Ganies Esa Manura Getol Tumbuhkan Rasa Toleransi

Singaraja, koranbuleleng.com| Ganies Esa Manura, Ia adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Negeri Mpu Kuturan Singaraja. Pria berkacamata ini berhasil melambungkan nama Perguruan Tinggi Hindu Negeri satu-satunya di Bali Utara ini dengan berhasil menjadi yang terbaik dalam Dharma Wacana Nasional Arjuna Digital IV Tahun 2021.

Lomba Arjuna Digital merupakan ajang lomba guna meningkatkan kreativitas anak muda Hindu sekaligus mendukung lahirnya konten kreator. Tahun 2021 Lomba Arjuna Digital memasuki tahun keempat diselenggarakan oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama RI. Lomba Arjuna Digital sendiri memiliki beberapa kategori lomba salah satunya Dharma Wacana.

- Advertisement -

Melalui lomba tersebut, Ganies Esa Manura berhasil meraih Juara pertama dalam Lomba Dharma Wacana Tingkat Nasional Kategori Dewasa Arjuna Digital tahun 2021. Pria kelahiran Banyuwangi, 15 Desember 1999 ini berhasil menjadi juara setelah mengangkat Tema tentang moderasi beragama, melalui Dharmawacananya berjudul Internalisasi Ajaran Veda Dalam Membangun Moderasi Beragama Di Era Disrupsi.

Ganies mengaku tidak menyangka sukses menjadi Jawara. Saat itu, ia hanya berusaha tampil terbaik dengan menyajikan materi dharma wacana sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Harapannya, materi itu bisa diimplementasikan dengan sangat baik dalam kehidupan sehari-hari dengan cara menerapkan ajaran Weda yang ada seperti vasudaiva kutumbakam dan tat twam asi.

“Yang secara nyata dilakukan dengan menumbuhkan rasa toleransi dan sikap moderasi beragama. Lebih lagi di era digital banyak sekali percekcokan di medsos yang disebabkan karena suatu perbedaan diharapkan masyarakat hindu tidak mudah terprovokasi bahkan mampu menjadi mediator dalam menyelesaikan masalah yang ada,” akunya.

Dibalik kesuksesannya meraih gelar Juara Dharma Wacana Nasional, Putra Tunggal buah hati pasangan Jumani dan Asmiyah ini memang bercita-cita menjadi seorang public speaker. Kecintaannya pada dunia public speaking sudah muncul sejak Ia duduk di Bangku SMA.

- Advertisement -

Ganies juga berusaha mengembangkan kemampuannya berbicara dengan ikut sejumlah organisasi. Mulai dari Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), Ketua KPHDS (Kesatuan Pelajar Hindu Dharma SMA/SMK) Kabupaten Banyuwangi, Ketua HMPS Ilmu Komunikasi STAH Negeri Mpu Kuturan, hingga kini ia menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) STAH Negeri Mpu Kuturan Singaraja.

Berbagai kegiatan lomba juga Ia ikuti dan berhasil meraih juara. Beberapa diantaranya adalah Juara 2 Lomba Penyuluhan Koperasi se Kabupaten Banyuwangi, Juara 1 UDG menghafal sloka se Provinsi Jawa Timur, Juara 1 Lomba Dharma Wacana Mahasiswa tingkat nasional, dan Juara 2 Lomba Vlog Bung Karno Dinas Pendidikan Banyuwangi, dan beberapa kegiatan lomba lainnya.

Dan untuk mengembangkan kemampuannya dalam bidang public speaking, Ganies pun menempuh bangku kuliah dengan mengambil Program Studi Ilmu Komunikasi. Baginya, karir sebagai seorang public speaker tidak hanya terbatas pada menjadi seorang MC, Host, ataupun pembawa acara saja, namun bisa merambah pada bidang Dharmawacana. Menjadi pedharmawacana tentu memiliki nilai tambah, karena mampu digunakan untuk menyebarkan kebaikan.

“Kalau karier MC tentunya juga ingin di cari. Tapi apabila mendapat tugas atau kepercayaan masyarakat untuk dharmawacana saya selalu dengan semangat dan cinta menjalaninya. Karena dengan dharmawacana kita mampu meningkat kualitas diri pribadi dan masyarakat pada umumnya,” ujarnya.

Pria berusia 22 tahun ini tidak memungkiri jika menjadi seorang Pedharmawacana dipandang sebagai profesi yang “kuno” dikalangan anak-anak muda. Namun Ia tetap melihat pada perspektif yang berbeda. Menurutnya, inti dari Dharmawacana itu adalah berbicara dharma atau kebaikan. Yang menjadikannya “kuno” adalah cara penyampaiannya yang konvensional. Maka dari itu, Ganies pun melakukan perubahan pola dalam menyampaikan materi.

“Maka kedepan pola dharmawacana harus diubah semenarik mungkin, sederhana, mudah diterima. Untuk dharmawacana secara langsung, saya membranding diri ” Kalau saya si ganis ganteng dan manis, berkumis tipis dan berwawasan akademis,” ucapnya.

Selain itu menurutnya, materi yang juga disampaikan hendaknya mengangkat isu-isu terkini, dengan membahas sesuatu yang dekat dengan kaum milenial. Bahkan juga bisa dilakukan dengan memanfaatkan beberapa media.

“Yang terpenting itu adalah bahasa lebih di sederhanakan. Untuk konten dharmawacana, bisa ditambahkan dengan memanfaatkan media seperti short movie, penjelasan dharma wacana, lagu rohani, pantun dan lain sebagainya. Sehingga kaum milenial merasa relate dengan kehidupannya,” pungkasnya. (*)

Kontributor: Rika Mahardika

Komentar

Related Articles

spot_img

Latest Posts