More

    Got dan Kita

    Dalam waktu dekat pemerintah merampungkan pembangunan got sepanjang jalan Ahmad Yani, Singaraja. Warga kota tentu akan menikmati kenyamanan di musim hujan. Kawasan ini memang paling sering dilanda banjir karena memang poisisnya di “bawah”. Patut berbangga kepada aparat pemerintah yang penuh simpati kepada warganya.

    Siapapun mafhum, got digali untuk menyalurkan, baik air hujan maupun limbah cair  rumah tangga. Sebagaimana jalan, got merupakan area strategis dan ada di ruang publik dengan interaksi sosial tinggi. Karena itu, got dibangun sedemikian rupa agar aman dan tidak mengganggu pemandangan.

    Jalan terbaik adalah menutup permukaan sepanjang got itu sendiri dan disediakan “pintu” untuk akses ke dalamnya. Dengan demikian, got aman bagi masyarakat dan tidak mengganggu keindahan dan kondisi dalamnya selalu dikontrol.

    Pandangan masyarakat terhadap got menarik dibicarakan. Got biasanya dimanfaatkan langsung oleh warga yang berbatasan langsung. Mereka lebih mudah membuang limbah cairnya. Tidak membutuhkan instalasi beton atau pipa yang panjang. Namun demikian, karena got dianggap bukan milik sendiri, warga kurang bertanggung jawab. Got diperlakukan dengan  cara yang salah.

    Pintu akses got yang bisa dibuka dan ditutup digunakan untuk membuang sampah. Padahal ini untuk memelihara saluran agar tidak mampet. Sepanjang tahun musim kemarau di kota, maka sepanjang tahun ini got dilupakan atau tidak dipelihara atau bahkan sehari-hari menampung sampah yang diselundupkan secara tersembunyi pada malam hari.

    Sama dengan fasilitas umum, got harus dipelihara. Jangan sekali bikin, selesai dan sudah. Got ibarat taman yang harus selalu diperhatikan. Endapan sidimen harus dikeluarkan agar tidak menyumbat aliran air. Sampah-sampah warga yang sengaja disembunyikan di dalam lorong got  tidak boleh dibiarkan menumpuk. Akan jadi masalah pada musim hujan di kota. Air hujan tidak bisa masuk karena saluran tersumbat  kasur busa atau sampah-sampah plastik yang ukuran besar yang sengaja dimasukkan oleh warga kota yang tidak bertanggung jawab.

    Maka, untuk menghormati kerja pemerintah yang sudah menghabiskan uang rakyat untuk membangun got, maka pandangan warga terhadap got harus berubah. Got untuk saluran air dan bukan tempat buang sampah dengan cepat.

    Pembangunan got berbiaya mahal bisa sekali dilakukan dan anggaran pembiayaan untuk memelihara harus selalu disiapkan. Pemerintah tentu akan ringan mengeluarkan dana untuk pemeliharaan got jika warga masyarakat juga sadar turut serta memelihara got, dengan tidak menjadikan got tempat sampah.

    Salah satu persoalan got di kota-kota bukan karena secara fisik kurang memadai, ukurannya (lebar, kedalaman, dan kemiringannya) tetapi juga karena got itu tidak dipelihara secara rutin. Pembangunan got sebatas membangun dan tidak dipelihara dengan baik. Yang dimaksud dengan memelihara ini adalah  bagi pemerintah menyediakan dana dan tenaga agar got tetap terkontrol kondisinya sehingga saat musim hujan tetap bisa berfungsi dengan baik. Sementara itu, warga kota turut serta memelihara got dengan cara tidak membuang sampah ke dalam saluran air yang sudah tentu akan dibawa hanyut ke got-got kota.

    Warga kota  Singaraja yang biasa lewat di jalan Ahmad Yani, bisa merasakan sendiri bagaimana para pekerja membongkar aspal, menebang pohon perindang, mengamankan kabel-kabel komunikasi, menjaga instalasi air bersih. Dari pemandangan ini warga kota sudah sadar bahwa untuk membangun got sangat sulit. Alat berat digunakan untuk membongkar beton got yang sudah ada dan menggali agar badan got siap ditanam dan dirakit. Dengan demikian, got dapat jaminan aman dari masuknya benda-benda asing yang dapat menyumbatnya. Got tidak bisa berfungsi maksimal jika salurannya tersumbat. Ini satu prinsip untuk dipegang bersama.

    Karena got ini berbatasan langsung pada rumah atau toko-toko di sepanjang jalan  yang mana ada warga yang memang sangat dekat dengan got. Mereka ini harus memiliki kesadaran yang lebih bahwa got ini bukan untuk dimanfaatkan semata untuk kepentingan pribadinya. Got ini harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Misalnya, secara rutin memperhatikan kondisi got dan mau membuka pintu akses terdekat dengan tempat tinggalnya. Jika ada masalah yang serius dapat melaporkan ke dinas yang berwenang, diantaranya Dinas Pekerjaan Umum atau Dinas Pertamanan dan Kebersihan.

    Kepedulian warga kota ini sangat dibutuhkan oleh pemerintah karena memberi informasi yang tepat mengenai permasalahan yang dihadapi oleh got sehingga tidak berfungsi dengan baik. Jangan ada pandangan bahwa got yang di depan mata  adalah milik umum dan tidak ada sangkut paut dengan urusan pribadi. Di sinilah sikap peduli-lebih warga dibutuhkan. Apa sih sulitnya untuk melihat dan memastikan, masalah-masalah apa yang muncul setelah got dibangun lalu menyampaikan kepada pemerintah. Pelaporan yang dilandasi niat baik ini sangat mudah dilakukan era digital ini dan dalam waktu cepat mendapat perhatian bersama.

    Setelah got di kota Singaraja selesai, kawasan bawah kota ini, dimana jalan Ahmad Yani terbentang dari barat hingga timur (berbatasan dengan lampu merah jalan Pramuka) pastilah warga kota tidak lagi disibukkan oleh luapan air di hampir sepanjang titik jalan. Tentu saja hal itu harus disertai dengan pengertian bersama bahwa tantangan pembangunan got bukan pada membangunnya tetapi pada waktu panjang setelah selesai dan diserahkan kepada publik. Publik harus ikut serta membantu mengawasi keadaan got.

    Biasanya baru ribut saat musim hujan ketika air tumpah ruah di jalan. Baru sibuk mengutak-atik got. Hal ini tidak ada gunanya. Jika warga kota ingin tenang dan nyaman ketika musim hujan, maka got harus dihormati dan disayangi. Ia ditutup bukan untuk menyembunyikan sampah-sampah dengan aman tetapi demi kemanan. Karena, got biasanya dalam sehingga sangat membahayakan masyarakat.

    Sementara itu, masyarakat di hulu, jangan lagi membuang sampah di saluran air terdekat karena akan dibawa ke got kota. Seberapa besarnya pun got kota dan setinggi apapun teknologi pembangunannya, got tidak sanggup menampung sampah. Tidak boleh ada sikap bahwa sampah bisa dibuang dimana saja asal tidak berserakan di halaman rumah. Sampah yang dibuang di got atau saluran air terdekat memang tampak menyelesaikan persoalan individu namun menimbulkan persoalan bersama yang lebih parah. Pada konteks ini benar adanya, masalah besar atau masalah masyarakat ternyata bersumber dari berbagai permasalhan kecil skala individu dan rumah tangga. Agar tidak terjadi maka masalah individu atau rumah tangga harus dibabat. Mata rantai masalah akan terputus.(*)

    Penulis : Dr. I Wayan Artika, S.Pd., .Hum. (Dosen Undiksha, Pegiat Gerakan Literasi Akar Rumput pada Komunitas Desa Belajar Bali, Kontributor koranbuleleng.com)

    Berita Terpopuler

    Related articles