Praja Mandala Singa Ambara Raja, Ruang Publik yang Menghidupkan Kembali Singaraja

Singaraja, koranbuleleng.com| Matahari bahkan belum sepenuhnya menampakkan teriknya ketika langkah-langkah kecil mulai terdengar di kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja. Udara pagi yang masih sejuk menjadi teman bagi para lansia yang datang untuk berjalan santai, melakukan peregangan, berolahraga, atau sekadar menikmati hangat matahari.

Tidak ada panggung musik. Tidak ada sorot lampu. Kamera-kamera belum sibuk mencari sudut terbaik. Yang ada hanyalah warga yang memulai hari dengan cara sederhana.

- Advertisement -

Bagi sebagian lansia, ruang publik di jantung Kota Singaraja itu kini bukan sekadar kawasan yang baru ditata. Tempat yang sebelumnya lebih dikenal sebagai Titik Nol tersebut mulai menjadi bagian dari rutinitas. Mereka datang, bergerak, berbincang dengan sesama, kemudian pulang ketika aktivitas kota mulai ramai.

Pemandangan tersebut barangkali sederhana. Namun, dari sanalah wajah baru Praja Mandala mulai terlihat.

Sebuah ruang publik tidak selalu harus dipenuhi keramaian untuk disebut hidup. Terkadang, kehidupan sebuah ruang justru dimulai dari aktivitas kecil yang berlangsung berulang setiap hari. Praja Mandala Singa Ambara Raja kini perlahan menemukan fungsi tersebut.

Setelah diresmikan sebagai identitas baru kawasan yang selama ini dikenal sebagai Tugu Singa hingga kemudian disebut Titik Nol, ruang publik ini mulai dimanfaatkan masyarakat dengan beragam cara. Pagi hari menjadi ruang aktivitas fisik dan interaksi warga.

- Advertisement -

Perempuan berkebaya Bali berpose di kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja, Singaraja, Buleleng, (dok pribadi).

Satu Tempat, Banyak Cerita

Menjelang sore, kawasan mulai dipenuhi masyarakat yang bersantai, berfoto, membuat konten, hingga melakukan pemotretan profesional. Ketika malam tiba, wajah kawasan kembali berubah. Panggung kreativitas pun mulai mengambil tempat, menjadikan ruang publik ini bukan sekadar tempat untuk berkumpul, tetapi juga ruang untuk mengekspresikan karya.

Bagi fotografer Ary Ulangun, misalnya, Praja Mandala menghadirkan alternatif baru untuk aktivitas fotografi. Karakter bangunan, ruang terbuka, serta suasana kawasan memberikan latar visual yang berbeda bagi karya fotografi.

“Coba kepala dinaikan sedikit, agak ke kanan sedikit. Badannya agak tegak ya. Lihat ke kamera, satu, dua, tiga,” ucap Ary Ulangun mengarahkan model fotonya, saat ditemui belum lama ini.

Salah satu hasil pemotretan yang dilakukannya bahkan mendapat sekitar 11.000 tanda suka dan ratusan komentar setelah diunggah ke media sosial. Respons tersebut kemudian membuat sejumlah masyarakat menghubunginya untuk menanyakan jasa pemotretan di kawasan tersebut.

“Setelah saya posting itu, termasuk banyak yang lihat di Instagram ada sekitar ratusan ribu yang lihat. Banyak sekali yang menghubungi, berapa harganya. Tentu dengan banyak permintaan foto disana, saya rasa teman-teman fotografher bisa mendapat pekerjaan tambahan,” kata dia.

Daya tarik Praja Mandala Singa Ambara Raja bagi fotografer tidak hanya terletak pada bangunan yang tertata. Karakter pencahayaan saat sore hari turut memberikan pilihan visual yang berbeda bagi setiap fotografer.

Kawasan tersebut juga memiliki keunggulan lain. Penataan lingkungan yang relatif bersih dari kabel melintang membuat latar foto terlihat lebih sederhana dan tidak terlalu terganggu elemen visual lainnya. Ornamen lampu serta keberadaan kursi di sejumlah titik juga memberikan tambahan estetika sekaligus ruang bagi masyarakat untuk menikmati suasana kawasan.

Namun, Ary tidak melihat Praja Mandala semata sebagai lokasi untuk berfoto. Menurut dia, kawasan itu memiliki potensi lebih besar apabila dikembangkan sebagai ruang publik yang dapat menampung berbagai aktivitas kreatif masyarakat.

“Lokasi ini punya potensi besar karena bisa menjadi ruang publik yang bisa digunakan untuk banyak hal. Bukan hanya untuk foto, tetapi juga untuk kegiatan kreatif lainnya,” kata Ary.

Pernyataan tersebut menunjukkan bagaimana sebuah ruang fisik dapat melahirkan aktivitas baru ketika masyarakat mulai menemukan kegunaannya. Fotografi menjadi salah satunya.

Tetapi tentu saja, sebuah kawasan publik tidak akan cukup hanya dengan menjadi latar foto. Tema besar mengenai wajah baru Praja Mandala justru terletak pada pertanyaan yang lebih sederhana. Setelah bangunan selesai dan kawasan diresmikan, apa yang akan dilakukan masyarakat di dalamnya?

Ruang Publik Baru yang Mulai Menghidupkan Singaraja

Pertanyaan itu penting karena ruang publik pada akhirnya bukan hanya persoalan arsitektur. Ia merupakan tempat bertemunya manusia dengan manusia lainnya.

Di sanalah anak muda dapat menemukan ruang untuk berekspresi. Komunitas dapat bertemu dan menyusun kegiatan. Pelaku UMKM dapat memperkenalkan produk. Seniman dapat mempertunjukkan karya. Bahkan warga lanjut usia dapat memiliki tempat yang nyaman untuk bergerak dan bersosialisasi.

Jika aktivitas tersebut berlangsung secara konsisten, Praja Mandala tidak hanya menjadi tempat yang ramai dikunjungi, tetapi dapat tumbuh menjadi ruang yang memiliki kehidupan.

Pemerintah Kabupaten Buleleng sendiri mengarahkan kawasan tersebut sebagai ruang publik yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai aktivitas. Pertunjukan musik, seni, peragaan busana, hingga kegiatan komunitas dapat mengambil tempat di kawasan tersebut.

Bupati Buleleng dr. I Nyoman Sutjidra mengatakan Praja Mandala merupakan ruang publik milik masyarakat. Karena itu, pemerintah mendorong komunitas untuk memanfaatkannya sebagai ruang berkarya sekaligus menghidupkan Kota Singaraja.

Pemerintah juga menyiapkan sejumlah fasilitas pendukung, seperti jaringan Wi-Fi, kamera pengawas atau CCTV, serta area pertunjukan. Pemanfaatan kawasan nantinya diarahkan melalui pengaturan jadwal sehingga berbagai komunitas dapat menggunakan ruang tersebut secara bergantian.

“Ini adalah ruang publik milik masyarakat. Kami ingin semakin banyak komunitas memanfaatkannya untuk berkarya dan menghidupkan Kota Singaraja,” kata dia.

Kawasan titik nol tersebut, kini telah resmi memiliki nama Praja Mandala Singa Ambara Raja. Penetapan ini menandai lahirnya identitas baru ikon kota setelah melalui sayembara yang diikuti 868 peserta dari seluruh Kabupaten Buleleng.

Sutjidra menjelaskan, penetapan nama tidak hanya mempertimbangkan kreativitas, tetapi juga nilai sejarah dan budaya. Seluruh usulan terlebih dahulu dikaji oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng bersama tokoh masyarakat serta tokoh puri.

Menurutnya, Praja Mandala Singa Ambara Raja mengandung filosofi sebagai pusat pemerintahan yang berwibawa dengan semangat kepemimpinan Panji Sakti yang visioner, kuat, dan mengayomi masyarakat.

“Nama ini memiliki filosofi sebagai pusat pemerintahan yang berwibawa, berlandaskan semangat kepemimpinan Panji Sakti yang visioner, kuat, dan mengayomi masyarakat,” katanya.

Proyek strategis tersebut mengantongi pagu anggaran sebesar Rp24,9 miliar. Berdasarkan hasil tender, pekerjaan penataan kawasan Tugu Singa Ambara Raja atau Titik Nol dimenangkan oleh PT Taman Bunga Indah dengan nilai kontrak Rp24,43 miliar.

Sementara pembangunan Gedung Laksmi Graha dikerjakan oleh CV Cadudasa Pratama dengan nilai kontrak Rp13,92 miliar dari pagu Rp15 miliar. Pengerjaan proyek tersebut dilakukan selama 135 hari. Proyek tersebut pun telah diresmikan dan dipelaspas berbarengan dengan penetapan nama Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja pada Rabu, 29 Juli 2026.

Setelah revitalisasi Titik Nol rampung, Pemkab Buleleng mulai menata kawasan Jalan Diponegoro, Singaraja, menjadi pusat kuliner dan ruang publik baru. Kawasan yang selama ini menghadapi persoalan sanitasi dan kesan kumuh itu akan disulap menjadi area yang lebih tertata hingga terhubung dengan Pelabuhan Buleleng.

Penataan kawasan tersebut akan mengusung konsep pedestrian luas seperti kawasan Titik Nol. Pemerintah akan menjadikan Jalan Diponegoro sebagai sentra kuliner khas Buleleng dengan konsep menyerupai pasar malam.

Selain lokasi kuliner, kawasan itu juga akan dilengkapi area food truck dan ruang bagi komunitas untuk menggelar kegiatan. Pemerintah berharap kawasan tersebut menjadi ruang publik baru yang mampu menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.

Pemkab Buleleng juga akan membenahi sistem sanitasi untuk menghilangkan persoalan bau dan kesan kumuh yang selama ini melekat di kawasan tersebut. Penataan Jalan Diponegoro menelan anggaran sekitar Rp5 miliar. Pengerjaan diproyeksikan berlangsung selama tiga hingga empat bulan setelah kontraktor ditetapkan.

Selain pembangunan fisik, pemerintah juga akan mengatur keberadaan parkir dan pedagang bermobil di sepanjang Jalan Diponegoro. Area parkir nantinya diarahkan berada di sisi barat jalan agar kawasan tetap tertib dan nyaman bagi masyarakat.

“Sanitasinya kita benahi supaya tidak seperti sekarang yang berbau dan terlihat kumuh. Kita ingin kawasan itu benar-benar tertata dan menjadi wajah Kota Singaraja,” jelas Sutjidra.

Keramaian Mulai Tumbuh, Ekonomi Jadi Tantangan Berikutnya

Namun, tantangan berikutnya bukan sekadar membuat masyarakat datang. Bagaimana membuat mereka tinggal lebih lama? Bagaimana membuat aktivitas yang berlangsung di dalamnya memberikan manfaat ekonomi? Dan bagaimana memastikan kawasan tersebut tetap memiliki identitas sebagai ruang publik, bukan berubah menjadi tempat komersial semata?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting ketika Praja Mandala mulai menjadi magnet baru di pusat kota.

Akademisi Institut Mpu Kuturan, Dr. I Putu Mardika, melihat kawasan tersebut memiliki peluang untuk menjadi bagian dari jejaring wisata sejarah Kota Singaraja.

Menurut dia, Praja Mandala dapat dihubungkan dengan sejumlah kawasan heritage lainnya sehingga wisatawan maupun masyarakat tidak hanya datang untuk melihat satu titik, tetapi dapat memperoleh pengalaman yang lebih utuh tentang sejarah kota.

“Jadi titik-titik heritage itu ketika dihubungkan dia akan membentuk citra bahwasannya Singaraja ini direbranding sebagai kota yang lekat dengan kesejarahan,” ujar Mardika.

Ia menilai pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara romantisme sejarah kolonial dengan identitas lokal. Dengan demikian, Praja Mandala tidak hanya menjadi ruang yang indah secara visual, tetapi juga memiliki karakter yang kuat sebagai bagian dari Kota Singaraja.

Mardika mengatakan, pembangunan kawasan Praja Mandala saat ini telah mampu memancing kerumunan dan aktivitas masyarakat. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya dikonversi menjadi aktivitas ekonomi.

“Karena selama ini bangunan ada tetapi dampak ekonomi belum dirasakan. Karena memang belum ada spot-spot ekonomi yang menjadi trigger untuk terjadinya pertukaran uang jadi ini sudah memancing kerumunan cuman potensi keuangan pemancing ekonominya itu belum ada,” ucapnya.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu mulai membangun ekosistem ekonomi yang tidak menghilangkan karakter Praja Mandala sebagai ruang publik. Penyediaan titik kuliner, coffee shop, maupun ruang usaha yang tertata dapat menjadi pilihan untuk mengubah keramaian pengunjung menjadi aktivitas ekonomi.

“Kemudian menambah tenant-tenant kuliner yang itu masih belum ada, seperti coffee shop, yang memang digandrungi gen Z. Bukan berarti menyarankan agar ruang itu ada orang berdagang, tetapi disiapkan titik spot seperti di Jogja misalnya orang ngopi dengan landmark Tugu Yogyakarta itu akan memberikan sensasi tersendiri,” kata dia.

Menurut Mardika, keberadaan titik ekonomi tersebut dapat menjadi pemicu perputaran uang sekaligus memperpanjang waktu tinggal pengunjung di kawasan Praja Mandala. Konsepnya bukan menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat perdagangan, melainkan menyediakan pengalaman yang membuat masyarakat memiliki alasan untuk datang, berlama-lama, dan kembali lagi.

Peluang tersebut juga dapat diperluas melalui pengembangan transportasi tradisional seperti dokar. Mardika menilai dokar dapat dikemas sebagai bagian dari pengalaman wisata heritage yang menghubungkan Praja Mandala dengan sejumlah titik bersejarah di Kota Singaraja.

“Misalnya seminggu sekali kendaraan dialihkan tetapi itu dimaksimalkan. Karena kalau kita melihat misalnya kawasan Malioboro setiap sore begitu menginjak pukul 18.00 kendaraan dialihkan sehingga tidak terlalu ramai orang bisa bebas jalan kaki Andong boleh warawiri dan itu menemukan trigger ekonomi,” ujarnya.

Mardika mengusulkan pemerintah membuat skema khusus bagi dokar, mulai dari waktu operasional, titik keberangkatan, rute, hingga tarif. Pengelola dokar juga dapat diberikan dukungan agar kendaraan tetap bersih dan layak menjadi bagian dari atraksi kota.

“Misalnya dari jam berapa sampai jam berapa boleh dokar beroperasi minimal mulai dulu, dari 10 dokar startnya dari mana finishnya dimana, bayarnya berapa dan mereka bisa berkeliling Kota Singaraja, ini akan menambah ruang ekonomi,” katanya.

Dengan konsep tersebut, Praja Mandala tidak berdiri sebagai destinasi tunggal. Kawasan itu dapat menjadi titik awal perjalanan yang menghubungkan pengunjung dengan jejak sejarah, kuliner, ruang kreatif, serta berbagai aktivitas masyarakat di Kota Singaraja.

Selain membangun ruang ekonomi, keberlangsungan aktivitas publik juga menjadi faktor penting. Mardika mendorong pemerintah membuat agenda rutin di Praja Mandala, bukan hanya kegiatan insidental ketika ada momentum tertentu.

Kegiatan tersebut dapat berupa pertunjukan seni, diskusi, seminar, kegiatan anak muda, pameran, hingga pertunjukan fesyen. Namun, pelaksanaan kegiatan perlu mempertimbangkan keamanan dan arus lalu lintas.

Mardika menilai kegiatan yang digelar di kawasan tersebut sudah mulai memperlihatkan potensi sebagai ruang kreatif. Masyarakat juga secara sukarela memanfaatkan Praja Mandala sebagai latar foto dan konten media sosial.

“Jadi pemerintah sudah mendapatkan free publicity lewat pemberitaan dari media masa karena memang nuansa itu begitu dicari,” ujarnya.

Dari hal itu, muncullah pekerjaan rumah berikutnya. Keramaian harus diubah menjadi ekosistem. Dengan konsep semacam itu, Praja Mandala tidak berhenti sebagai satu titik tujuan. Ia menjadi titik awal untuk menyusuri Singaraja.

Namun, sebelum berbicara terlalu jauh tentang wisata dan ekonomi, ada kehidupan lain yang sudah lebih dahulu hadir setiap pagi.

Para lansia. Mereka tidak datang membawa kamera profesional. Tidak pula datang dengan agenda pertunjukan. Mereka hanya datang untuk bergerak. Berjalan kaki, melakukan peregangan, berjemur, atau berbincang dengan teman-teman sebaya.

Bagi mereka, ruang publik yang nyaman memiliki nilai yang jauh lebih sederhana. Tersedia tempat untuk beraktivitas dan bertemu orang lain. Aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan sebuah ruang publik tidak selalu harus diukur dari jumlah acara besar yang diselenggarakan.

Kadang, keberhasilannya justru dapat dilihat dari apakah seorang lansia merasa nyaman datang seorang diri pada pagi hari. Apakah seorang anak muda merasa memiliki tempat untuk berkarya. Apakah sebuah komunitas merasa memiliki ruang untuk berkumpul. Apakah seorang fotografer menemukan ruang untuk menghasilkan karya. Dan apakah seorang pedagang dapat memperoleh manfaat ekonomi dari keramaian yang tercipta.

Jika semua itu mulai terjadi, Praja Mandala tidak lagi sekadar sebuah kawasan baru. Ia telah menjadi ruang hidup. Di sinilah nama Praja Mandala Singa Ambara Raja memperoleh makna yang lebih dalam.(*)

Pewarta: Kadek Yoga Sariada

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru