Singaraja, koranbuleleng.com | Sejumlah ijazah lama dan lembaran-lembaran administrasi tampak dipamerkan secara sederhana, menempel pada dinding papan tulis di SDN 1 Paket Agung, Singaraja.
Dulu, sekolah ini masih dikenal sebagai sekolah rakyat pertama di Bali, zaman penguasaan penjajah di tanah air. Lokasinya saat ini, di Jalan Veteran, sebelah barat dari Gedong Kirtya, berjarak sekitar 160 meter.
Dua Gedung tersebut menjadi saksi sejarah masa lalu yang tersisa saat ini. Beberapa bangunan milik warga di sepanjang Jalan Veteran juga masih ada yang bercorak lama.
Bagi warga Singaraja, SDN 1 Paket Agung bukan hanya institusi pendidikan dasar. Sekolah ini adalah bagian dari denyut sejarah kota, saksi bisu perjalanan bangsa, dan tempat tumbuhnya akar-akar nilai kebangsaan. Memasuki usia 150 tahun, sekolah ini merayakan satu setengah abad perjalanannya dengan semangat refleksi dan penghormatan terhadap masa lalu.
Perayaan digelar dengan mengangkat napak tilas sejarah lokal pada Jumat 1 Agustus 2025. Salah satu rangkaian utama adalah jalan santai yang diikuti siswa, alumni, guru, dan masyarakat. Rute dimulai dari sekolah di Jalan Pahlawan, melintasi Jalan Gunung Batur, lalu menyambangi tempat-tempat bersejarah yang terkait dengan sosok keluarga Proklamator Indonesia.



Peserta berhenti di rumah, yang pernah menjadi kos Raden Soekemi Sosrodihardjo, ayah dari Ir. Soekarno, yang masih menyimpan pohon belimbing sebagai penanda tempat ditanamnya ari-ari anak pertamanya dengan Nyoman Rai Srimben, yakni Raden Soekarmini (Ibu Wardoyo). Perjalanan dilanjutkan menuju rumah masa muda Nyoman Rai Srimben di Lingkungan Bale Agung, sebelum kembali ke sekolah untuk mengikuti agenda utama perayaan.
“Kami ingin generasi sekarang mengenal lebih dekat sejarah yang hidup di sekitar mereka. Bukan sekadar ulang tahun, ini adalah wujud penghormatan pada sejarah pendidikan dan perjuangan keluarga besar sekolah ini,” kata I Ketut Wiratmaja, Ketua Panitia Perayaan, saat ditemui di sela acara.
Di halaman sekolah, suasana penuh nostalgia menyambut peserta. Sebuah drama berjudul Kisah Sang Proklamator dipentaskan oleh siswa dan guru. Kisah ini mengangkat romansa antara Raden Soekemi dan Nyoman Rai Srimben, kisah cinta yang kemudian melahirkan tokoh penting dalam sejarah Indonesia.


Tidak hanya itu, sekolah juga memamerkan barang-barang bersejarah. Ada kursi dan bangku kayu tua, sebuah lemari peninggalan tahun 1928, dan benda-benda bersejarah lainnya yang dulu digunakan oleh para alumni saat menjadi siswa. Beberapa alumni sepuh tampak emosional saat menyentuh kembali kursi tempat mereka dahulu belajar mengeja huruf dan menulis nama.
“Melalui benda-benda ini, kami ingin generasi sekarang bisa merasakan denyut sejarah. Ini bukan museum, ini sekolah yang hidup,” ujar Wiratmaja.
Berdiri tahun 1875, sekolah ini mulanya dikenal sebagai Tweede Klasse School, bagian dari sistem pendidikan kolonial Hindia Belanda. Setelah kemerdekaan, nama sekolah berubah menjadi Sekolah Rakyat, mencerminkan semangat kebangsaan dan pendidikan untuk semua lapisan masyarakat.
Kemudian, lembaga ini sempat menyandang nama SDN 1 dan 10 Singaraja, lalu menjadi SDN 1 dan 2 Paket Agung, hingga akhirnya kini menetap sebagai SDN 1 Paket Agung. Setiap nama mencerminkan transisi zaman dan dinamika pendidikan nasional.
“Satu setengah abad adalah perjalanan panjang, tapi kami belum selesai. “Kami ingin sekolah ini terus mengakar di masyarakat dan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga paham sejarah dan punya jati diri.” Ucap Wiratmaja.
SDN 1 aket Agung ini memang dekat sekali dengan nama besar Raden Soekemi. Sekda Buleleng, Gede Suyasa berharap nama besar itu bisa menjadi inspirasi bagi siswa -siswi saat ini untuk terus meraih prestasi. Sekolah in harus terus menjadi kebanggaan daerah dengan sejarah besarnya dari masa lalu.
“Saya sudah titip pesan agar warisan dijaga, ada barang tahun 1928, tahun lima puluhan, agar dipelihara dengan baik.” tata Suyasa.
Barang-barang tersebut harus ditempatkan dalam satu ruang khusus dan bermanfaat bagi generasi lanjutan.
Dalam perjalanan napak tilas, Suyasa juga sempat ke tempat kos Raden Soekemi. Diajuga diantar oleh warga sekitar ke lokasi penanaman ari-ari dari Raden Sukarmini, Kakak dari Soekarno. Diatas ari-ari tersebut sudah berdiri sebuah tanaman Belimbing, yang konon sebagai penanda adanya ari-ari Raden Sukarmini di situ. (*)
Kontributor : Putu Rika Mahardika

