More

    Ragam Ukiran Buleleng : Sepeda, Pesawat Terbang PD II, Mobil dan Dolphin

    Ukiran di Pura Beji , Desa Sangsit |FOTO : arsip koranbuleleng.com|

    Memahat adegan erotis, penyiksaan di neraka, pesta pora para dewa di angkasa adalah adegan-adegan lumrah di atas relief candi, pura, atau tembok kuburan.

    Itu sebentuk hegemoni kepada para pemahat (undagi/sangging). Pun para tukang ukir di Bali. Mereka mempersembahkan keindahan kepada publik dan dewa-dewa. Mereka tiada pernah bebas dari pakem dan tema, bagian transmisi teks dan hegemoni epik India. Dimana-mana tembok pura dipenuhi oleh kisah-kisah Mahabarata atau Ramayana. Tidak ada ruang bagi tema-tema lokal. Inilah yang ditepis oleh egaliterisme Buleleng untuk menawar kuasa dan hegemoni epos India.

    Di Bali Utara terjadi perkecualian besar, wilayah kultur yang dipandang tak penting oleh Bali Selatan sehingga antropolog Clifford Gertz menyatakan sebutan Den Bukit adalah representasi yang meremehkan. Ian Caldwell ketika menulis Pandji Tisna menyebut Bali Utara tumbuh menjadi kosmopolitan.

    Di wilayah “sebelah sananya bukit” arti kata Den Bukit, para undagi atau sangging berkarya dengan material lokal, paras abasan (digali di Desa Abasan, Sangsit). Ada yang sekeras batu andesit. Sebaliknya pada umumnya sangat lembut. Paras abasan beraneka warna, hitam, hijau, merah, kuning, abu-abu. Bangunan-bangunan tua pura Manasa kaya warna paras abasan. Di sini jejak warna geologi masih bisa dinikmati.

    Pada periode penggalian tertentu ketika sebuah desa membangun pura dan memesan paras ke rumah para juru tambang maka harus siap menerima jenis paras manapun yang didapat. Jenis paras yang ditambang bergantung pada areal galian. Jika pas pada areal yang keras maka inilah jenis paras yang diambil. Keterbatasan tenaga dan teknologi tidak memungkinkan para penambang bekerja ekstra. Karena itu, pura-pura di kawasan Desa Sangsit, Bungkulan, dan Kubutambahan memiliki variasi material. Ini bergantung pada jenis paras mana yang bisa ditambang ketika sebuah pura dibangun.

    Para situ diukir dengan spirit egaliter ala Den Bukit. Mereka bebas dan bergeming untuk tunduk pada kuasa epik sebagaimana di Bali Selatan.

    Buat mereka ada hal lain yang sangat penting untuk dipahat yakni sejarah kontemporer atau realitas hidup. Mereka melepaskan diri dari alam mitologi epos. Maka lahirlah dari tangan para sangging atau undagi Den Bukit pahatan lelaki belanda naik sepeda. Relief ini sangat terkenal di seluruh dunia. Laki-laki di atas sepeda itu adalah W.O.J. Nieuwenkamp (1874-1950). Seniman asal Belanda ini memiliki nama lengkap Wijnand Otto Jan Nieuwenkamp. Nieuwenkamp merupakan seniman Eropa pertama yang menjejakkan kakinya di Bali.

    Selain itu, ada wisatawan naik mobil, adegan penyerbuan yang dilakukan dengan pesawat capung PD II, mirip dengan bagian awal film Pearl Harbour. Relief ini dipahat di Pura Dalem Desa Jagaraga. Pelancongan Eropa jalan terus di antara bayang-bayang perang dunia. Bagi Desa Jagaraga, adegan perang punya makna khusus karena sejarah mencatat satu perang penghabisan yang terjadi di desa ini, Pupuatan Jagaraga. 

    Tentu, pada periode selanjutnya, melewati masa kolonial, awal kemerdekaan, keruntuhan Presiden Soekarno, hingga puncak ledakan bom industri pariwisata Bali, hadirlah sosok ikan lumba-lumba atau dolpin dalam ragam hias Buleleng. Hal ini memang tak ada kaitan dengan sejarah politik tetapi karena lumba-lumba ikon pariwisata Buleleng, khususnya identik dengan satu atraksi pariwisata di Lovina dan sekitarnya, dolphin trip.

    Ketika Medua Karang dibangun, melintas laki-laki Belanda naik sepeda. Tidak pernah dijelaskan, bagaimana muasalnya sosok pelukis Belanda itu abadi di Pura Medue Karang.  Relief ini sangat terkenal dan legendaries, ikonik  egaliterisme Buleleng. Akhir-akhir ini juga menarik perhatian pemerintah setempat, dengan mereproduksi “orang Belanda naik sepeda” menjadi back drop. Sangat luar biasa: Buldog! Demikian juga sebuah konferensi internasional lintas budaya di Undiksha menggunakan relief tersebut sebagai gambar tema digital.  Mahasiswa Seni Rupa Undiksha pernah mereproduksi di atas lempengan terakota yang dibakar di tungku sekam perajin payuk (gerabah) Desa Banyuning.

    Pura Dalem Jagaraga menawarkan hal lain yakni adegan Perang Dunia II, masih terkait dengan sejarah penaklukan dan perang antara Belanda dan rakyat Jagaraga di masa lalu. Masih di pura ini, wisatawan dipahat naik mobil sedan sangkur. Rupanya perang dan traveling atau melancong tetap bisa jalan bersama.  Para sangging atau undagi Buleleng berkarya bukan hanya untuk memperindah pura tetapi memotret sejarah, warisan abadi kepada anak cucu.

    Perang dunia berakhir, bangsabangsa di Asia dan Afrika merdeka, pemerintahan berjalan semakin baik, kini dunia negara ketiga berbenah. Salah satu berkah kemajuan bagi Bali semasa Orde Baru adalah ledakan bom industri pariwisata sepanjang dekade 1980-an.  Identitas pariwisata Bali terus digali hingga tidak hanya barong atau mata penari legong yang membelalak atau bunga jepun atau kembang sepatu yang tersunting di telinga, tetapi juga hampir semua daerah menemukan ikon yang lebih lokal, seperti makepung (Jembrana), okokan (Tabanan), Perang Pandan (Karangasem), lukisan kamasan (Klungkung), Ubud (Gianyar), tengkorak (Bangli), dan dolpin (Lovina, Buleleng).

    Ketika itulah Lovina seperti baru menemukan sang ikon, lumba-lumba. Dari sinilah muasal hadirnya dolpin dalam ragam hias. Namun tidak lagi dipahat di atas paras abasan karena bias melela (bijih besi) ditemukan di Pantai Tejakula (pada awalnya), sebagai material baru.

    Para undagi atau sangging Buleleng telah memperkaya khazanah ragam hias yang tidak hanya melulu soal mitologi dan kuasa epik Hindu India tetapi sikap egaliter yang Buldog itu telah menyumbang kreativitas yang sangat kaya dan menggelitik estetika: dari laki-laki naik sepeda, pesawat capung PD II, traveler naik mobil sedan sangkur, hingga dolpin.(*)

    Penulis : Dr. I Wayan Artika, S.Pd., .Hum. (Dosen Undiksha, Pegiat Gerakan Literasi Akar Rumput pada Komunitas Desa Belajar Bali, Kontributor koranbuleleng.com)

    Berita Terpopuler

    Related articles