Singaraja,koranbuleleng.com| Kabupaten Buleleng selangkah lagi akan memiliki fasilitas olahraga bertaraf internasional. Pemerintah Provinsi Bali menyiapkan pembangunan wall panjat tebing berstandar dunia di kawasan Hutan Kota Banyuasri, Kelurahan Banyuasri, Kecamatan Buleleng, dengan nilai investasi mencapai Rp10 miliar.
Proyek ini menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat pengembangan sport tourism di Bali Utara sekaligus menghadirkan venue yang memenuhi standar penyelenggaraan kejuaraan nasional hingga internasional.
Ketua Umum Pengprov Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Bali Putu Yudi Atmika mengungkapkan, pembangunan fasilitas tersebut merupakan bentuk apresiasi Gubernur Bali atas prestasi atlet panjat tebing Desak Made Rita Kusuma Dewi yang telah mengharumkan nama Bali di level internasional.
Ia menjelaskan, lokasi pembangunan semula diproyeksikan berada di Kabupaten Badung maupun Kota Denpasar. Namun, arah kebijakan berubah setelah Gubernur Bali menginginkan pemerataan pembangunan olahraga sekaligus mendorong pertumbuhan sport tourism di Kabupaten Buleleng.
“Awalnya pembangunan ini direncanakan di Badung atau Denpasar, namun pak Gubernur ingin sport tourism berkembang di Buleleng sehingga kami diminta meninjau sejumlah lokasi di daerah ini,” ujarnya, usai meninjau lokasi, Minggu, 2 Agustus 2026.
Hasil peninjauan tersebut akan menjadi dasar penetapan lokasi pembangunan yang ditargetkan mulai direalisasikan pada 2027.
Menurut Yudi, anggaran Rp10 miliar akan digunakan untuk membangun tiga nomor pertandingan panjat tebing, yakni speed, boulder, dan lead, lengkap dengan seluruh sarana pendukung yang memenuhi standar internasional. Seluruh pembangunan ditargetkan rampung menjelang pelaksanaan Porprov Bali 2027.
Pemilihan Buleleng juga didasarkan pada potensi geografis yang dinilai sangat mendukung pengembangan venue panjat tebing kelas dunia. Lanskap pegunungan, kontur lahan berundak, kedekatan dengan kawasan pantai, serta akses menuju destinasi wisata menjadi nilai lebih yang sulit ditemukan di daerah lain.
“Kami melihat potensi Buleleng sangat sesuai karena memiliki latar belakang pegunungan, kontur tanah berundak, dekat pantai, kawasan pariwisata, dan fasilitas akomodasi. Harapannya, venue ini tidak hanya dipakai untuk kejuaraan, tetapi juga menjadi bagian dari pengembangan sport tourism sehingga mampu menarik wisatawan dan mendukung pemerataan pembangunan Bali Utara,” katanya.
Sementara itu, Wakil Bupati Buleleng yang juga Ketua Umum KONI Buleleng, Gede Supriatna, menyebut kawasan Hutan Kota Banyuasri menjadi alternatif utama karena memiliki lahan yang luas, berada di kawasan strategis, mudah dijangkau masyarakat maupun atlet, serta terhubung dengan akses menuju kawasan wisata Lovina.
Untuk melengkapi fasilitas utama, Pemerintah Kabupaten Buleleng juga menyiapkan dukungan anggaran sekitar Rp2 miliar hingga Rp2,5 miliar. Dana tersebut akan digunakan membangun berbagai fasilitas pendukung seperti tribun penonton, ruang ganti atlet, gudang peralatan, toilet, hingga area penonton.
Supriatna menegaskan pemerintah daerah siap mengawal proses pembangunan agar venue bertaraf internasional tersebut benar-benar terwujud di Buleleng.
“Pembangunan wall panjat tebing ini merupakan bentuk apresiasi atas prestasi Desak Made Rita Kusuma Dewi yang telah membawa nama Bali ke tingkat internasional. Tujuannya bukan hanya meningkatkan prestasi atlet panjat tebing di Bali, khususnya Buleleng, tetapi juga membuka peluang agar kejuaraan dunia panjat tebing dapat diselenggarakan di Buleleng sebagai bagian dari pengembangan sport tourism,” ucapnya.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

