More

    Selain Menjaga Tradisi, Pementasan Wayang Kulit Penting Lalui Inovasi dan Kreatifitas

    Jro Dalang Putu Ardiyasa |FOTO : Istimewa|

    Singaraja, koranbuleleng.com| Tepat di hari Wrespati Julungwangi, beberapa waktu yang sudah lewat sebulan lalu,  sebuah keluarga di Desa Patemon, Kecamatan Seririt sudah menggelar upacara manusia yadnya, nelubulanin. Atau tradisi upacara tiga bulan bagi bayi yang lahir dalam umur tiga bulan sesuai perhitungan kalender Bali.

    Ketut Karang, kepala keluarga itu, menggelar pementasan wayang kulit. Sudah menjadi tradisi bagi keluarganya untuk mementaskan wayang kulit ketika si bayi telah selesai menjalani ritual nelubulanin. Malam harinya dilangsungkan pementasan wayang kulit.

    Di malam Wrespati Julungwangi itu, tepatnya saat itu Kamis 1 April 2021, malam masih bertabur mendung, juga petir membelah gelap. Hujan pun mulai turun gerimis sekitar pukul 19.30 wita kala itu.  Satu jam sebelum hujan, beberapa keluarga dari pengampu upacara sudah berkumpul, menunggu kedatangan kru wayang kulit.  Ada beberapa orang tua, yang bukan keluarga juga sudah hadir disana. Rata-rata orang tua ini sudah berumur 50 tahun lebih. Mereka masih menyukai wayang kulit. Maka itu, jika ada keluarga yang mementaskan wayang kulit saat upacara tiga bulan, sejumlah orang tua pasti hadir.  Dulu, dikala mereka masih muda, wayang kulit adalah hiburan utama juga sebagai referensi hidup. Karena dalam pewayangan biasanya banyak hal bisa dikutip tentang makna kehidupan. Alur cerita wayang biasanya selalu diambil dari sebuah kitab atau sastra pewayangan.

    Sekitar pukul 20.00 wita, seluruh kru dalang hadir, lengkap dengan dua unit gender dan satu gedog atau sebuah kotak besar terbuat dari kayu. Didalamnya berisi ratusan wayang kulit berbagai tokoh. Satu gedog itu tidak akan bisa digotong oleh seorang manusia, minimal dua orang dengan dibantu kayu atau bambu penyangga. Gedog itu biasanya sangat berat.

    Tiga puluh menit setelah kru wayang kulit hadir, layar sudah terkembang, dibalik layar juga sudah menyala sebuah obor. Obor tersebut bisa menyala hingga dua jam lebih dengan bahan bakar minyak kelapa saja.

    Cerita dimulai, dalang memainkan alurnya dan menghempas-hempas wayang kulit di layar. Hanya penonton berusia lanjut yang terlihat begitu serius menonton alur cerita. Yang muda-muda hanya terlihat serius saat Dalang mengeluarkan gegonjakan atau lawakan.

    Sebagai sebuah warisan budaya, Wayang kulit khas Bali tetap dicari namun tak semua level masyarakat mau menonton. Lebih banyak, wayang kulit ini dipentaskan hanya pada saat upacara yadnya saja. Atau ada ketika dipentaskan saat festival seperti Pesta Kesenian Bali. Jadi tidaklah rutin dan hanya sewaktu-waktu saja. Ketika digelar di Pesta Kesenian Bali, wayang juga terkadang hanya ditonton segelintir saja.  

    Karang menyebut pementasan wayang di keluarganya sudah menjadi tradisi ketika ada yang sedang menggelar upacara yadnya, terutama upacara nelubulanin ataupun saat upacara otonan. Ketika upacara otonan juga digelar pada saat telung oton (umur bayi 18 bulan). Keluarga mementaskan wayang kulit karena ada tradisi nunas tirta penglukatan wayang.  

    “Biasanya kami menggelar wayang dengan tujuan akhir untuk upacara juga, memohon tirta suci pelukatan wayang. Di keluarga kami seperti itu. Tapi biasanya ada juga tradisi keluarga lainnya dengan menggelar yang lain,” ujar Karang.

    Sebenarnya, kesenian Wayang Kulit pada umumnya memiliki dua fungsi. Yakni sebagai Bebali atau Seni Pelengkap atau Pengiring Upacara Agama, dan Seni Balih-balihan atau Seni Pertunjukkan Hiburan. Dalam fungsinya sebagai seni Bebali, Kesenian Wayang Kulit akan bisa bertahan. Namun berbanding terbalik dengan fungsinya sebagai Balih-balihan, yang eksistensinya kian terpuruk.

    Jika melihat dari perkembangan kesenian wayang kulit, salah satu ciri-ciri yang tidak mengalami perubahan sejak dahulu sampai sekarang adalah bahwa wayang memiliki sifat multidimensional, yang artinya kemampuan seorang dalang dalam menyajikan pertunjukan (kawi dalang) yang dibungkus dengan pengetahuan filsafat, ajaran-ajaran agama, dan sebagainya lewat pertunjukan wayang kepada masyarakat.

    Hal ini menyebabkan ketertarikan masyarakat terhadap pertunjukan wayang kulit cukup tinggi sehingga menjadi kegemaran, media hiburan dan mencari petuah-petuah dalam menjalani kehidupan.

    Dimasa kini, minat masyarakat untuk menyaksikan kesenian wayang kulit semakin memudar. Saat melaksanakan fungsinya sebagai seni bebali atau pelengkap dan pengiring upacara agama hindu di Bali seperti nelubulanin, nyapu leger, ngaben, ngotonin maupun ngenteg linggih kesenian ini masih bisa eksis karena akan tetap dipentaskan untuk kebutuhan upacara keagamaan. Namun jika melihat dari minat masyarakat untuk menyaksikan pertunjukkan, sangatlah minim. Itupun mungkin hanya ditonton oleh sanak saudara pemilik hajatan.

    Begitu Pula ketika kesenian wayang kulit ditampilkan dalam fungsinya sebagai seni Balih-balihan atau pertunjukkan hiburan. Semakin jarang masyarakat yang sengaja “ngupah” wayang untuk dijadikan sarana hiburan.

    Akademisi Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Negeri Mpu Kuturan Singaraja yang juga seorang dalang muda Putu Ardiyasa mengaku miris dengan kondisi tersebut. Sebagai pelaku kesenian wayang kulit, Ia juga tidak menampik jika eksistensi kesenian wayang kulit kian terpuruk. Apalagi di tengah pesatnya perkembangan dunia digital saat ini.

    Lulusan Seni Pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar ini bahkan menyebut jika kesenian wayang kulit masih bertahan karena masih diperlukan dalam fungsinya sebagai pelengkap dan pengiring upacara agama hindu di Bali. “Di Bali eksistensi wayang besar pengaruhnya bertahan karena ritual agama,” ujarnya.

    Pria asal Desa Selulung, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli ini kerap kali tampil sebagai pembicara. Di Kesempatan itu pula, Ia selalu mengajak para Dalang khususnya Dalang Muda sebagai generasi penerus untuk kembali membangkitkan eksistensi kesenian wayang kulit. Salah satu hal yang selalu disampaikan adalah, seorang dalang harus bisa melakukan inovasi dalam pertunjukkan.

    Inovasi menurutnya harus dilakukan menyesuaikan dengan kebutuhan dari penonton, dengan membuat sebuah pakem baru, tanpa meninggalkan dasar dari kesenian wayang kulit itu sendiri. Jro Dalang Putu Ardiyasa sebagai seorang akademisi juga mengkritisi ketika pementasan wayang kulit tetap dipertahankan dengan pakem lama yang dianggap sudah terlalu kaku.

    Ia mencontohkan salah satu dalang yang berhasil melakukan inovasi dalam pertunjukkan adalah Dalang Cenk-Blonk. Dengan inovasi yang dilakukan, bisa menghipnotis minat masyarakat untuk menyaksikan pertunjukkan wayang kulit. Bahkan dengan inovasinya, Ia menjadi salah satu dalang dengan bayaran tinggi dan menjadi dalang yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat.

    Di Buleleng, lanjut Jro Ardiyasa juga memiliki dalang yang sudah melakukan inovasi. Dalang itu yakni Jero Dalang Gusti Made Aryana atau yang lebih dikenal dengan Dalang Sembroli. Jika seorang Dalang selalu berada di belakang Kelir (sebuah layar kain putih berbentuk persegi panjang) untuk memainkan wayang, dalang Sembroli berani tampil dihadapan penonton bahkan melakukan interaksi dengan penonton.

    Lulusan Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini ingin ada banyak dalang-dalang muda yang mau melakukan terobosan.

    “Saya melihat ada potensi besar, ketika wayang tampil dengan kemasan inovasi. Pakem yang sudah dibuat tahun delapan puluhan, mohon izin itu ditaruh, kita membuat pakem sesuai dengan yang sekarang. Artinya bukan melanggengkan pakem yang sekarang untuk hidup seratus tahun lagi. Pakem harus selalu berubah menyesuaikan dengan kebutuhan, berinovasi,” ujar Ayah Satu anak ini.

    Jro Ardiyasa pun kembali menegaskan jika inovasi sangat diperlukan, bukan untuk merubah tetapi untuk membuat sebuah pakem yang baru. Karena menurutnya, dalam ilmu Pedalangan, ada banyak unsur yang dipelajari, mulai dari Pakeliran, Pewayangan, Pedalangan, Sastra, termasuk Teater. Sehingga untuk menarik minat penonton untuk menyukai pertunjukan wayang kulit harus pintar menggali dan menggabungkan unsur-unsur tersebut.

    “Buat penonton cinta dulu, baru mereka berminat untuk menyaksikan pertunjukkan. Berikan kesan yang hebat untuk menarik minat penonton. Dan itu memang harus dilakukan dengan berinovasi. Menyederhanakan sajian wayang, membuat orang menjadi tertarik dan cinta, baru mereka akan mendengarkan apa yang kita tampilkan dan sajikan,” tegasnya.

    Ia memiliki keyakinan jika kedepan, eksistensi kesenian wayang kulit akan semakin meningkat. Apalagi saat ini, ISI Denpasar sebagai salah satu Lembaga Pendidikan sudah berhasil mencetak banyak dalang muda. Rata-rata dalam setiap tahunnya, ISI Denpasar meluluskan 10 sampai dengan 15 Dalang.

    “Kini harus ada dalang muda yang orbit, itu cita cita saya. Harus ada dengan pola pertunjukkan yang berbeda dalam artian berbeda berkreasi dengan berlandaskan nilai nilai tradisi,” pungkas Jro Ardiyasa. |RM|

    Berita Terpopuler

    Related articles