Singaraja, koranbuleleng.com | Komitmen membangun pariwisata berbasis kearifan lokal kembali ditegaskan Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Les Ngembak Festival IV yang digelar di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Sabtu 21 Maret 2026. Festival ini tidak sekadar menjadi perayaan tradisi, tetapi juga simbol kebangkitan desa wisata berbasis budaya yang autentik.
Berangkat dari tradisi Ngembak Geni yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat, festival ini berkembang menjadi agenda tahunan yang dinanti. Nuansa sakral dan kebersamaan dikemas dalam sajian seni, budaya, hingga geliat UMKM yang menghadirkan pengalaman berbeda bagi wisatawan.
Selama pelaksanaan, antusiasme masyarakat dan pengunjung terlihat begitu tinggi. Aktivitas ekonomi warga pun ikut menggeliat, terutama dari sektor kuliner dan produk lokal yang menjadi bagian penting dalam festival tersebut.
Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna yang hadir membuka kegiatan tersebut memberikan apresiasi atas konsistensi masyarakat Desa Les dalam menjaga tradisi. Ia menilai kolaborasi antara desa, adat, dan pelaku pariwisata menjadi fondasi utama dalam membangun desa wisata yang berkelanjutan.
“Saya mengucapkan selamat kepada masyarakat Desa Les dan para pelaku pariwisata karena Les Ngembak Festival ini sudah keempat kalinya bisa dilaksanakan,” ujarnya.
Menurutnya, arah pengembangan pariwisata Buleleng harus tetap berpijak pada keunikan lokal yang dimiliki masing-masing desa. Keaslian budaya dan alam dinilai sebagai kekuatan utama yang tidak dimiliki semua daerah.
“Pengembangan pariwisata harus disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik lokal. Konsep desa wisata harus tetap dijaga agar memberikan pengalaman yang autentik,” tegasnya.
Supriatna juga mengingatkan bahwa Buleleng tidak perlu mengikuti pola pariwisata di Bali Selatan yang cenderung masif dan modern. Justru, keunggulan Buleleng terletak pada keasrian alam serta kekayaan tradisi yang masih terjaga.
“Kita tidak harus meniru pariwisata di Bali Selatan. Buleleng harus berkembang sesuai dengan karakteristik dan potensi yang kita miliki,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Les Ngembak Festival IV, Nyoman Adi Yanan, menegaskan bahwa festival ini lahir dari inisiatif masyarakat yang ingin menjaga tradisi sekaligus membuka peluang ekonomi.
Ia menyebutkan, festival ini menjadi ruang promosi desa wisata yang efektif, sekaligus memperkuat peran UMKM lokal yang terlibat langsung dalam setiap rangkaian kegiatan.
“Festival ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus mempromosikan desa wisata, produk UMKM, dan kuliner khas masyarakat,” jelasnya.
Les Ngembak Festival IV berlangsung selama tiga hari, 20–22 Maret 2026, dengan berbagai rangkaian kegiatan seni budaya dan aksi sosial. Ke depan, festival ini diharapkan terus menjadi ikon pariwisata berbasis kearifan lokal yang mampu memperkuat identitas Buleleng sebagai destinasi alternatif di Bali. (*)
Pewarta : Kadek Yoga Sariada

