Singaraja, koranbuleleng.com | Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Distan KPP) Kabupaten Buleleng mengintensifkan langkah penanganan rabies melalui percepatan vaksinasi di Kelurahan Banyuning, Kecamatan Buleleng, menyusul meningkatnya kasus gigitan anjing yang telah menyerang 18 warga, Selasa, 28 April 2026.
Intervensi ini dilakukan sebagai bentuk tanggap darurat kesehatan masyarakat, sekaligus upaya preventif untuk memutus rantai penularan rabies yang berpotensi meluas di wilayah padat penduduk. Penanganan difokuskan pada zona dengan tingkat paparan tertinggi, khususnya di Jalan Pulau Obi dan Jalan Komodo.
Kasi Pemerintahan Kelurahan Banyuning, Putu Mahendra, menjelaskan bahwa vaksinasi dilaksanakan secara aktif dengan metode jemput bola, termasuk menjangkau hewan peliharaan yang masih dilepasliarkan oleh pemiliknya.
“Vaksin hari ini 96 anjing dan 3 kucing. Baik yang diliarkan namun ada pemilik, dan dor to dor jajagi warga yang punya peliharaan untuk divaksin. Kita fokuskan di Jalan Pulau Obi dan Komodo. Ini daerah yg gigitan 18 org,” ujarnya.
Menurutnya, tingginya populasi hewan penular rabies menjadi tantangan utama dalam percepatan cakupan vaksinasi. Hingga saat ini, penanganan baru menjangkau dua wilayah dari total enam lingkungan yang ada di Banyuning.
“Populasi banyak, belum kelar semua. Baru menyasar dua lokasi. Di Banyuning ada 6 lingkungan,” ucapnya.
Guna meningkatkan efektivitas program, pemerintah kelurahan bersama instansi terkait mulai merancang skema vaksinasi terpusat agar pelaksanaan lebih terorganisir dan efisien dibandingkan metode door to door.
“Rencana akan sasar lingkungan yg lain. Koordinasi dgn instansi terkait biar tidak dor to dor. Nanti di fokuskan di balai desa. Masyarakat bawa hewannya kesana,” kata dia.
Sebelumnya, vaksinasi juga telah digelar di kawasan pasar pada Sabtu, 25 April 2026, sebagai langkah awal dalam merespons potensi penyebaran rabies di ruang publik dengan mobilitas tinggi.
“Yang dipasar hari Sabtu, 25 April 2026. 48 anjing yang di vaksin,” tambahnya.
Selain langkah vaksinasi, proses penelusuran sumber penularan turut dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium terhadap sampel hewan yang diduga menjadi penyebab gigitan. Upaya ini penting sebagai dasar pengambilan kebijakan lanjutan dalam pengendalian rabies.
“Sampel otak anjing yang mengigit anak 11 tahun kemasin, sudah dikirim ke bvet. Untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium,” kata dia.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

