Singaraja, koranbuleleng.com| Pelaksanaan Buleleng Festival (Bulfest) 2026 menghadirkan konsep berbeda dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Jika sebelumnya pertunjukan budaya dipusatkan di Gedung Sasana Budaya dan Puri Kanginan, tahun ini panggung budaya digeser ke kawasan Catus Pata Buleleng.
Perubahan konsep tersebut mulai terlihat di lapangan. Para pekerja tampak membangun panggung tepat di bawah Patung Catur Muka, kawasan Catus Pata Buleleng, Selasa, 11 Agustus 2026. Pembangunan panggung itu berdampak langsung terhadap arus lalu lintas. Jalan Veteran kini ditutup total untuk mendukung persiapan pelaksanaan Bulfest 2026.
Asisten I Setda Buleleng Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat sekaligus Ketua Panitia Bulfest 2026, Putu Ariadi Pribadi, mengatakan persiapan festival saat ini telah mencapai 95 persen. Bulfest 2026 nantinya dibagi menjadi tiga zona dengan karakter dan lokasi yang berbeda. Zona A mengusung tema Buleleng Tempo Dulu dan dipusatkan di kawasan Titik Nol Kota Singaraja.
Zona B mengusung konsep Modern dan Creative Space yang ditempatkan di RTH Rumah Jabatan Bupati, Kantor DPRD Buleleng, dan Jalan Veteran. Sementara itu, Zona C mengusung tema Budaya Berkelanjutan. Zona ini tersebar di tiga titik, yakni Patung Catus Pata, Sasana Budaya, dan Jalan Veteran Timur. Beragam kesenian dan budaya Bali akan ditampilkan di zona tersebut.
“Catus Pata ini kan masuk zona C, yaitu budaya. Nanti ada pementasan terkait dengan seni budaya, ada wayang, ada bondres, ada sekeha gong yang berhubungan dengan budaya Bali,” ujarnya.
Ariadi mengatakan, pembangunan panggung di kawasan Patung Catus Pata merupakan bagian dari masukan para seniman. Lokasi tersebut dinilai mampu memberikan ruang yang lebih luas untuk menampilkan berbagai garapan seni.
Namun, pemilihan lokasi itu juga memiliki konsekuensi terhadap lalu lintas karena Jalan Veteran merupakan salah satu ruas jalan utama di kawasan Kota Singaraja.
Pemkab Buleleng telah menyiapkan skema pengalihan arus untuk mengantisipasi kepadatan selama pelaksanaan festival.
“Ini saran masukan dari para seniman. Sekarang supaya lebih terbuka, jadinya dengan kondisi pertimbangan yang sangat-sangat sekali dengan perhubungan terpaksa kita coba di Sasana Budaya astungkara bisa berjalan,” ucapnya.
Bulfest 2026 Usung Konsep Vintage
Sementara itu, Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra menjelaskan, Bulfest tahun ini mengangkat konsep vintage atau suasana zaman dahulu. Konsep tersebut tidak hanya diterapkan pada panggung dan kawasan festival. Ornamen, warna, musik hingga kuliner yang disajikan juga akan diarahkan untuk membangun atmosfer masa lalu.
“Konsepnya itu adalah vintage, kembali ke zaman yang dulu. Semua ornamen lebih ke arah yang dulu-dulu, ke kolonial,” kata Sutjidra.
Nuansa tempo dulu juga akan diperkuat melalui pilihan musik. Sutjidra mengatakan pertunjukan musik pada Bulfest 2026 tidak akan didominasi suara keras. Sebaliknya, musik bernuansa lawas seperti keroncong akan lebih ditonjolkan untuk menjaga karakter festival.
“Tidak akan ada lagi musik-musik keras. Soft semua nanti,” ujarnya.
Konsep tempo dulu juga merambah sektor kuliner. Sejumlah makanan yang lekat dengan kehidupan masyarakat Buleleng pada masa lalu akan kembali dihadirkan, di antaranya laklak, kelor, jukut undis, hingga dagang patokan.
Khusus dagang patokan, Sutjidra mengatakan konsep tersebut ingin dihidupkan kembali dalam konteks yang positif. Menurutnya, dagang patokan merupakan pola berdagang sederhana ketika seluruh aktivitas dilakukan sendiri oleh pedagang. Mulai dari menyiapkan makanan, melayani pembeli hingga menerima pembayaran dilakukan tanpa bantuan asisten.
“Dagang patokan itu dagang yang kecil-kecil, tapi dia sendiri. Enggak ada asisten di sana,” jelasnya.
Konsep dagang patokan tersebut akan diterapkan di kawasan Titik Nol Buleleng, tepatnya di sekitar Warung Sunda Kecil. Aktivitas perdagangan direncanakan berlangsung mulai pukul 17.00 hingga 23.00 WITA.
Menurut Sutjidra, konsep tersebut sekaligus menjadi upaya menghidupkan kembali citra dagang patokan yang pernah dikenal masyarakat Buleleng pada era 1980-an.
Pada masa itu, aktivitas dagang patokan disebut banyak berlangsung hingga larut malam. Melalui Bulfest 2026, konsep tersebut akan dikemas kembali dengan penataan yang lebih teratur.
“Ini baru konsep ya. Buleleng itu dulu punya dagang patokan, dalam arti yang positif,” ungkapnya.
Para pedagang yang terlibat dalam konsep tersebut juga akan diarahkan mengenakan pakaian yang sopan dengan adat sederhana.
Selain itu, terdapat ketentuan dalam transaksi. Pembeli tidak diperbolehkan menawar harga yang telah ditetapkan oleh pedagang.
Konsep tempo dulu yang diusung Bulfest 2026 tidak hanya ditujukan untuk menghadirkan suasana lawas di pusat Kota Singaraja.
Sutjidra mengatakan konsep tersebut juga menjadi bagian dari upaya Pemkab Buleleng menata kawasan Titik Nol sekaligus memperkenalkan kembali sejarah Buleleng kepada generasi muda.
Buleleng, kata dia, memiliki catatan sejarah penting sebagai pusat pendidikan, budaya dan perdagangan.
Pada masa lalu, aktivitas ekspor berbagai produk pertanian dan hewan juga disebut berlangsung dari Buleleng.
“Kita ingin mengembalikan bahwa Buleleng itu ibu kota Sunda Kecil dulu. Sunda Kecil itu meliputi Bali, NTB, dan NTT,” katanya.
Menurut Sutjidra, jejak sejarah tersebut masih dapat ditemukan hingga saat ini. Karena itu, Bulfest 2026 diharapkan tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenalkan kembali sejarah Buleleng kepada generasi muda.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

