Singaraja, koranbuleleng.com | Di perairan Pelabuhan Celukan Bawang, sebuah raksasa besi bernama Floating Storage and Offloading (FSO) Cinta Natomas terus menjadi perbincangan sejak keberadaannya pada tahun 2018.
Kapal berukuran besar itu beberapa kali tampak miring dari kejauhan, memunculkan kecemasan warga pesisir mengenai keselamatan dan potensi pencemaran lingkungan. Kini, nasib FSO ini berada sepenuhnya di tangan negara, menunggu keputusan setelah pembersihan dan pengosongan tangki rampung dilakukan.

Di tengah berbagai kekhawatiran publik, proses evakuasi endapan minyak dari dalam tangki telah dilaksanakan dengan pengawasan ketat. Seluruh prosedur dipastikan mengikuti standar keselamatan agar tidak memicu risiko pencemaran laut di kawasan Celukan Bawang yang menjadi jalur penting aktivitas kapal logistik.
Pertamina EP Regional 4 Indonesia Timur memastikan tidak ditemukan kebocoran pada Cinta Natomas. Manager HSSE Operation Hulu Zona 11 Pertamina EP Regional 4 Indonesia Timur, Chandra Sunaryo, menyampaikan bahwa FSO tersebut masih berstatus laik laut. Tim teknis telah melakukan berbagai pemeriksaan, termasuk penyelaman aset untuk memastikan seluruh struktur kapal berada dalam kondisi aman.
Selain itu, patroli laut dilakukan secara berkala untuk memastikan tidak ada tumpahan minyak di sekitar kawasan tambat. Setiap aktivitas juga menerapkan prosedur Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Lindungan Lingkungan (K3L). “Kami menjalin kemitraan dengan pihak ketiga yang memang profesional di bidang itu untuk melakukan mitigasi,” ujar Chandra saat silaturahmi antara Pertamina dengan wartawan di Singaraja, Selasa 25 November 2025.
Chandra menambahkan, seluruh pekerjaan hanya dapat dimulai setelah izin teknis dan hasil pemeriksaan lingkungan menyatakan perairan aman. Pemantauan berkala masih berlangsung hingga seluruh tahapan benar-benar selesai.
Sementara itu, Asisten Manager Offshore Marine Pertamina EP Asset 4 Sukowati, Agus Mulyanto, menuturkan bahwa perjalanan FSO Cinta Natomas sangat panjang. Kapal buatan Jepang ini pernah menjadi salah satu FSO terbaik di dunia, meski kini usianya telah mencapai lebih dari setengah abad. Cinta Natomas diproduksi pada tahun 1972 dan sudah menjalankan berbagai operasi penting dalam penampungan migas.
Selama masa operasionalnya, seluruh prosedur standar keselamatan selalu dipatuhi. Hingga kini, tim teknis masih melakukan pengecekan ketebalan plat kapal untuk memastikan status kelayakannya. “Nanti setelah semua bersih, FSO ini akan dikembalikan kepada Negara, setelahnya menjadi urusan Negara,” kata Agus. (*)
Pewarta : Kadek Yoga Sariada

