Dinas Pertanian Lakukan Tes Pada Ternak dan Daging Babi

Singaraja, koranbuleleng.com | Dinas Pertanian (Distan) Buleleng memastikan tidak ada sebaran penyakit terhadap ternak Babi di Buleleng. Menjelang hari raya Galungan, tes ante mortem dan post mortem telah dilakukan.

Dinas Pertanian Buleleng juga melakukan pemeriksaan terhadap daging-daging babi yang dijual di pAsar tradisional, seperti Pasar Anyar yang dilakukan Senin 17 Februari 2020.

- Advertisement -

Kepala Dinas Pertanian, Ir. Made Sumiarta menjelaskan serangkaian pemeriksaan sudah dilakukan terhadap daging babi yang ada di Kabupaten Buleleng.

Sejak hari minggu, atau H-2 sebelum Hari Penampahan Galungan, dilakukan tes ante mortem pada pukul 17.00 sampai 19.00 WITA. Tes ante mortem dilakukan pada babi sebelum dipotong.

“Bagaimana kondisi babi yang ada di Buleleng sebelum dipotong. Pemantauan juga dilakukan di lima titik yang tersebar di Kecamatan Buleleng, Sawan, Seririt dan Busungbiu. Kami punya petugas tersebar di masing-masing kecamatan,” jelasnya.

Dari hasil pemantauan di sentra-sentra peternak dan 35 Tempat Pemotongan Hewan (TPH), semua sudah menerapkan biosecurity yang ketat. Setelah dilakukan proses biosecurity dan tes ante mortem, pada malam harinya dari pukul 23.00 WITA sampai pagi, dilakukan tes post mortem.

- Advertisement -

Post Mortem dilakukan pada babi yang sudah dipotong dan siap dibawa ke pasar. “Semua babi yang dipotong di TPH semuanya steril dan tidak ada permasalahan sehingga aman untuk dikonsumsi,”ujar Sumiarta.

Pada pagi hari ini, sidak dan tes pun dilakukan di Pasar Anyar. Berdasarkan hasil wawancara dan pengecekan, semua daging babi yang aman untuk dikonsumsi. Sumiarta juga terus menegaskan kepada para pedagang agar pedagang ikut mensosialisasikan kepada pembeli bahwa daging babi di Buleleng aman untuk dikonsumsi. Ini dilakukan agar masyarakat tidak resah dan tetap mengkonsumsi daging babi.

“Sangat perlu dilakukan sosialisasi mengingat tradisi Hindu Bali yang tidak bisa terlepas dari daging babi menjelang hari raya,” ucapnya.

Sementara itu, salah satu pedagang, Nyoman Terima asal Desa Petandakan menyebutkan dirinya memotong sendiri daging babi yang dijualnya. Babi yang dipotong berasal dari Kintamani. Mengenai harga, dirinya mengatakan harga masih normal berkisar antara Rp 60 ribu – Rp 70 ribu.

Dirinya juga memastikan memang tidak ada virus African Swine Fever (ASF) seperti isu yang berkembang. “Saya tidak khawatir karena memang di Singaraja tidak ada virus babi tersebut,” sebutnya.|ET|

Komentar

Related Articles

spot_img

Latest Posts