More

    TPA Bengkala Diambang Darurat

    TPA Bengkala yang sudah diambang darurat sampah karena daya tampung semakin sedikit |FOTO : I Putu Nova A.Putra|

    Singaraja, koranbuleleng.com | Kapasitas tampung Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah di Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan sudah berlebih, bahkan diambang darurat.  Dari empat blok penampungan sampah, tiga blok sudah sudah penuh. Hanya di Blok 1 yang tersisa sedikit sebagai tempat penampungan.

    “Setiap hari, 55 kali mobil truk milik dinas masuk untuk membawa sampah. Kami bekerja dalam tiga shift, pagi siang dan sore untuk mencatat setiap volume sampah yang masuk dari masing-masing truk,” ujar salah satu pegawai di TPA Bengkala, Ni Ketut Ari, Minggu 21 Pebruari 2021.

    Mengelola sampah itu pelik sekali. Pelik di sumber dan diakhir. Jika di sumbernya tidak dikelola dengan baik, maka di lokasi pembuangan akhir sampah akan lebih bermasalah, seperti yang terjadi di TPA Bengkala.  

    “Permasalahan sampah itu harus selesai di sumbernya, sehingga akhir pembuangan juga tidak banyak masalah.” terang Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kabupaten Buleleng, Putu Ariadi Pribadi saat peringatan Hari Peduli Sampah Nasional, Minggu 21 Pebruari 2021.  Karena itulah, seluruh eleman, bukan saja pemerintah namun juga masyarakat harus lebih peduli untuk mengelola sampah ini dengan baik.

    Semestinya, kata Ariadi, sampah sudah harus dipilah di sumbernya. Pisahkan organik dan non organik. Sampah organik dipisahkan dan bisa dimanfaatkan utk berbagai hal, yakni pupuk organik, bahan Eco Enzym, pakan maggot, Pupuk Organik Cair (POC) dan sejensinya. Sampah plastik atau  non organik yang mepunyai nilai ekonomi, bisa dibawa ke bank Sampah.

    Kapasitas di TPA Bengkala sudah nyaris diambang batas. TPA ini mulai aktif sejak tahun 2008 i terus alami penambahan volume sampah. Setiap hari, TPA ini menerima sekitar 583 meter kubik sampah.

    Menurut Ariadi, potensi timbulan sampah dari setiap jiwa itu 0,3 kilogram sampah perhari.  Sementara jumlah penduduk di Buleleng itu mencapai 791.813 jiwa. Data kependudukan itu sesuai dengan hasil sensus penduduk tahun 2020.  “Perhari saja bisa mencapai237 meter kubik, itu belum lagi sampah dari pasar, rumah sakit dan lainnya,” kata Ariadi.

    Karena itulah, penting sekali bila pengelolaan sampah itu harus sudah dilakukan berbasis dari sumbernya, sisanya non organik seperti plastik bisa dibawa ke bank sampah. Keberadaan bank sampah ini sangat besar mendukung mengurangi timbulan sampah, karena itulah Dinas Lingkungan Hidup kabupaten Buleleng juga mendorong agar setiap desa memiliki bank sampah.

    “Kami berharap, momen hari peduli sampah nasional bisa menjadikan momen kesadaran bersama untuk peduli terhadap sampah. Tetapi kami dari sisi pemerintah tidak bisa menyalahkan masyarakat, tetapi kinerja dan strategi kami sebagai aparat yang harus dipacu untuk ikut menyadarkan masyarakat memahami pengelolaan sampah dengan baik,” katanya.

    Ariadi bercerita, 21 Pebruari ditetapkan sebagai hari Peduli Sampah Nasional ada latarbelakangnya. Dulu, pernah terjadi bencana lingkungan di TPA Leuwih Gajah, Bandung di 21 Pebruari 2015. “pegunungan” sampah di lokasi tersebut longsor dan menewaskan sejumlah warga. Gundukan sampah yang telah menggunung itu longsor akikabt kasatis tamping sampah yang berlebih dan tidak dikelola dengan baik. Pengelolaan di TPA hanya dengan cara pungut-buang.

    “Kondisi sampah yang terus menggunung akhinya menyebabkan longsor, dan menewaskan sejumlah warga saat itu. Peristiwa di tanggal 21 Pebruari 2015 itu dijadikan momen sebagai hari Peduli Sampah Nasional, agar kita ingat untuk peduli terhadap permasalahan sampah ini,” terang Ariadi.

    Tentu, kata Ariadi, peristiwa kelam di Leuwi Gajah, di Bandung tidak boleh terjadi di tempat lain. Untuk itu, selain sosialiasai penanganan sampah di sumber dan mendorong bank sampah agar umur TPA Bengkala  lebih panjang, Dinas Lingkungan Hidup sebenarnya sedang berusaha untuk membuat rencana lain, yakni pengadaan TPA baru.  Namun itu butuh lahan yang luas. Jika itu terpenuhi, maka TPA harus dibuat sesuai dengan standar yang berlaku. Standar-standar itu seperti harus ada lokasi penanganan sampah, ada alat penimbangan sampah, ada sarana penanggulangan kebakaran dan personilnya. Kebutuhan lahan untuk sebuah TP minimal seluas 6 hektar.

    Sebelumnya, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng pernah mengajukan kepada Provinsi Bali untuk memohon lahan di Desa Patas, Kecamatan Gerokgak untuk pemanfaatan TPA Baru. Namun, sampai saat ini belum ada keputusan yang pasti karena lahan tersebut masih digunakan sesuai tugas dan fungsinya yang dikelola oleh Dinas Pertanian Provinsi Bali.   

    Namun jikapun tidak ada lahan baru, maka solusi lain yakni perluasan area TPA Bengkala. Namun, itu butuh anggaran besar untuk pengadaan lahan. “Sekarang karena situasi pandemi COVID-19, kita sangat kesulitan untuk anggaran,” kata Ariadi.  

    TPA Bengkala Disemprot Eco Enzym

    Penyemprotan Eco Enzyme di Area TPA Bengkala

    Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng memperingati Hari Peduli Sampah Nasional ini dengan menggelar penyemprotan Eco Enzym di seluruh area TPA Bengkala. Eco Enzym ini dapat berfungsi untuk membersihkan udara dan menghilangkan bau tidak sedap akibat udara yang kotor, asap dan residu kimia, anti bakteri, kuman dan parasit serta sejumlah keunggulan lainnya.

    Dinas Lingkungan Hidup menyemprotkan sebanyak 50 liter eco enzyme yang dituangkan dalam 50 ribu liter air melalui tangki mobil dinas pemadam kebakaran. Seluruh area TPA Bengkala disemprot dengan cairan Eco enzyme tersbeut.  

    “Kami bekerjasama dengan komunitas eco enzyme di Buleleng untuk mengaplikasikan Eco Enzym ini di TPA Bengkala agar udara menjadi lebih bersih. Namun ini memang harus rutin dilaukan, tidak cukup hanya satu kali saja,” ujar Ariadi Pribadi.

    Selain memiliki fungsi untuk menjernihkan udara dan air, eco enzym juga bisa diaplikasikan ke tanaman. Dengan demikian, cairan eko enzym ini sangat cocok bagi perkebunan maupun pertanian secara organik.

    Untuk itu, Masyarakat diharapkan betul-betul peduli terhadap sampah. Pengelolaan sampah organik menjadi bagian lain akan membantu pengurangan sampah yang masuk ke TPA Bengkala. “Mudah-mudahan dengan momentum HPSN ini masyarakat Buleleng mau peduli sampah dengan mengolah  dan menjadikan sesuatu yang bermanfaat serta memiliki nilai ekonomi,”pungkasnya.

    Sementara itu, salah satu angota Komunitas Eco Enzym di Buleleng, Fery Tanaya mengungkapkan Eco Enzym sangat bagus diaplikasikan untuk kepentingan lingkungan yang lebih baik.

    Dia mengapresiasi gerakan penyemprotan Eco Enzym di area TPA dilakukan secara serentak di seluruh TPA yang ada di Bali.

    “Dan kami melakukan bersama di TPA Bengkala. Semoga lingkungan kita menjadi lebih baik lagi, lebih bersih karena manfaat eco enzyme ini,” ujar Fery.  |NP|

    Berita Terpopuler

    Related articles