Singaraja, koranbuleleng.com| Lonjakan kasus tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Buleleng memunculkan kekhawatiran serius. Dalam rentang dua tahun terakhir, sebanyak 240 warga dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit menular tersebut, terhitung sejak 2024 hingga 2025.
Data ini menjadi alarm bagi sektor kesehatan di Buleleng, mengingat angka kematian masih cukup tinggi di tengah upaya penanggulangan yang terus digencarkan pemerintah daerah.
Kepala Dinas Kesehatan Buleleng, Sucipto, memaparkan bahwa sepanjang 2024 tercatat 1.072 kasus TBC dengan jumlah kematian mencapai 121 orang.
“Kemudian pada 2025, jumlah kasus tercatat 1.031 dengan angka kematian mencapai 119 orang,” ujar Sucipto, 27 April 2026.
Dari sisi penanganan, pemerintah mencatat perkembangan pengobatan yang cukup signifikan. Pada 2025, sebanyak 991 pasien menjalani terapi medis. Dari jumlah tersebut, 501 pasien berhasil dinyatakan sembuh atau menyelesaikan pengobatan, sementara 303 pasien lainnya masih menjalani proses pengobatan.
Namun demikian, tantangan tetap muncul. Sebanyak 64 pasien tercatat putus berobat (loss to follow up), dan tiga pasien mengalami kegagalan dalam proses pengobatan.
Situasi serupa juga terjadi pada tahun sebelumnya. Pada 2024, dari total 994 pasien yang mendapatkan pengobatan, sebanyak 769 pasien dinyatakan sembuh. Di sisi lain, 92 pasien putus berobat dan 11 pasien mengalami kegagalan terapi.
Memasuki 2026, tren kasus masih terus dipantau secara ketat. Hingga 24 April 2026, terdapat 1.649 warga Buleleng yang masuk kategori suspek TBC. Dari jumlah tersebut, 300 orang telah dipastikan positif TBC.
“Dari jumlah tersebut, 273 pasien di antaranya telah diobati, dan tiga orang meninggal sebelum pengobatan,” ungkap dia.
Sucipto menegaskan bahwa kunci utama dalam memutus rantai penularan TBC terletak pada kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan secara rutin hingga selesai.
“Pengobatan penderita TBC merupakan langkah utama untuk memutus mata rantai penularan, termasuk melalui deteksi dini dan pendampingan minum obat,” katanya.
Selain pengobatan, langkah pencegahan juga terus diperkuat. Masyarakat diimbau untuk menerapkan etika batuk yang benar, menggunakan masker, serta memastikan ventilasi rumah tetap optimal agar sirkulasi udara berjalan baik.
Upaya lain yang dilakukan meliputi pemeriksaan terhadap kontak erat pasien serta pemberian terapi pencegahan TBC (TPT) guna menekan potensi penyebaran penyakit.
Di sisi sosial, Dinas Kesehatan Buleleng juga menyoroti pentingnya menghapus stigma terhadap penderita TBC. Edukasi terus digencarkan agar masyarakat tidak ragu untuk melakukan pemeriksaan dan menjalani pengobatan sejak dini.
“Edukasi masyarakat penting agar tidak ada stigma, sehingga penderita bisa segera terdeteksi dan diobati,” ujar Sucipto.
Dari sisi demografi, penyakit ini paling banyak menyerang kelompok usia produktif, yakni antara 15 hingga 54 tahun. Rata-rata pasien berada pada kisaran usia 44 tahun hingga kelompok 45–54 tahun.
Selain itu, kelompok balita dan remaja juga termasuk kategori rentan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat kontak erat dengan penderita TBC atau memiliki penyakit penyerta.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

