Singaraja, koranbuleleng.com| Air bah yang meluap tiba-tiba kini menjadi pemandangan akrab dibanyak daerah di Indonesia. Hujan yang turun tidak lagi sekadar membawa kesejukan, tetapi juga ikut menggeret lumpur, batu, dan batang-batang kayu yang pernah berdiri gagah di lereng bukit. Pada beberapa lokasi, longsor meratakan rumah dan kebun dalam hitungan detik.
Di tengah berita bencana yang terus bermunculan itu, ingatan melayang pada sebuah pagi di lereng Himalaya ratusan tahun lalu. Ketika perempuan desa berdiri dalam diam, melingkari pohon-pohon tua, memeluk batangnya untuk mencegah penebangan. Gerakan itu kelak dikenal sebagai Chipko Movement.
Gerakan itu lahir dari kesadaran sederhana: ketika pohon hilang, bencana datang. Maka, pesan ini terasa semakin relevan, hingga ke Bali.
Akademisi Institut Mpu Kuturan Putu Maria Ratih Anggraini merupakan satu diantara masyarakat yang peduli tentang alam, dan semakin khawatir pada kondisi lingkungan belakangan ini. Ia kemudian melakukan kajian tentang Chipko Movement dari India dan keterkaitan pada tradisi saput poleng di Bali. Meski lahir dari konteks budaya yang berbeda, namun sama-sama menyuarakan hubungan manusia dengan alam yang bersifat keibuan. Keduanya kini menemukan urgensi baru, meningkatnya bencana berupa banjir bandang, tanah longsor, krisis air, yang berakar dari kerusakan lingkungan, terutama penebangan pohon.
Dalam konteks inilah, gerakan perempuan di India dan kearifan lokal Bali dapat dibaca sebagai peringatan yang jauh lebih dini, jauh sebelum bencana datang mengetuk.
Menurut Ratih, di India Utara, perempuan-perempuan yang memeluk pohon bukan sekadar sedang melindungi kawasan hijau. Mereka menjaga sumber air, menahan erosi tanah, menjaga lereng Himalaya dari longsor.
Sementara di Bali, saput poleng yang dililitkan pada pohon besar selama ini menjadi penanda kesucian. Namun pada saat yang sama, ia menyiratkan pesan ekologis, pohon ini tidak boleh diusik. Ia adalah penyangga tanah, penahan limpasan air, dan penjaga kesuburan.
Belakangan ini, ketika banjir bandang dan longsor meningkat di beberapa kabupaten di Bali, makna saput poleng terasa lebih aktual. Di wilayah yang hutan dan pepohonannya menyusut, lereng menjadi mudah roboh, dan sungai dangkal oleh sedimen.
“Bencana ini bukan semata karena hujan. Ada relasi hilang antara manusia dan Ibu Pertiwi. Ketika pohon dicabut dari tanahnya, kita mencabut fondasi kehidupan itu sendiri,” kata Ratih.
Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan, dalam banyak laporan bencana di Indonesia, pola yang muncul hampir serupa. Penebangan pohon di hulu sungai menyebabkan air hujan turun tanpa hambatan, kemudian lereng gundul tidak lagi mampu mengikat tanah, sehingga longsor mudah terjadi, alih fungsi lahan mempercepat laju erosi, termasuk sungai dipersempit atau dipenuhi sedimen dari hutan yang rusak.
Dampaknya bisa terlihat dalam kejadian banjir bandang yang belakangan ini terjadi. Bahkan penelitian global menunjukkan tren yang sama. Yakni kawasan yang kehilangan tutupan pohon mengalami peningkatan bencana hidrometeorologi hingga tiga kali lipat.
Ketika Chipko Movement, jauh sebelum istilah “krisis iklim” populer, sudah membaca gejala itu. Maka saput poleng, dalam kesederhanaannya, juga menyiratkan hal serupa. Jangan meremehkan pohon. Ia adalah penjaga pertama dari setiap bencana.
Ratih menyebut jika dalam Atharva Veda tertulis: “Bumi adalah ibuku, dan aku adalah anaknya”. Dalam Rg Veda ditegaskan, tanaman adalah “para ibu” karena melindungi dan memberi makan semua makhluk.
Akademisi bidang ilmu Ekologi Hindu itu melihat ayat-ayat itu bukan sekadar teks suci, tetapi panduan ekologis. “Ibu Pertiwi adalah konsep yang menempatkan alam bukan sebagai objek. Ia adalah sosok yang merawat, sehingga anak-anaknya, manusia wajib menjaga,” jelasnya.
“Dalam kosmologi Hindu Bali, saput poleng menjadi representasi paling nyata. Hitam dan putih, baik dan buruk, hidup dan mati, semua harus seimbang. Ketika keseimbangan itu diganggu, bencana hadir sebagai koreksi,” tambahnya.
Gerakan Chipko dan saput poleng memperlihatkan bahwa konservasi bukan sekadar program pemerintah atau proyek besar. Ia bisa lahir dari hanya karena lilitan selembar kain, atau kesadaran kolektif bahwa pohon bukan sekadar kayu.
Keduanya memberikan pesan ekologis yang sangat relevan hari ini, krisis lingkungan bukan semata persoalan teknologi atau kebijakan, namun ia adalah persoalan hubungan.
“Ditengah berita banjir dan longsor yang muncul jika musim hujan, nilai dari dua gerakan itu kembali mengetuk, tentang menjaga alam bukanlah pilihan, tetapi kewajiban hidup. Sebab, pada akhirnya, alam seperti ibu mana pun, hanya akan memberi sebaik ia dirawat,” tutup Ratih.(*)
Kontributor : Putu Rika Mahardika

