More

    Legenda Kopi Banyuatis Konsisten Pertahankan Cita Rasa Tua

    Karyawan pabrik kopi Banyuatis saat memproduksi kopi |FOTO : Edy Nurdiantoro|

    Singaraja, koranbuleleng.com | Jalur lalu lintas di Ruas jalan SIngaraja – Gilimanuk, tepatnya di Desa Pemaron, tampak padat. Dari arah Singaraja, proyek perbaikan saluran air di ruas jalan tersebut membuat kendaraan harus berjalan pelan.

    Di ruas jalan itulah, salah satu pabrik kopi tertua di Bali, Kopi Banyuatis membuka pabriknya hingga kini. Di depan kantornya, juga kini dibuka semacam kedai sebagai etalase dari produk kopi asli Buleleng ini.

    Di Desa Munduk, Kecamatan Banjar. Desa ini terletak di wilayah pegunungan, bertetangga dengan Desa Banyuatis. Di Desa Munduk, Kopi Banyuatis juga mendirikan kedai kopi yang dinamakan Ngiring Ngewedang. Lokasi kedai ini memang cukup nyaman sebagai tempat ngopi di wilayah pedesaan. Hamparan pegunungan diselimuti perkebunan cengkeh, terlihat luas dari lokasi itu. Desa Munduk juga terkenal dengan perkebunan kopinya, sama seperti di Desa Banyuatis dan desa-desa sekitarnya.

    Kedai dengan konsep kekinian kini menjadi sebuah etalase lain bagi sebuah pabrik kopi karena akan secara langsung menjadi identitas dengan eksistensi produk kopi Banyuatis.

    Kopi Banyuatis ini dikelola secara turun-temurun oleh pihak keluarga. Kopi Banyuatis, saat ini dikelola oleh Gede Pusaka Harsadina, anak dari almarhum Ketut Englan. Mendiang Englan juga nama yang tersohor di Buleleng, selain sebagai pengusaha, semasa hidupnya dia juga seorang seniman dan budayawan yang bersahaja. Pria sederhana itu sangat getol melestarikan keseniaan dan budaya khas Buleleng. Semasa hidupnya, mendiang Ketut Englan juga pernah terjun dalam dunia politik dan pernah menjadi salah satu calon wakil Bupati Buleleng.

    Englan juga sebenarnya mewarisi usaha ini dari tetua sebelumnya. Kopi Banyuatis sampai kini masih menyimpan banyak nostalgia bagi para pencinta kopi. Sebagai salah satu pabrik serbuk kopi tertua di Bali, manajemen Kopi Banyuatis melalui CV Pusaka Bali Persada masih mempertahankan dua unit mesin tua untuk proses roasting kopi.  Mesin roasting pabrikan negara Jerman tersebut diperkirakan dibuat tahun 1945.

    Mesin roasting kopi buatan Jerman yang masih dilestarikan oleh manajemen Kopi Banyuatis|FOTO : Edy Nurdiantoro|

    Beberapa hari yang lalu, wartawan koranbuleleng.com berkesempatan mengunjungi proses roasting kopi dengan menggunakan mesin tua tersbeut. Mesin setinggi tiga meter di ruang 10×10 meter itu mampu menghasilkan serbuk kopi hingga 1 ton setiap harinya.  Memasuki ruang produksi, aroma wangi khas kopi Banyuatis sangat terasa di hidung.

    Gede Pusaka, pemilik usaha ini kebetulan adadipabrik saat itu. Dia menuturkan masih mempertahankan dua mesin roasting konvensional ini, karena sesuai dengan brand Kopi Banyuatis yang merupakan salah satu produk kopi tertua di Bali.

    Pria berusia 45 tahun ini pun mengaku dari segi operasional, mesin roasting tua ini jauh lebih boros, jika dibandingkan dengan mesin roasting modern yang sudah menggunakan bahan bakar gas.  Kayu bakar yang digunakan untuk meroasting kopi pun tak sembarangan. Hanya boleh menggunakan kayu pilihan seperti kayu kopi, cengkeh dan lainya.

    “Kalau keunggulan sulit sekali dibandingkan dengan mesin-mesin yang sekarang. Karena mesin tersebut sudah lawas. Cost nya juga lebih mahal.  Kami tetap pertahankan karena sesuai ciri kita yakni perusahan kopi tua. jadi sebagai ciri bahwa kopi kita sudah tua,” tuturnya

    Sehari, mesin tua ini mampu berproduksi tiga kali. Sehingga rata-rata produksi per harinya bisa mencapai satu ton. Sejauh ini bahan baku Kopi Banyuatis didapat dari petani kopi lokal Buleleng, Bangli dan Tabanan. Selain memenuhi pasar lokal Bali, kopi Banyuatis juga mulai menjajal pasar ke Lombok.

    De Saka, sapaan akrabnya, kembali bercerita awal mula adanya Kopi Banyuatis. Dimana kopi banyuatis merupakan warisan Kakek buyutnya yang kemudian diwarisi kakeknya De Saka bernama Putu Dalang.

    Sekitar tahun 1950, Putu Dalang berinisiatif untuk mencoba pengolahan biji kopi menjadi serbuk, untuk mendapatkan nilai jual yang lebih tinggi. Kemudian sekitar tahun 1975 itu mulai memberi brand Banyuatis.

    “Kemudian peminatnya semakin banyak. Sehingga produksinya pun bertambah. Kami memutuskan untuk membeli mesin roasting yang lebih besar. Sebelum itu, kami menggunakan drum,” ucap De Saka

    De saka mengakui, meski di tengah pandemi produksi dan pemasarannya sama sekali tak terpengaruh, karena dari awal produksi kopi Banyuatis diperuntukkan untuk rakyat.(*)

    Pewarta : Edy Nurdiantoro

    Editor : I Putu Nova A.Putra

    Berita Terpopuler

    Related articles