menjaga lingkungan Kawasan Danau Buyan dan Tamblingan dengan baik. Agus Suradnyana juga tidak ingin, program pelestarian lingkungan selama ini hanya sebatas acara seremonial belaka.

“Sekarang menanam pohon besok masuk berita halaman satu, seolah-olah menjadi pemerhati lingkungan seolah  sudah berbuat untuk alam. Padahal yang terpenting bagiamana keberlangsungan, keterlanjutan yang benar-benar dilakukan, mulai menanam, menmbuhkan hingga mendapatkan manfaat dari ekosistem yang kita lakukan,” tegasnya.

Sementara itu  Gubernur Bali dalam sambutannya yang dibacakan Staf Ahli Bidang Pembangunan Kemasyarakatan dan SDM Pemprov Bali, Ni Luh Made Wiratmi mengakui besarnya potensi yang ada di Danau Buyan dan Tamblingan. Wiratmi mengatakan kedua danau itu memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata yang berbasis alam dan konservasi.

“Buleleng punya potensi yang sangat besar, jadi wajib dipromosikan. Baik ke tingkat nasional maupun internasional. Saya kira festival ini juga punya nilai strategis. Disamping pelestarian seni budaya, ini juga menjadi media informasi dan pendidikan,” jelasnya.

Disisi lain, sejalan dengan yang disampaikan Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana, Plt Kepala Dinas Pertanian Buleleng I Made Sumiarta menyebut jika festival itu sengaja dirancang untuk melanjutkan upaya pelestarian kawasan danau kembar Buyan dan Tamblingan sebagai kawasan resapan. Terlebih kedua danau itu merupakan kawasan religius bagi masyarakat Bali.

Selain mendorong konservasi yang berkelanjutan, festival juga diharapkan menjadi media untuk mempromosikan produk dan potensi yang dihasilkan Buleleng dari sektor pertanian. Kedepan kata SUmiarta, pihaknya sudah menyiapkan program untuk bisa mengembalikan alih fungsi tanaman yang selama ini terjadi. Salah satunya dengan merubah pola piker dan memberikan edukasi kepada petani.

“Kedepan kita sudah programkan daerah dataran tinggi untuk penanaman tanaman kopi untuk daya cekam tanah dan sebagai daerah resapan, termasuk buah bernilai ekonomi seperti buah alpukat. Tahun 2020 sudah ada kita programkan kembangkan kopi arabika karena daerah tinggi cocok untuk dikembangkan,” jelasnya.|RM|

Komentar

Related Articles

spot_img

Latest Posts