Air Bersih Akhirnya Mengalir di Lembah Sandan, Harapan Baru dari Hutan Bambu

Tabanan, koranbuleleng.com | Di tengah lembah hijau dan rimbunnya hutan bambu Sandan, Desa Bangli, Kecamatan Baturiti, Kabupaen Tabanan, akhirnya air bersih mengalir dengan layak. Alirannya mungkin tak deras, tapi cukup membuat mata warga Banjar Sandan berkaca-kaca. Sebab selama bertahun-tahun, kebutuhan dasar ini menjadi sesuatu yang mahal dan sulit diraih.

Sebagian besar warga di wilayah pegunungan ini adalah petani. Namun, ladang mereka sering kering. Di dapur, keran-keran tak lagi berbunyi. Pompa hydrant yang sudah tua tak lagi bisa diandalkan, karena rusak. Dalam diam, mereka menanti, berharap, dan terus bertahan selama bertahun-tahun.

- Advertisement -

Setelah sekian lama mengalami kerusakan sehingga distribusi air sering terhambat, akhinrya pipanisasi air bersih di hutan bambu Sandan terpasang dengan sempurna, kemarin. Pengerjaan pipanisasi itu dilakukan secara gotong royong, Minggu, 6 Juli 2025.

Keberadaan Hutan Bambu Sandan ini dikelola oleh Perhutanan Sosial dan membentuk Kelompok Tani Hutan Wana Kerta Lestari. Bambu ini ditanam pada tahun 2002 atas inisiatif masyarakat Desa Bangli, Kabupaten Tabanan serta dukugan dari KAGAMA (Keluarga Alumni Gajah Mada).

Sebagian besar masyarakat Banjar Sandan adalah petani, dan sudah cukup lama mengalami kendala untuk mengaliri air ke wilayah pertanian dan perkebunan mereka, termasuk untuk kecukupan air bersih. Kendala itu dipicu sumber mata air yang kecil akibat pompa hydrant sebelumnya mengalami kerusakan.

Akhirnya inisiasi kolaborasi Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) bersama Diageo Indonesia (PT Langgeng Kreasi Jayaprima) pipanisasi berhasil dibangun dan mengalirkan air bersih ke pemukiman warga setempat.

- Advertisement -

Warga menyambut hangat sedari awal, dan ikut membahu mengerjakan pipanisasi tersebut. Instalasi untuk distribusi air mengalirkan air bersih untuk 50 keluarga yang hidup di sekitar Hutan Bambu Sandan.

Kawil Sandan, Desa Bangli Made Artayasa, mengungkapkan kegembiraannya atas kolaborasi ini sehingga pipanisasi berhasil terhubung. Menurutnya beberapa kali program hilirisasi air digagas tetapi tidak berjalan sesuai rencana, seperti adanya kendala operasional, tindak lanjut yang sempurna, sampai ketidaksanggupan pemeliharaan listrik. Pengelolaan air di sini akan dikelola secara adat. Pengurusnya disetujui oleh pihak desa dankrama adat dengan segala tanggung jawabnya, kemudian di ikat adat meskipun tidak tertulis.

“Harapan kedepan hubungan berlanjut dan mampu berkelanjutan untuk masyarakat disini dan memberikan hal yang beguna. Air ini sudah lama kami inginkan, dan sedikit demi sedikit sudah dilakukan, hari ini sudah hampir 80% dan semoga bisa menjadi sumber utama untuk warga” ujar Artayasa.

Sementara, Wayan Gaing, perwakilan dari Diageo Indonesia (PT Langgeng Kreasi Jayaprima) turut mengungkapkan rasa senangnya atas kerjasama yang dilakukan bersama YBLL (Yayasan Bambu Lingkungan Lestari.) Meskipun situasi perjalanan diiringi hujan lebat, nyatanya alam mendukung untuk peresmian pipanisasi air bersih di Hutan Bambu Sandan.

“Sampai sini alam mendukung, dalam perjalanan cukup jauh tetapi suasana disini sangat asri dan apa yang dibutuhkan masyarakat dapat tercapai.” ujar Gaing.

Dia menyampaikan proses dari awal penanaman bambu untuk ketersediaan air karena melihat juga kebutuhan air untuk masyarakat desa.

“Perjalanan dari awal cerita dari teman-teman YBLL yang di sambut baik, dan itu hal yg positif untuk kedepannya, kami merasa ini sudah terjalin kerjasamanya yang baik. Semoga apa yg dilakukan Diageo bekerjasama dengan YBLL dapat bermanfaat bagi kita semua, diageo berterima kasih dan berbakti kepada alam sangat menyentuh” tambah dia.

Nurul Firmansyah, Kepala Program Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) mengaku distribusi air menjadi hal yang penting bagi kehidupan masyarakat di Desa Bangli, dan bisa diwujudkan secara bergotong royong, disitu istimewanya.

Nurul mengungkapkan gotong royong adalah kelebihan budaya masyarakat Bali. Kekuatan gotong royong ini terbukti mampu memberikan kebutuhan air dengan cepat bagi warga.

“Sebanyak 100 hektar ditanami bambu disini, dan kita berpikir alam perlu dijaga untuk sumber air, oksigen, dan keberlanjutan alam.” terang Nurul.

Kini, air bersih tak lagi sebatas mimpi bagi warga lembah Sandan. Di antara hijaunya bambu dan semangat gotong royong, mereka membuktikan bahwa ketika komunitas bersatu dan alam dihargai, maka hidup bisa kembali mengalir. Perlahan tapi pasti.

Dia mengatakan pihaknya menginisiasi untuk membuat kelompok pengelolaan hutan, sehingga manajemen tertata dengan baik dan masa panen yang lestari, sehingga dapat terus tumbuh dan terus memberikan manfaat, baik secara ekonomi dan kebermafaatan lain. “karena itulah kami juga bekerjasama gotong royong salah satunya dengan Diageo”. Tambah dia.

YBLL akan memberikan pelatihan pengawaletan bambu sehingga bisa meningkatkan nilai ekonomi. “Kita bisa diskusikan tanaman selain bambu yang bermanfaat bagi hidup kita.” ujarnya.  

Dalam gambaran Nurul, konsep agroforestry sangat cocok diterapkan di Desa Bangli. Dalam konsep modal untuk mencapai tujuan sudah snagat kuat denganupaya-upaya kolaborasi dengan masyarakat Sandan dan Desa Bangli .

“Maka dari itu pipanisasi air bersih tidak hanya bermanfaat sebagai hilirisasi di Hutan Bambu Sandan tetapi juga ke ladang pertanian maupun kebutuhan rumah tangga. Ini merupakan momen yang baik untuk YBLL bersama Diageo untuk lebih dekat dan menyentuh hati Masyarakat.” tutup Nurul. (*)  

Kontributor : Aprilia Enisari

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru