More

    Kisah Heroik Perlawanan Orang-orang Buleleng Terhadap Kolonial

    Perlawanan Rakyat Bali Terhadap Belanda (1846-1849) |FOTO : Internet|

    Singaraja, koranbuleleng.com | Berbicara tentang Buleleng tentu banyak yang dapat kita tuangkan. Keadaan Buleleng yang ada pada saat ini tidak terlepas dari sejarah yang ada sebelumnya. Seperti semboyan dari. Soekarno menyebutkan “Jasmerah” yang artinya Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah. Ini pun berlaku bagi masyarakat Buleleng yang tak pernah lupa bagaimana sejarah Perlawanan Bali Utara pada Peperangan Jagaraga dan Banjar melawan kolonialisme Belanda.

    Buleleng yang terkenal dengan daerah yang keras dan heroik pada saat ini memang sebuah ciri khas yang diwariskan dari para leluhurnya. Akademisi dari Undiksha,  Drs. I Made Pageh, M. Hum, mengatakan dulu sebelum Indonesia merdeka, sisi Heroisme masyarakat Buleleng di masa lalu sangat disegani dan ditakuti oleh pemerintah kolonial Belanda maupun yang lain ketika menyaksikan Bali yang menjadi daerah satu-satunya pada saat itu sebagai Kerajaan yang nampaknya kecil tetapi memiliki peran yang besar dari dalam perlawanan menantang kolonialisme Belanda. Semangat kepahlawanan ini bahkan mampu menggegerkan pusat pemeritahan Indonesia (Jakarta) yang saat itu bernama Batavia.

    Sebagai daerah yang berada di pantai Utara Bali, Buleleng memiliki kawasan pantai yang sangat luas dan terbuka pada daerah yang sesungguhnya merupakan daerah pusat kekuasaan kolonialisme. Pantai Utara Bali ini berhadapan dengan Singapura dan termasuk Brunei Darussalam yang menjadi pusat kekuasaan Inggris di Asia dan Filipina merupakan pusat kekuasaan Amerika, serta negara-negara lain yang terbuka dihadapannya.

    Pantai Utara Bali yang begitu terbuka terhadap pengaruh luar, baik pengaruh politik, ekonomi, budaya, termasuk agama yang sebagian besar datang dari pantai Utara Bali serta dengan adanya pusat peradaban atau kekuasaan di pantai Utara Bali membuat kemajuan perdagangan di pantai Utara Bali pada saat itu. Hal inilah yang membuat para pedagang dari luar terbuka untuk datang ke pantai Utara Bali sejak lama.

    Terbukanya daerah Pantai Utara Bali terhadap kapal asing yang melawati pantai Utara Bali, maka di tahun 1840-an berkali-kali datang kapal yang berbendera Inggris masuk pelabuhan ke pantai Utara Bali melalui Pelabuhan Buleleng. Kejadian ini yang menjadikan sebuah kekhawatiran Belanda sebagai orang Eropa yang merasa menguasai Bali pada saat itu. Oleh karena itu jalur yang ada pada pantai Utara Bali ini terus digunakan sebagai penyeberangan ke Australia melalui Selat Bali yaitu melalui Mataram di Lombok Barat oleh Inggris.

    Jalur ini adalah jalur yang sangat populer dan bisa dilalui oleh kapal besar serta jalur tersingkat dilalui oleh perjalanan kapal Inggris terutama dari Singapura, Surabaya, Bali Utara Buleleng, Lombok Barat (Empenan), dan terakhir Australia.

    Kegelisahan dan kekhawatiran Belanda semakin memuncak ketika pada saat itu adanya sebuah wacana mengenai Inggris yang seolah-olah ingin menjadikan Singajara sebagai Singapura kedua. Akhirnya Belanda tergesa-gesa menguasai pantai Utara Bali dengan jalan mengubah perjanjian persahabatan seperti perjanjian kontrak, yang menjadikan Kerajaan Buleleng seolah-olah melanggar perjanjian kontrak dengan Belanda. Awalnya perjanjian itu hanya perjanjian persahabatan perdagangan.

    Permasalahan yang dibuat Belanda untuk menguasai pantai Utara Bali diperkuat dengan adanya sebuah peristiwa di pantai Utara Bali dan di pantai Bali lainnya yaitu peristiwa kandasnya kapal Belanda di pantai Sangsit. Dulu berlaku aturan hak tawan karang. Sesuai dengan aturan Hak Tawan Karang, yang mana kapal yang terdampar di Pantai Bali seluruh isi kapal akan diambil sedangkan kapal dan nakhodanya dipulangkan.  Aturan Hak Tawan Karang sesungguhnya sudah lama dilakukan, karena adanya keinginan terselubung dari pihak Belanda maka ini dijadikan sebuah persolan dan Belanda tidak terima bahwa kampal yang terdampar di Pantai Sangsit di ambil oleh masyarakat Bali, alih-alih dari tujuan Belanda untuk menguasai pantai Utara Bali. Itulah sebagai alasan mereka untuk melakukan penyerangan terhadap Kerajaan Buleleng di tahun 1846.

    Pada saat terjadinya sebuah penundukan di Singaraja oleh Belanda pada tahun 1846, sesungguhnya I Gusti Ketut Jelantik sebagai Patih Kerajaan Buleleng tidak bisa berbuat apa-apa karena dia sudah masuk perangkap Belanda dan menandatangani penyerahan itu. Tetapi hal ini tak membuat I Gusti Ketut Jelantik diam, dia pun sesungguhnya melakukan perlawanan dengan jalan keluar dari kota Singaraja dan membuat benteng baru di Jagaraga. Jelantik membuat perkampungan di daerah tersebut dengan bantuan hampir di seluruh kerajaan Bali terutama kerajaan Karangasem, Tabanan, dan Klungkung yang banyak memberikan bantuan baik berupa logistik maupun sumber daya manusia untuk dijadikan tentara.

    Terbentuklah Pertahanan Benteng Jagaraga dengan menggunakan alam sebagai daerah pertahanan dan memanfaatkan pelinggih-pelinggih (Pura) sebagai tempat persembunyian laskar untuk bisa keluar apabila penjajah datang. Pada saat itu dengan kesederhanaan alat mereka mampu berkordinasi terkait strategi yang disebut Supit Urang. Yang mana pihak Jagaraga diibaratkan sebagai Supit Undang yang mampu mengakomordir kemapuan memanfaatkan titik-titk daerah yang sangat sulit dijangkau untuk bisa dijadikan tempat pertahanan.

    Belanda yang pada saat itu menguasai Buleleng, Bali terusik dengan strategi serta persiapan yang telah dilakukan oleh I Gusti Ketut Jelantik bersama warga Jagaraga. Oleh karena itu pada tahun 1848 terjadi peristiwa Perang Jagaraga I, dan Jagaraga pada saat itu menang total dari pasukan penjajah Belanda karena mampu menewaskan 250 serdadu Belanda. Kemengan inilah yang membuat I Gusti Ketut Jelantik menjadi seorang pahlawan. Namun setahun setelah kejadian Perang Jagaraga ke I, di tahun 1849 Belanda datang kembali untuk melakukan penyerangan kedua yang dikenal sebagai Perang Jagaraga II.

    Pada saat itu Belanda kembali membawa pasukan yang lebih besar, itu mengakibatkan benteng Jagaraga runtuh. Pada saat peristiwa itu terjadi, I Gusti Ketut Jelantik sesungguhnya sudah tidak ada di Jagaraga. Ia sudah balik ke Karangasem karena di negosiasi oleh Kerajangan Karangasem dengan dua pilihan. Jelantik tetap berjuang di Singaraja atau Karangasem hancur. Dengan berat hati, terpaksa Jelantik pun harus meninggalkan Jagaraga dan balik ke Karangasem.

    Keputusan itu memantik banyak isu spekualtif kala itu.  Ada yang mengatakan Jelantik sudah mengacaukan desanya, namun ada juga kabar bahwa dia terbunuh dalam perang pada tahun 1849. Isu lain juga memuncak tanpa kebenaran, diantaranya ada juga yang mengatakan Patih Jelantik dibunuh oleh rakyatnya karena kekecewaan dari kekalahannya melawan Belanda serta mengisukan Jelantik bunuh diri akibat desakan keluarga dan Raja Karangasem. Isu-isu ersbeut belum bisa dibenarkan sampai saat ini.

    “Bahwa opini atau isu-isu yang terjadi pada saat itu hanya sebuah bentuk yang sifatnya spekulatif.” terang Pageh saat mengisi dialog di podcast di STAH Negeri Mpu Kuturan, Senin 6 September 2021.

    Hal yang pasti terjadi pada saat itu adalah, ia pulang ke Karangasem dan perang Jagaraga II dipimpin oleh Jro Jempiring. Jadi di Jagaraga, kala itu ada dua kepemimpinan. Kebetulan saja karena I Gusti Ketut Jelantik dan Jro Jempiring merupakan suami-istri. Tanpa Jro Jempiring Perang Jagaraga II tidak akan ada peristiwa Puputan Jagaraga. “Karena pada saat melawan Belanda Jro Jempiring benar-benar melakukan perang dengan Belanda sampai habis-habisan, bisa disebut sampai titik darah penghabisan.” terangnya.

    Sepuluh tahun kemudian, pada tahun 1858 muncul geger baru lagi yaitu geger di Buleleng atau tokoh besar yang sesungguhnya bernama Nyoman Gempol sebagai Punggawa Banjar Jawa. Ia melakukan negosiasi kepada rakyat dan melakukan perjuangan kembali untuk melawan Belanda yang dipandang congkak dan melanggar nilai budaya Bali. Maka dari itu di tahun 1858 terjadi peristiwa besar di Singaraja dan Nyoman Gempol dibuang ke Padang. Jejaknya pun masih ada sampai sekarang di dunia maya terdapat sisa perkumpulan mereka yang bernama Setia Hati.

    Nyoman Gempol itu asal usulnya dia adalah pemilik anak-anak yang menentang Belanda. Trah dari Nyoman Gempol lah yang mempunyai anak-anak pejuang di Bali Utara, diantaranya Jro Jempiring, Jro Ratna, istri dari Punggawa Sukasada I Gusti Ngurah Raka, dan ketiga adalah istri Ida Made Rai yaitu Jro Banjar. Inilah sesungguhnya sampai sekarang masih dipuja beberapa  yang berada di Desa Banjar Jawa oleh orang-orang keluarga Juman yaitu di sebelah Selatan Bale Banjar, Banjar Jawa terdapat dua kelompok pengikut yang disebut Kidongsot dan Kidungpiung, yang bertugas sebagai penjaga Kris yang dibawa Panji Sakti.

    Lanjut dari cerita perjuangan Bali Utara dalam melawan Kolonialisme Belanda dituturkan oleh I Made Pageh, pada bukunya yang berjudul Geger Batavia Perlawanan Ida Made Rai Dalam Menentang Kolonialisme Belanda di Bali Utara menceritakan bagaimana Perang Banjar terjadi pada tahun 1868. Ida Made Rai ini adalah tokoh panutan di Banjar. Banjar merupakan sebuah Griya tapi berfungsi sebagai Punggawa.

    Kepunggawaan Banjar memiliki sumber ekonomi pelabuhan Temukus, dan pelabuhan Temukus menjadi urat nadi perekonomian Griya Banjar. Tetapi Belanda berusaha mengambil alih pelabuhan itu untuk menjadikan satu dari tiga Pelabuhan yang ada di pantai Utara Bali sebagai sumber penghasilan utama perdagangan, diantaranya Pelabuhan Sangsit, Pelabuhan Buleleng dan Pelabuhan Temukus. Perdagangan itu seolah-olah menjadi ranah Belanda dan Kerajaan Buleleng saja. Tetapi karena Banjar memiliki kekuatan dan mendapat dukungan dari desa-desa tua terutama oleh daerah Sidatapa, Cempaga, Pedawa, Tigawasa, dan Banyusri, termasuk desa belakangnya seperti Gobleg, Gesing, Munduk, dan Umejero dengan pusat Tamblingan.

    Pada saat itu, semua desa-desa belakang mendukung Banjar karena mereka merupakan bagian dari kekuasaan terkait perdagangan di Temukus. Perdagangan yang ada di Temukus ini fokus memperjual belikan hasil bumi daerah interline seperti gula, kopi, kacang termasung binatang-binatang yaitu sapi dan babi.

    Jika melihat dari sosiokultural masyarakat Banjar, khususnya memang memiliki pusat perlawanan terhadap Belanda di Griya Gede Banjar. Griya Gede Banjar memang banyak memiliki tokoh-tokoh yang senantiasa menggelorakan semangat dan spirit perjuangan yang disebut sebagai spririt Surama Gada, bagaimana berjuang sampai titik darah penghabisan karena adanya sebuah kalimat “pejah ring rananggana masuk suargan” yang artinya meninggal saat berjuang bisa masuk surga. Yang membuat Banjar solid adalah tak terlepas dari tokoh Ida Made Rai, yang secara sosiokultur ia menganut sistem raja rsi bagaimana seorang Brahmana itu juga menjadi seorang pemimpin di distrik wilayah Bali Barat, khususnya di Buleleng wilayah Barat.

    Mengapa akhirnya terjadi Perang Banjar, hal ini dikarenakan adanya tujuan Belanda yang ingin menyatukan tiga pelabuhan. Sehingga Belanda ingin mengganti punggawa di Banjar yang bukan berasal dari Banjar serta bukan seseorang yang menganut paham Raja Rsi. Pada saat itu Ida Made Rai dianiaya dan dibuang ke Banyuwangi. Beberapa kali beliau meminta agar pengikutnya di ijinkan untuk ikut tetapi tak pernah dipenuhi oleh pihak Belanda. Hal inilah yang membuat masyarakat Banjar bergejolak dan melakukan perlawanan dengan dukungan daerah desa-desa yang ada di Banjar. Perang Banjar adalah perang terbesar karena terjadi peristiwa terbunuhnya tokoh-tokoh penting Belanda Kapten Lwig Stegman dan Letnan Njis beserta opsir Belanda lainnya yang kita temukan sekarang sisa penguburannya itu di daerah singsing Temukus.

    “Peristiwa Perang Banjar ini sangat luar biasa karena mampu membunuh orang-orang besar Belanda oleh rakyat-rakyat belakang yang sangat gagah berani terutama orang-orang Baliaga, yang memperjuangkan ketidakadilan pada saat itu.” ujar Made Pageh.

    “Karena Orang tidak mengerti bahwa dengan r kecil, panah kecil ya, yang sesungguhnya itu berisi jarum kecil dan menggunakan iit, lidi eno tapi isinya adalah dilengkapi dengan racun kayu getah ancar sehingga sedikit orang kena pasti mati,” tambahnya

    Pada tahun 1869 kembali ada penyerangan oleh pihak Belanda, tetapi di pelabuhan Temukus sudah berhasil dihambat oleh pasukan pemating dari laskar Banjar.

    Kekalahan Belanda yang kedua kalinya tidak membuat Belanda berhenti begitu saja. Akhirnya Kompeni meminta bantuan ke Gubernur Jendral di Batavia. Penyerbuan pun dimulai dari arah timur melalui desa Temukus dan desa Dencarik langsung ke desa Banjar dibawah pimpinan Kolonel De Braban dan Mayor Bloom. Satu persatu rakyat Banjar gugur dan Desa Banjar hancur. Pada akhirnya ibu dari Ida Made Rai diculik oleh Belanda sehingga karena adanya negosiasi dan taktik licik dari Belanda, Ida Made Rai diadili di Batavia dan menjalani hukuman seumur hidup diasingkan ke Bandung hingga ia meninggal dunia. (*)

    Pewarta : Kadek Novianti Puspa Sari Dewi

    Editor  : I Putu Nova A. Putra

    Berita Terpopuler

    Related articles