Singaraja, Koranbuleleng.com| Penataan kawasan heritage di pusat Kota Singaraja mulai menghadirkan wajah baru kota tua yang sarat sejarah. Meski proyek revitalisasi Titik 0 Kota Singaraja belum rampung sepenuhnya, kawasan tersebut kini mulai ramai dikunjungi masyarakat yang ingin menikmati suasana kota pusaka dengan tampilan yang lebih tertata.
Setiap pagi dan sore hari, warga terlihat memadati kawasan tersebut. Ada yang sekadar berjalan santai, berfoto, hingga membuat konten video dengan latar bangunan-bangunan bersejarah yang menjadi saksi perjalanan panjang Kota Singaraja.
Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, menegaskan bahwa penataan kawasan tersebut bukan untuk meniru kawasan Malioboro di Yogyakarta. Revitalisasi yang dilakukan justru bertujuan mengembalikan identitas Singaraja sebagai kota pusaka yang memiliki nilai sejarah dan warisan budaya yang kuat.
Menurutnya, Singaraja memiliki karakter dan kekayaan sejarah yang berbeda. Keberadaan sejumlah bangunan cagar budaya yang masih terjaga menjadi modal utama dalam membangun kawasan heritage yang merepresentasikan perjalanan sejarah Buleleng.
“Jadi idenya bukan meniru Yogyakarta. Singaraja memiliki banyak bangunan tua yang masih dilestarikan seperti Kantor Bupati, Rumah Soenda Ketjil, Museum Soenda Ketjil, Gedong Kirtya hingga Puri Kanginan yang merupakan cagar budaya. Semua itu kita rangkai menjadi satu kawasan heritage Kota Singaraja,” ujarnya, Jumat, 19 Juni 2026.
Sutjidra menjelaskan, baik Singaraja maupun Yogyakarta memang sama-sama tergabung dalam Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI). Namun kesamaan tersebut hanya menjadi inspirasi dalam upaya menjaga dan merawat bangunan bersejarah, bukan menyalin konsep pembangunan daerah lain.
Ia mengungkapkan, gagasan revitalisasi kawasan heritage sebenarnya telah muncul sejak lama. Setelah dilantik sebagai Bupati Buleleng, dirinya kembali mempelajari dokumentasi foto-foto lama Kota Singaraja yang kemudian memperkuat keinginannya untuk mengembalikan wajah kawasan bersejarah tersebut.
Penataan kawasan heritage bahkan telah menjadi bagian dari visi pembangunan yang disampaikannya kepada masyarakat sejak masa kampanye. “Kita ingin mengembalikan memori masyarakat bahwa Singaraja memiliki perjalanan sejarah yang panjang sejak zaman penjajahan. Identitas itu yang kita tampilkan kembali melalui penataan kawasan heritage,” katanya.
Upaya menghidupkan kembali identitas Kota Singaraja itu kini mulai terlihat. Kawasan yang sebelumnya hanya menjadi jalur lalu lintas, perlahan berubah menjadi ruang publik yang menghadirkan nuansa sejarah di tengah aktivitas perkotaan.
Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Perkim Kabupaten Buleleng, I Putu Adiptha Eka Putra, menyebut progres pembangunan Titik 0 Kota Singaraja saat ini telah mencapai sekitar 80 persen.
Sejumlah pekerjaan masih terus dikebut, mulai dari pemasangan bangku pedestrian, lampu taman, pembersihan kawasan, penyempurnaan perkerasan jalan, hingga pengaspalan dan pengecoran pada beberapa titik.
Pemerintah juga memasang bollard di sepanjang trotoar guna menjaga fungsi jalur pedestrian sekaligus memperkuat estetika kawasan.
Menurut Adiptha, konsep yang diusung dalam proyek tersebut adalah heritage restoration, yakni mempertahankan bangunan-bangunan bersejarah yang telah menjadi identitas Kota Singaraja.
“Konsepnya memang heritage restoration, mempertahankan bangunan-bangunan tua yang ada. Kalau ada yang menyebut mirip Yogyakarta, itu karena sama-sama memiliki bangunan bersejarah. Bedanya, Singaraja memiliki identitas sendiri dengan Tugu Singa Ambara Raja serta penggunaan material lokal seperti batu paras Sangsit,” jelasnya.
Tingginya antusiasme masyarakat yang mulai memanfaatkan kawasan tersebut dinilai menjadi indikator positif bahwa upaya menghidupkan kembali kawasan bersejarah mendapat sambutan baik dari warga.
Pemerintah pun mengajak masyarakat untuk ikut menjaga kebersihan dan kenyamanan kawasan selama proses pembangunan masih berlangsung.
“Silahkan datang menikmati suasana, terutama pagi dan sore hari. Yang penting tidak mengganggu pekerjaan proyek. Setelah seluruh pekerjaan selesai, kawasan ini akan menjadi ruang publik baru sekaligus etalase sejarah Kota Singaraja,” kata dia.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

