Perumda Tirta Hita Pertahankan Tarif Air hingga Akhir 2026 Meski Biaya Operasional Melonjak

Singaraja,koranbuleleng.com| Gelombang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai merembet ke sektor pelayanan publik di Kabupaten Buleleng. Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng kini menghadapi tekanan biaya yang semakin besar, mulai dari operasional armada hingga harga material perpipaan. Kendati demikian, perusahaan daerah tersebut memastikan tarif air pelanggan tidak mengalami kenaikan sampai penghujung tahun 2026.

Dampak kenaikan BBM tidak hanya dirasakan pada kebutuhan transportasi. Harga berbagai komponen yang digunakan untuk menjaga keberlangsungan distribusi air bersih ikut terdorong naik, terutama material berbahan dasar plastik yang menjadi tulang punggung jaringan perpipaan.

- Advertisement -

Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng, Made Lestariana, mengungkapkan kenaikan paling signifikan terjadi pada material pipa jenis PVC dan HDPE yang selama ini digunakan untuk pemeliharaan serta perluasan jaringan layanan air minum.

“Kenaikan harga material terutama yang berbahan plastik cukup terasa. Beberapa jenis material mengalami kenaikan hingga sekitar 30 persen,” ujar Lestariana, Jumat, 12 Juni 2026.

Lonjakan harga tersebut otomatis meningkatkan kebutuhan anggaran perusahaan. Namun, manajemen memilih mengambil langkah pengendalian internal dibandingkan membebankan tambahan biaya kepada pelanggan.

Sejumlah pos operasional dievaluasi untuk menekan pengeluaran tanpa mengurangi kualitas layanan. Langkah efisiensi ini dinilai menjadi solusi paling realistis di tengah meningkatnya harga bahan baku dan biaya operasional lainnya.

- Advertisement -

“Strategi kami adalah melakukan efisiensi di sejumlah kegiatan operasional. Material memang naik, tetapi di sisi lain kami berupaya menekan biaya sehingga kestabilan beban operasional tetap terjaga,” katanya.

Tekanan biaya juga dirasakan pada layanan distribusi darurat. Perumda Tirta Hita mengoperasikan dua unit mobil tangki untuk melayani pelanggan saat terjadi gangguan distribusi air di sejumlah wilayah.

Armada tersebut menggunakan Pertamina Dex sebagai bahan bakar. Dalam satu siklus pelayanan darurat, biaya pengisian bahan bakar dapat mencapai sekitar Rp800 ribu dengan masa operasional selama dua hingga tiga hari.

“Ketika ada gangguan pelayanan, mobil tangki harus tetap beroperasi. Itu yang paling terasa karena biaya bahan bakarnya cukup tinggi,” jelasnya.

Kondisi ini membuat perusahaan harus bekerja lebih cermat dalam mengelola anggaran agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan normal meskipun biaya operasional terus mengalami kenaikan.Di tengah meningkatnya tekanan biaya, masyarakat Buleleng mendapat kepastian bahwa tarif air tidak akan mengalami penyesuaian hingga akhir tahun.

Menurut Lestariana, tarif yang berlaku saat ini telah ditetapkan sejak awal tahun melalui mekanisme yang berlaku. Karena itu, perubahan tarif tidak dapat dilakukan di tengah periode berjalan.

“Tarif yang berlaku saat ini tetap sampai akhir tahun. Tidak bisa dilakukan koreksi tarif di pertengahan tahun,” tegasnya.

Kebijakan tersebut menjadi angin segar bagi pelanggan, terutama ketika berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya mengalami kenaikan akibat dinamika ekonomi dan penyesuaian harga BBM.Berbeda dengan tarif pelanggan aktif yang dipastikan tetap, Perumda Tirta Hita masih mengkaji kemungkinan dampak kenaikan harga material terhadap biaya pemasangan sambungan baru.

Kajian tersebut dilakukan untuk menghitung keseimbangan antara biaya investasi jaringan dengan kemampuan perusahaan dalam menjaga keberlanjutan layanan.Sampai saat ini, belum ada keputusan terkait perubahan biaya pemasangan bagi calon pelanggan baru. Manajemen masih melakukan evaluasi sebelum menentukan kebijakan lebih lanjut.

“Kami masih melakukan perhitungan. Yang terpenting saat ini adalah menjaga kualitas pelayanan kepada masyarakat,” kata Lestariana.

Tantangan yang dihadapi Perumda Tirta Hita tidak hanya berasal dari lonjakan harga material dan BBM. Sistem distribusi air di sejumlah wilayah Buleleng masih bergantung pada pompa yang menggunakan pasokan listrik.bKetika terjadi pemadaman ataupun gangguan tegangan listrik, distribusi air berpotensi mengalami hambatan.

Situasi tersebut menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi perusahaan dalam menjaga kontinuitas pelayanan. Untuk mengurangi risiko gangguan, Perumda Tirta Hita terus memperkuat koordinasi dengan PLN sekaligus melakukan penyempurnaan sistem perpompaan dan panel kelistrikan. Langkah ini dilakukan agar suplai air bersih kepada pelanggan tetap berjalan optimal meskipun menghadapi berbagai tantangan operasional.(*)

Pewarta: Kadek Yoga Sariada

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru