Kemarau Panjang, Lahan Pertanian Cabai Berkurang

Singaraja, koranbuleleng.com| Jumlah lahan pertanian untuk tanaman cabai di Kabupaten Buleleng, mengalami penurunan drastis pada tahun 2023. Bahkan, penurunan lahan pertanian cabai terjadi hingga 500 hektar lebih atau setengahnya dari tahun sebelumnya.

Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Buleleng I Gede Subudi mengatakan, saat ini di Buleleng tercatat ada sebanyak 520 hektar lahan pertanian cabai. Jumlah tersebut jauh berkurang dibandingkan pada tahun 2022, sebanyak 1.100 hektar. Pengurangan lahan produktif cabai ini dampak dari kemarau panjang. Petani saat ini lebih banyak memilih menanam tanaman yang lebih hemat air seperti tanaman kunyit, jagung.

- Advertisement -

“Pengurangan lahan terbanyak terjadi di wilayah Gerokgak paling banyak berkurang. Ada di empat desa itu, Desa Sumberklampok, Pejarakan, Sumberkima,” ujar Subudi, Rabu, 22 November 2023.

Dari lahan-lahan pertanian cabai yang ada saat ini, hanya bisa memproduksi sebanyak 14.783 kwintal cabai. Jumlah itu diklaim dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Buleleng.

Hanya saja, para petani lebih memilih menjual cabai ke pengepul dari luar. Itu menjadi salah satu faktor yang membuat menurunnya pasokan cabai ke pasaran dan harga cabai juga tinggi.

“Dari produksi petani, untuk memenuhi kebutuhan warga Buleleng sebenarnya cukup. Tapi karena dijual ke luar. Di pengepul, harganya lebih mahal dari yang ditawarkan pemerintah. Petani pasti pilih yang beri harga lebih mahal,” kata dia.

- Advertisement -

Untuk mengembangkan pertanian cabai, Dinas Pertanian pun kini telah mendistribusikan sebanyak 100.000 benih cabai rawit merah kepada 17 kelompok tani dan subak di empat kecamatan. Yakni, empat kelompok di Kecamatan Kubutambahan, delapan di Busungbiu, dua di Kecamatan Buleleng, dan tiga di Kecamatan Sawan. Bantuan tersebut sudah di distribusikan bertahap sejak September lalu. Bantuan benih tersebut, diprediksi akan mulai berbuah pada Januari 2024 mendatang.

Kata Subudi, pemberian bantuan benih tersebut tidak ditanggung biaya perawatan. Untuk biaya pupuk dan perawatan sepenuhnya akan ditanggung petani. Nantinya jika sudah berbuah, cabai bisa dipanen hingga 20 kali. “Bantuan benih itu hanya 10 persen dari total biaya produksi perawatan dan tenaga yg mereka keluarkan. Cabai butuh ekstra pemeliharaan dipupuk harus rutin disiram. Kalau sudah panen, seperti yang di Gerokgak bisa 8-10 panen. Untuk yang di Pakisan lebih banyak 15-20 kali panen, sepanjang waktu empat bulan,” ucapnya. (*)

Editor : I Putu Nova Anita Putra

Komentar

Related Articles

spot_img

Latest Posts