More

    Perang Banjar, Nindihin Tanah Pelekadan Dengan Spirit Sura Magada

    Perlawanan rakyat Bali terhadap kolonial di masa lampau |Ilustrasi foto: Internet|

    Singaraja, koranbuleleng.com| Bulan September adalah momentum dari peringatan Perang Banjar. Sebuah perjuangan masyarakat Buleleng khususnya di Distrik Barat untuk mengusir Kolonial Belanda di tahun 1868 silam. Melalui spirit Sura Magada, perang dilakukan untuk mempertahankan tanah kelahiran atau yang dikenal dengan nindihin tanah pelekadan.

    Sosok Pemimpin dalam Perang Banjar itu adalah Ida Made Rai. Beliau berasal dari Griya Gede Banjar yang berada di dusun Melanting, Desa Banjar, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Griya itu juga  merupakan tempat tinggal bagi keturunan wangsa Brahmana Kemenuh yang sudah cukup tua dan mengalami rentang perjalanan sejarah yang sangat panjang.

    Ida Bagus Wika Krishna

    Kala itu, ditahun 1868 silam, Ida Made Rai memimpin pasukan untuk mengusir Belanda. Ida Bagus Wika Krishna yang merupakan generasi kelima dari Pemimpin Perang Banjar, Ida Made Rai menjelaskan, terjadinya Perang Banjar tidak terlepas dari misi pembalasan pasca terjadinya Perang Jagaraga. Penjajah kala itu berhasil merebut kemenangan dari kepemimpinan pasukan I Gusti Ketut Jelantik pada tahun 1848 dan Jro Jempiring di tahun 1849.

    “Memang menjadi basis dari perlawanan masyarakat untuk melawan Belanda pasca kemenangan Belanda itu, maka masyarakat khususnya masyarakat basis Barat masih belum menerima kekuasaan Belanda sehingga dilanjutkan dengan perang Banjar yang terjadi pada tahun 1868,” jelasnya pada Senin 6 September 2021.

    Diceritakan, salah satu spirit yang diusung Ida Made Rai dalam memimpin perang saat itu adalah Sura Magada. Bagaimana beliau membangkitkan keberanian Laskar Banjar untuk berperang guna mempertahankan semua hal yang berkaitan dengan tanah kelahirannya.

    “Istilahnya nindihin tanah pelekadan, bagaimana tanah pelekadan itu menjadi tanah sakral dan memang harus dipertahankan sampai titik darah penghabisan,” lanjut Pria yang akrab disapa Gus Wika ini.

    Nilai-nilai kepahlawanan, keberanian dan semangat itulah yang kemudian selalu diperingati setiap tahun. Peringatan Perang Banjar dilakukan sebagai momentum untuk menggali kembali kisah heroik masa lalu yang kini semakin tenggelam. Terebih, sejarah kisah heroik ini tidak tercatat dalam prasasti. Beruntung masih ada geguritan yang bisa menjelaskan bagaimana Perang Banjar berkecamuk. Seperti Geguritan Rusak Banjar, Geguritan Uug Banjar dan Geguritan Banjar.

    “Ada rasa kegundahan bagi kami, jangan sampai kisah heroik ini menjadi hilang di kalangan generasi muda. Sehingga kami ingin membangun kesadaran dan ingatan publik bagaimana perjuangan para leluhur terdahulu mempertahankan sejengkal tanah dari para penjajah,” kata Gus Wika.

    Tanggal 20 September kemudian ditetapkan sebagai waktu peringatan Perang Banjar. Tanggal itu dipilih karena saat itulah Perang Banjar terjadi. Di tahun 2019 lalu, merupakan kali pertama Perang Banjar diperingati. Saat itu, dukungan langsung datang dari mereka yang tidak lain adalah keturunan dari Ida Made Rai (pemegang kekuasaan distrik Banjar), Ida Made Tamu, Ida Nyoman Ngurah, Ida Made Sapan, Ida Made Kaler, I Dade, I Kamasan, Ni Belegug, Kumpi Nari, I Made Guliang, Ida Made Gunung.

    Bahkan pimpinan tersebut tidak hanya berasal dari Banjar. Ada juga dari Desa Sidatapa dan Cempaga. Dukungan tak hanya datang dari para penglingsir. Juga dari para pemuda yang merupakan pewaris pemimpin Perang Banjar.

    “Perang Banjar bukan peringatan Desa Banjar semata. Tetapi masa lalu Banjar adalah Ibu Kota Buleleng barat. Sehingga bisa disebut sebagai perang kedistrikan Banjar,” kata Gus Wika.

    Dalam perjuangannya melawan Belanda, Ida Made Rai memiliki senjata pusaka bernama Ki Lebah Pangkung. Beberapa sahabat seperjuangannya pun memegang senjata pamungkas. Seperti Ida Made Tamu yang memegang Keris Ki Baru Kuping dan Tombak Ki Jambe Anom. Sedangkan Ida Made Kaler Keris Palu Cempeng. Selanjutnya pejuang dari Sidatapa Ni Belegug memegang Tombak Ki Lebur Capung. Ada beberapa pusaka Tombak Ki Sleseh, Karang Gilang dan sampai sekarang masih dianggap bertuah. Semua senjata tersebut diwarisi oleh keturunannya dan posisinya berpencar.

    Ida Bagus Wika Krishna yang juga seorang Akademisi di STAH Negeri Mpu Kuturan Singaraja ini mengatakan, senjata keris yang bernama Ki Lebah Pangkung saat ini tersimpan di Griya Gede Banjar, Ki Baru Kuping di simpan di Griya Dauh Margi, Banjar dan senjata tombak yang sangat utama, konon disimpan oleh Umat Hindu yang ada di Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar.

    “Biasanya situasi normal pusaka itu dikumpulkan setiap 20 september, akan diwangsuh, airnya itulah yang akan dibagikan ke masyarakat. Dengan situasi pandemi dan PPKM, kami dari pasemetonan tetap memperingati secara sederhana, 20 september sembahyang bersama dan potong tumpeng, gerakan sosial membagikan sembako di beberapa wilayah yang akan dikoordinir oleh keturunan pasemetonan,” ujarnya.

    Made Pageh

    Sementara itu Praktisi Sejarah yang juga Dosen Jurusan Sejarah Undiksha Singaraja Made Pageh saat ditemui di studio Mpu Kuturan TV menjelaskan, Perang Banjar yang terjadi pada tahun 1868 silam adalah sebuah perlawanan rakyat distrik Banjar terhadap Kolonialisme Belanda di Buleleng. Latar belakangnya adalah pemberhentian Ida Made Rai sebagai Punggawa di distrik Banjar oleh Regent atau Raja Gusti Ketut Jelantik atas perintah dari Residen Belanda di Buleleng. Kondisi itu terjadi pasca runtuhnya benteng Jagaraga di tahun 1849 dan berhasil menguasai Kerajaan Buleleng. Sehingga secara yuridis formal, Buleleng sudah jatuh di tangan Belanda.

    Pengangkatan  salah seorang putera Buleleng untuk memimpin distrik Banjar mendapat protes dari masyarakat Banjar. Karena dianggap tidak sesuai dengan tradisi masyarakat Banjar, dimana punggawa yang diangkat sebelumnya merupakan keturunan Brahmana dari Banjar.

    Puncaknya, pada tanggal 20 September 1868 meletuslah Perang Banjar, diawali dengan pemerintah Belanda mengirim pasukannya dibantu oleh lascar Kerajaan Buleleng. Serangan pertama ini dapat diantipasi oleh Ida Made Rai. Ida Made Rai menyiagakan seluruh laskar Banjar yang disukung oleh desa-desa Bali Aga untuk menghadang serangan pasukan Belanda dan pada akhirnya pecahlah pertempuran antara pasukan Belanda dengan laskar Banjar yang dipimpin Ida Made Rai.

    Pertempuran sengit ini terjadi di daerah Dencarik,  Belanda tidak menduga dengan aksi kegigihan dan keberanian laskar Banjar serta didukung oleh laskar Bali Aga yang menyebabkan Letnan Stegmen, de Njis, de Bode dan puluhan serdadu Belanda gugur dalam perang pertama itu. Hal ini menggegerkan Batavia pusat Pemerintahan Kolonial Belanda.  

    Gugurnya Letnan Stegman dan Nijs bersama 20 serdadu Belanda di Temukus pun ditandai dengan dibangunnya monument oleh Hindia Belanda. Monumen setinggi delapan meter berbentuk segiempat itu hingga kini masih berdiri kokoh di Desa Temukus.

    “Dulu penguburannya di daerah singsing Temukus. Kemudian monumennya kemudian dibawa naik ke bagian atas karena dikhawatirkan bagian bawah itu bisa terancam abrasi,” tutur Made Pageh.

    Pada tanggal 3 Oktober 1868 dilancarkan serangan kedua kalinya. Dalam serangan kali ini, pasukan Belanda mendapat bantuan 1500 pasukan tambahan dari Raja Buleleng, serta 800 orang pasukan tambahan dari Perbekel Pengastulan dipimpin Wayan Tragi.

    Meski begitu, rencana serangan ini pun berhasil dipatahkan, karena laskar Banjar di bawah pimpinan Ida Made Rai melakukan aksi serangan dadakan ke pertahanan musuh  di Temukus. Ketika pasukan Belanda lengah dan tidak menduga aksi serangan akan dilakukan oleh laskar Banjar ke daerah Temukus tempat konsolidasi dan pemusatan pasukan, sehingga pasukan Belanda Kocar-kacir tidak terkendali menyelamatkan diri yang menyebabkan komando pengendalian pasukan Belanda terputus. Laskar Banjar bertempur dengan semangat bergelora bersenjatakan senjata tradisional seperti keris dan tombak terhunus.

    Made Pageh Melanjutkan, tepat pada tanggal 23 Oktober 1868, serangan Belanda dilancarkan dengan menembakan meriam-meriam lapangan dan meriam dari tiga kapal perang dan melakukan serangan dari Pantai Banjar.

    Kapal Belanda Bromo, Cyclop dan Mary gencar memuntahkan pelurunya ke pusat pertahanan Banjar. Salah satu tepat mengenai dinding pemedal dan mengakibatkan kebakaran pada bangunan sekitarnya. Hingga kemudian, pasukan marinir Belanda merangsek bergerak menembus pagar betis pertahanan. Pergerakan pasukan Belanda yang melakukan serangan ke pusat Griya Gede dihadang oleh penduduk lain yang bersembunyi di dinding pagar dan lorong-lorong dengan serangan lemparan batu dan benda-benda keras lainnya .

    Pertaruhan harga diri dilakukan puluhan orang laskar pemating berjuang mempertahankan Geria Gede dengan semangat berkobar dan keberanian luar biasa walau hanya bersenjatakan keris dan tombak harus berhadapan, dengan ratusan serdadu Belanda. Serangan peluru dan senjata yang lebih modern menghujani dada para pejuang laskar Banjar satu persatu roboh berguguran.

    Dalam pertempuran itu, Ida Nyoman Ngurah, I Made Guliang dan beberapa pimpinan pasukan dan Laskar Banjar meninggal di Bencingah Griya Gede Banjar, karena mereka adalah pimpinan pasukan inti yang menjaga dan mempertahankan Griya Gede Banjar.

    Karena kekalahan senjata, kemudian Ida Made Rai bersama Ida Made Tamu, Ida Made Kaler, Ida Made Sapan, I Dade, I Kamasan dan Ni Belegug mengungsi dan melakukan gerilya di daerah Den Kayu Mengwi.

    Belanda yang tak kehilangan akal akhirnya menculik Ibu Ida Made Rai yang bernama Ida Pedanda Istri Sinuhun Padmi. Akhirnya lewat negosiasi, Belanda melepaskan Ibu Ida Made Rai, namun harus mengikuti keinginan Belanda untuk ditahan di Bandung. Saat momen perpisahan itulah Ida Made Rai menyerahkan senjata pusaka Keris Ki Lebah Pangkung kepada kedua anaknya untuk dititipkan di Puri Klungkung.

    “Perang Banjar ini perang terbesar. Peristiwa ini luar biasa, bisa menggugurkan orang orang besar Belanda. Mereka memperjuangkan ketidakadilan pada saat itu,” kata Made Pageh.

    Dengan melihat perjuangan Ida Made Rai tersebut, Pageh sangat berharap itu dijadikan tauladan oleh generasi muda saat ini, dengan melihat semangat dari perjuangan saat melawan penjajah Belanda dahulu.

    “Agar generasi muda kedepan bisa mengerti mengingat dan menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam perjuangan Ida Made Rai,” harapnya. (*)

    Pewarta  : Putu Rika Mahardika

    Editor      : I Putu Nova A. Putra

    Berita Terpopuler

    Related articles