More

    Belajar Sadar dari SEKALA BALi. Selamat Hari Peduli Sampah. Lho kok?

    Bersama anak-anak peserta belajar Bahasa Inggris Sekala Bali |FOTO : gede Ganesha|

    SEKALA BALI  begitu mereka menamai tempat yang saya kunjungi itu, yang merupakan singkatan dari SEkolah ALAm BALi, lokasinya di gang Mawar, gang kecil di lingkungan Penarungan, Kelurahan Penarukan.

    Berupa bangunan rumah sederhana dari seorang sahabat, yang menjadi tempat belajar dari 25 anak-anak sekolah dasar dari kelas satu sampai kelas enam di lingkungan tersebut. Mereka belajar Bahasa Inggris, dari hari Jumat hingga minggu,  dari pukul 14.00 wita sama 17.00 wita. Jam belajar dibagi menjadi beberapa sesi.

    Sahabat saya,  I Gede Eka Sudarmawan,  biasa di panggil Bli Iges begitu sapaan akrabnya. Pertama kali bertemu ketika sama-sama menjadi peserta Buleleng Academy Pertama, dan kita menjadi satu tim waktu itu.

    Setelah lama tidak bersua, Bli Iges mengundang saya untuk hadir kerumahnya, untuk bertukar pikiran tentang pengelolaan sampah. Tanpa pikir panjang, langsung saya sampaikan kesiapan.

    Tibalah hari saya berangkat kerumahnya, dibantu “malaikat” petunjuk jalan Om Google Map.  15 menit perjalanan dari desa Panji sampailah saya di lokasi, gang itu.

    Tempatnya hanya rumah biasa,  sederhana berhimpitan dengan rumah-rumah lainnya. Tapi yang tidak biasa adalah rumah itu menjadi tempat belajar bagi 25 orang anak-anak yang tinggal lingkungan tersebut.

    Saya disambut oleh Bli Iges dan Erlina,  Erlina adalah Relawan yang mengelola Sekala Bali,  Perempuan manis ini masih berstatus mahasiswa di Universitas Pendidikan Ganesha.

    Bersama pengelola Sekala Bali

    Luh Putu Erlina Aria Wati, nama lengkap perempuan manis itu. Merupakan Mahasiswa jurusan Akuntansi. Dia punya peran penting sebagai Pengelola atau Direktur dari Sekala Bali. 

    Erlina, begitu enerjik memberikan penjelasan tentang keberadaan Sekala Bali  yang di bangun oleh Bli Iges dan Istrinya. Ini sebenarnya sebuah tempat yang telah lama di impikan oleh Bli Iges sebagai salah satu bentuk pengabdian di kampung tercintanya.

    Sebelum bertempat disana,  Erlina mengajar di rumahnya,  bahkan dulu sempat di Pura Keluarganya. Baginya mengajar adalah panggilan jiwa. 

    Setelah cukup lama berproses akhirnya bersama Bli Iges ikut terlibat di Sekala Bali menjadi pengelola,  Selain Erlina, di  Sekala Bali juga dibantu 6 orang relawan lain, ada yang mahasiswa ada juga yang sudah bekerja. Mereka bergantian mengajar bahasa Inggris, dengan sukarela.

    Setelah selesai bercerita akhirnya dimintalah saya untuk bertemu dengan anak-anak disana, tiba-tiba keringat cukup deras bercucuran. Sebenarnya ini bukan pertama kali saya hadir untuk sosialisasi ataupun tukar pikiran tentang sampah. Bahkan, sudah Lebih dari seratus kali mungkin.

    Tetapi, rasa kagum saya terhadap tempat tersebut membuat saya merasa tidak ada apa-apanya. Seperti sepercik debu diantara hamparan gurun.  Bagaimana tidak,  mereka mengajar anak-anak dengan gratis, hanya dengan membawa sampah plastik ke tempat tersebut. Sebuah, cita-cita mulia yang sudha terwujud dari seorang Bli Iges.

    Bli Iges dan Erlina mampu meyakinkan para orang tua untuk mempercayakan anak-anak mereka belajar disana. Saya sendiri sangat sepakat dengan mereka tentang pentingnya bahasa Inggris, lebih-lebih mereka diajarkan hidup berkesadaran; sadar akan sampahnya,  bahwa sampah mereka memiliki nilai, dengan membawa sampah sebagai salah satu syarat utama mereka belajar disana, membuat mereka peduli akan sampah yang dihasilkan.  Peduli untuk tidak membuang sembarangan.  

    Tentu cara ini sangat efektif sebagai sarana edukasi.  Secara tidak langsung cara ini pasti akan mampu mendorong kesadaran orang tua para anak-anak untuk mengelola sampah non organik mereka.

    Bli Iges meminta saya menyampaikan kepada para anak-anak tentang mengapa kita harus peduli kepada sampah?,  Kemana sampah itu akan berakhir jika tidak dikelola?,  dan menjadi apa sampah itu jika sudah dikelola?. Hayooo..jadi apa?.

    Misi mereka menghadirkan saya ke Sekala Bali sederhana.  Sebenarnya untuk memastikan sampah yang nantinya terkumpul di Sekala Bali bisa bawa ke rumah Plastik untuk dikelola lebih lanjut. Bagi saya, ini misi yang sangat mudah dilakukan karena sudah biasa melakukannya di Bank Sampah Galang Panji. Ya, saya pun bercerita tentang pola pemilahan sampah hingga pengalaman sejak lama mengelola sampah.

    Tapi apa yang saya takutkan, tau nggak?   

    Yang berat itu adalah ketika harus berhadapan dengan anak-anak itu,  saya hanya takut jika tiba-tiba mereka bertanya menggunakan bahasa Inggris.  Bagaimana saya mau menjawab, penguasaan bahasa Inggris saya sangatlah belepotan.

    Nah, Dari Sekala Bali saya kembali belajar dan mendapat pelajaran hidup lagi. Pelajaran untuk membangun kesadaran, kesadaran tentang pendidikan, dan lingkungan.

    Serta dari Bli Iges dan Erlina, saya paham bahwa tidak harus menjadi siapa dulu untuk kita bisa berbuat. Kita semua bisa berperan dalam membangun generasi yang lebih baik, yang lebih peduli pada lingkungannya.

    Selamat hari Peduli Sampah Nasional, 21 Pebruari 2021.  Terimakasih atas kepeduliannya.  

    Penulis : Gede Ganesha (Tokoh Pemuda Desa Panji, Ketua BPD Desa Panji dan Pengabdi Demokrasi)

    Berita Terpopuler

    Related articles