Pernah Jatuh Bangun, Pilihan Terakhir Budi Daya Jamur Tiram

Ketut Sudarmika memilih budi daya jamur tiram yang tetap stabil ditengah pandemi COVID 19 |FOTO ; Edi Toro|

Singaraja, koranbuleleng.com | Tumpukan Baglog itu terlihat rapi. Baglog, bibit jamur tiram ini jadi ladang bisnis bagi Ketut Sudarmika, warga Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali. Setiap hari, bibit baglog ini menjadi penghidupan bagi keluarganya.

- Advertisement -

Ditengah pandemi COVID 19, bisnis budi daya jamur tetap meroket, harga bibit dan jamur yang dipanen tetap stabil. Permintaan dari masyarakat selalu ada, walaupun di sisi lain permintaan dari hotel dan restoran anjlok. Namun itu bukan masalah bagi pebisnis jamur tiram.

Usaha yang dikembangkan Ketut Sudarmika, yang memproduksi Baglog atau bibit jamur tiram saat ini mampu menembus pasar luar kota. Saban hari, pengiriman bibit jamur tiramnya hingga sampai Karangasem, Klungkung dan Gianyar.

Usaha yang dikembangkan sekarang memang tak lepas dari pengalaman yang ia sudah lalui. Pernah beberapa kali bangun usaha, namun hasilnya tidak maksimal menyebabkan pria berusia 36 tahun ini sempat putus asa. Ketika ia tidak punya usaha dan tidak bekerja, kemudian ada salah satu temannya yang mengajak untuk bekerja di salah satu budidaya jamur tiram di Buleleng.

Dari situlah awal mula Sudarmika mengetahui ilmu  pembibitan jamur yang selanjutnya mulai dikembangkan pembibitan jamur di rumahnya hingga sekarang  menjadi usaha keluarga. Jalan hidup memang tak pernah bisa ditebak.

- Advertisement -

“Awalnya saya coba-coba karena modal sedikit, kebetulan juga saya pernah bekerja di tempat budidaya jamur jadinya saya tau, ilmunya saya juga dapat dari sana,”  ungkap Sudarmika ketika dikunjungi ke rumahnya.

Ia bercerita, jika dulu pernah beberapa kali membuka usaha namun karena harga kontrakan yang semakin hari semakin meningkat dengan hasil yang kurang, menyebabkan Sudarmika akhirnya berhenti dan memutuskan untuk beralih usaha pembibitan jamur tiram.   

“Sempat beberapa kali buka usaha,  di Denpasar pernah, di sini beberapa kali juga pernah, dari  percetakan, warung makan, hingga tempat cuci kendaraan saya pernah.” kenangnya.

Sudarmika sudah menggeluti budidaya jamur tiram ini lebih dari 2 tahun. Saat ini lebih fokus untuk pesanan bibit dari petani jamur yang ada di Buleleng dan di luar Buleleng. Untuk proses budidaya jamur ia mengaku kedepanya akan menyiapkan tempat yang lebih luas.

Dalam kunjungan wartawan Koranbuleleng.com ke lokasi produksi pembibitan jamur tiram di Rumahnya,  Sudarmika  tengah mempersiapkan orderan yang mencapai hingga 1000 bibit.

“Dulu sempat budidaya juga tapi sedikit, sambil juga buat bibit, karena  tempatnya kurang  saya fokus ke pembibitan dulu, karena pesanan banyak juga, nanti pasti budidaya karena gak jauh-jauh juga dari jamur, rencananya juga nanti buat olahan dari jamur ” kata Sudarmika

Dengan harga satu bibit  mencapai 3000 rupiah, dalam satu bulan omset yang dihasilkan untuk hasil produksi baglog jamur tak kurang 10 – 15 juta.  Jika pesanan berjumlah banyak Ia pun kadang memanggil beberapa pekerja untuk membantu memenuhi pesanan. Bahkan jumlahnya  mencapai 4000 bibit.    

“Kalau ada yang pesen banyak saya ngajak tenaga dua orang, tapi kalau setiap hari nya saya bikin aja bersama istri,  ya sehari bisa bikin 200 sampai 300 bibit” ujarnya

Sampai saat ini kendala yang ditemukan ketika pembibitan maupun budidaya Sumardika mengaku tidak banyak mengalami kesulitan. Menurutnya bahan baku yang dipakai masih mudah ditemukan, proses pembuatannya pun gampang.  Hanya saja ia mengaku jika ingin usahanya lebih maju dan berkembang ia harus mengeluarkan modal yang lebih banyak karena perlu tempat dan alat-alat yang lebih banyak pula.

Sudarmika menambahkan jika penyakit yang ditemui pada jamur jarang, meskipun ada penyakit seperti ulat atau Wering   itu karena perawatan terhadap bibit kurang maksimal. Jika bibit dirawat dengan baik penyakit dan kematian bibit jarang ditemui. Jika bibit dirawat dengan baik, sekitar 1 setengah bulan jamur sudah bisa dipanen hingga mencapai 3 kali petik.

“Tergantung perawatan saja, semakin baik perawatan semakin bagus juga hasilnya, bisa 3 kali panen, 1 Baglog  bisa berisi 500 gram,” imbuh Sudarmika

Lebih lanjut Sudarmika menambahkan adanya pandemi COVID 19 hanya berpengaruh pada terhentinya permintaan dari pihak hotel dan restoran, namun untuk konsumsi maupun pembibitan untuk masyarakat tetap stabil.

Apalagi hasil jamur-jamur yang dari luar Bali sudah jarang masuk, sehingga menurutnya sekarang adalah kesempatan untuk para petani jamur untuk menunjukan hasil budidayanya.

“Sekarang sebenarnya kesempatan untuk budidaya jamur, karena Corona tidak pengaruh banyak, kalau yang berpengaruh itu budidaya yang sasaran pasarnya ke hotel-hotel atau restaurant, kalau kita-kita tidak, malah sekarang saat yang tepat untuk kembangkan jamur, apalagi jamur dari jawa sudah jarang masuk, harga per kilonya juga masih stabil di harga 20 ribu,” pungkasnya. |ET|

Komentar

Related Articles

spot_img

Latest Posts