Belajar Bersama Nyurat Lontar Terapkan Protokol Kesehatan

Peserta “Belajar bersama” Nyurat lontar tetap mengedepankan protokol kesehatan |FOTO : I Putu Nova A.Putra|

Singaraja, koranbuleleng.com | Walaupun pandemi Covid-19, puluhan siswa belajar bersama nyurat lontar atau menulis aksara Bali dengan media daun lontar. Peserta dari berbagai sekolah menengah pertama dan diantara mereka wajib menerapkan protokol kesehatan. Agenda belajar bersama nyurat lontar ini dilakukan Kamis 12 Nopember 2020. 

- Advertisement -

Peserta belajar bersama Nyurat lontar wajib mengenakan masker. Di lokasi acara, juga wajib menjaga jarak karena pihak panitia telah mengatur sedemikian rupa jarak antar peserta belajar bersama Nyurat lontar. Selain itu, peserta juga wajib mencuci tangan ataupun membawa hand sanitiser.

Selama ini, sekolah tatap muka belum berlangsung bagi anak-anak sekolah, karena kekhawatiran potensi penularan Covid-19 di sekolah. Namun, belajar bersama ini menjadi salah satu upayacara siswa-siswi di Singaraja tetap bisa kreatif ditengah Pandemi Covid-19 dan melestarikan tradisi khas nenek moyang.

Salah satu peserta, Sandi, mengatakan ditengah pandemi Covid-19 sebeanarnya banyak siswa dan siswi yang rindu untuk bersekolah secara wajar. Sehingga ketika ada agenda belajar bersama Nyurat Lontar ini, dia langsung mengiyakan diri untuk mengikuti.

“Lumayan pelajaran ekstrakurikuler jadi berjalan, selama ini belajar di rumah juga bosan saja, kita rindu teman, rindu bercengkerama di sekolah. Belajar bersama Nyurat lontar ini menjadi cara bagi kami untuk bisa langsung bertemu teman dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan,” ujar Sandi, Kamis.

- Advertisement -

 Sandi mengaku dari rumah sudah membawa hand sanitiser dan masker lebih untuk bisa mengikuti belajar bersama ini. Dia juga mengaku tetap mengikuti arahan panitia untuk menjaga jarak antar peserta.

“Panitia sudah menerapkan protokol kesehatan, jadi saya rasa aman. Banyak juga yang pake masker, sudah jadi kebiasaan sih,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Gede Dody Sukma Oktiva Askara mengatakan pihaknya memang sudah sejak awal mengatur agar panitia tetap menerapkan protokol kesehatan dalam agenda belajar bersama nyurat lontar ini.

“Selain menerapkan 3 M, agenda belajar bersama nyurat lontar ini juga kita bagi dalam dua hari sheingga peserta tidak berkumpul banyak. Toh juga ini belajar agar anak-anak sekolah kembali fresh atau menyegarkan pikiran.”  ujar Dody.

Dody mengatakan belajar bersama nyurat lontar bagi anak-anak SMP ini untuk memancing kreatifitas anak-anak di tengah Pandemi Covid-19. Kreatifitas anak-anak remaja ini diarahkan untuk ikut berperan serta dalam upaya melestarikan seni adat dan budaya Bali.

Jadi, kata Dody , agenda ini ada upaya melestarikan warisan budaya leluhur. Belajar bersama ini dalam rupa pelatihan untuk memberikan edukasi kepada generasi muda. Khususnya tentang budaya dan kearifan lokal berupa manuskrip.  

Buleleng sendiri memiliki Museum Gedong Kirtya yang dikenal satu-satunya museum lontar yang ada di Bali. Museum yang sudah memiliki reputasi dan dikenal hingga mancanegara.

“Kita memberikan edukasi kepada generasi muda kita di Buleleng, tentang pengenalan dan cara menulis lontar yang benar. Dengan mereka mengenal, tentu akan sayang dan peduli dengan khasanah budaya utamanya manuskrip tulisan diatas daun lontar,” ujarnya. |NP|

Komentar

Related Articles

spot_img

Latest Posts