Singaraja,koranbuleleng.com| DPRD Buleleng turun langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke RSUD Giri Emas setelah rumah sakit tersebut menjadi sorotan publik akibat viralnya keluhan masyarakat mengenai dugaan kekurangan pasokan oksigen. Sidak dipimpin Ketua Fraksi Golkar DPRD Buleleng Ketut Dody Tisna Adi bersama Ketua Fraksi Gerindra Putu Susana dan Sekretaris Komisi IV DPRD Buleleng Nyoman Dhukajaya, Jumat, 10 Juli 2026 sore.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan informasi yang beredar di media sosial sekaligus mengevaluasi kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit rujukan wilayah timur Buleleng yang melayani Kecamatan Tejakula, Kubutambahan, dan Sawan.
Ketua Fraksi Golkar DPRD Buleleng, Ketut Dody Tisna Adi, menegaskan pihaknya tidak ingin langsung mempercayai informasi yang beredar di media sosial tanpa melakukan verifikasi di lapangan.
Ia menyebut, dari hasil sidak menunjukkan stok oksigen di RSUD Giri Emas dalam kondisi mencukupi. Menurut Dody, persoalan yang sempat viral lebih disebabkan oleh miskomunikasi dan kesalahan prosedur saat pergantian suplai oksigen, bukan karena kekurangan pasokan.
“Dari hasil kunjungan kami, terlihatlah bahwasanya itu kan miskomunikasi. ada beberapa alat yang sudah diberikan karena cuma sedikit human error saja sebenarnya. Tapi kalau dilihat dari pasokan oksigennya sudah mumpuni dan cukup dari segi pelayanan,” kata dia.
Selain mengecek persoalan oksigen, DPRD juga menyoroti perlunya peningkatan layanan kesehatan di wilayah timur Kabupaten Buleleng. Dody menilai RSUD Giri Emas perlu segera ditingkatkan dari rumah sakit tipe D menjadi tipe C agar mampu menangani lebih banyak kasus kegawatdaruratan tanpa harus merujuk pasien ke RSUD Kabupaten Buleleng.
Senada dengan itu, Sekretaris Komisi IV DPRD Buleleng Nyoman Dhukajaya mengatakan sidak dilakukan untuk memastikan Standar Pelayanan Minimal (SPM) rumah sakit berjalan sesuai ketentuan, termasuk ketersediaan tenaga medis spesialis.
“Kita ingin memastikan, mengecek tentang SPM, untuk pelayanan rawat inap dan semuanya termasuk juga ketersediaan sumber daya manusia spesialistik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, salah satu syarat peningkatan status rumah sakit menjadi tipe C adalah penambahan kapasitas tempat tidur dari 50 menjadi 100 unit, melengkapi fasilitas penunjang seperti USG dan laboratorium, serta menambah dokter spesialis.
“RSUD Giri Mas ini yang hari ini masih tipe D, kita tingkatkan statusnya ke tipe C. Tentunya dengan peningkatan sarana dan prasarana termasuk juga jumlah bed. Yang hari ini 50, naikkan jadi 100 bed,” ucapnya.
Sementara itu, Kasubag Tata Usaha RSUD Giri Emas I Made Karmawan Putra menjelaskan kronologi kejadian yang sempat viral. Ia menegaskan permasalahan terjadi bukan pada sentral oksigen, melainkan pada outlet oksigen di ruang pelayanan.
“Kalau secara kronologis sebenarnya ini kejadian terjadi antara pukul 03.00 dan 04.00 dini hari. Itu karena ada penurunan atau kekosongan oksigen di outlet oksigen, bukan di sentral oksigen,” jelasnya.
Menurutnya, setelah menerima laporan dari keluarga pasien, petugas langsung mengalihkan suplai ke stok cadangan sehingga aliran oksigen kembali normal. Ia memastikan stok oksigen rumah sakit selama ini selalu tersedia dan rutin ditambah ketika persediaan mencapai batas minimal.
Karmawan mengakui kejadian tersebut diduga dipicu oleh human error dan telah menjadi bahan evaluasi internal. Manajemen RSUD Giri Emas juga telah memperbaiki standar operasional prosedur (SOP) agar insiden serupa tidak terulang.
“Saat itu stok kita juga cukup, karena kita selalu mengorder begitu ketersediaan masih di angka 20 tabung. Ini akan menjadi evaluasi kita. Kemudian kita juga sudah melakukan perbaikan SOP sehingga hal ini tidak akan terulang lagi,” kata dia.
Ia menyambut positif dorongan DPRD untuk meningkatkan status RSUD Giri Emas menjadi tipe C karena akan memperluas layanan spesialis yang dapat diberikan kepada masyarakat di wilayah timur Buleleng. Saat ini, RSUD Giri Emas masih mengalami kekurangan sejumlah dokter spesialis, termasuk dokter spesialis jantung yang sudah tidak lagi bertugas sejak awal 2026.
“Kita belum punya dokter jantung di sini. Kemarin sempat ada dokter jantung karena beliau dapat penugasan sekolah, jadi per Desember dan Januari 2026 kita sudah tidak punya spesialis jantung lagi,” ucapnya.
Untuk memenuhi syarat peningkatan status menjadi rumah sakit tipe C, manajemen memperkirakan kebutuhan anggaran pembangunan fisik dan sarana prasarana mencapai sekitar Rp25 miliar.
“Kalau untuk penambahan fisik dan sarpras mungkin kisaran di angka 25 miliaran mungkin. Tetapi itu pun harus kita hitung kembali, karena berdasarkan apa-apa yang harus kita tambahkan dalam pelayanan menjadi kapasitas C,” kata dia.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

