Singaraja, koranbuleleng.com| Kerajinan amigurumi buatan Sonia Della Mustika Larossani (29) dari Kelurahan Beratan, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, berhasil menembus pasar internasional. Sejak 2024, boneka rajut tiga dimensi hasil produksi rumahan tersebut rutin dikirim ke sejumlah negara, di antaranya Belanda dan Australia.
Tak hanya menyasar pasar luar negeri, produk handmade itu juga memiliki nilai jual tinggi. Salah satu karya karakter Jegeg Bali berukuran sekitar 22 hingga 23 sentimeter pernah terjual hingga Rp5 juta kepada pembeli dari luar negeri.
Amigurumi menjadi produk utama yang dikembangkan Sonia. Kerajinan rajut asal Jepang tersebut dibuat dengan tingkat ketelitian tinggi karena setiap tusukan benang harus dihitung secara presisi agar menghasilkan bentuk sesuai desain.
“Kalau hitungannya salah sedikit saja, bentuknya pasti tidak sempurna. Itu yang membuat amigurumi lebih rumit,” kata Sonia, ditemui belum lama ini.
Sonia kini mampu memproduksi beragam karakter. Mulai dari gadis berhijab hingga karakter Jegeg Bali lengkap dengan rambut, pakaian adat, serta berbagai aksesori yang dikerjakan secara detail.
Karakter Jegeg Bali menjadi salah satu produk yang memiliki daya tarik tersendiri. Detail rambut dan pakaian menjadi bagian paling rumit dalam proses pembuatannya. Untuk satu amigurumi premium, Sonia bahkan membutuhkan waktu pengerjaan hingga dua bulan.
“Yang paling rumit itu detail rambut dan bajunya. Semakin detail, semakin lama pengerjaannya,” ungkapnya.
Perkembangan permintaan membuat usaha yang awalnya dikerjakan sendiri tersebut ikut membuka ruang bagi perajin lain. Saat ini, Sonia telah melibatkan enam orang perajin untuk membantu proses produksi.
Namun, penambahan tenaga kerja tidak dilakukan sembarangan. Sonia tetap mempertahankan standar kualitas karena produk amigurumi membutuhkan kerapian dan ketepatan dalam setiap bagian rajutan.
“Tidak bisa asal cari orang. Rajutannya harus benar-benar rapi supaya hasilnya sesuai standar,” jelasnya.
Bahan baku utama berupa benang milk cotton didatangkan dari Jakarta dan Bandung. Setelah diproduksi, amigurumi dipasarkan melalui media sosial, pameran UMKM, serta sistem penjualan siap kirim dan *pre-order*.
Selain boneka premium, Sonia juga mengembangkan produk berukuran lebih kecil berupa gantungan kunci amigurumi. Produk tersebut dibanderol mulai Rp35 ribu dan cukup diminati anak-anak karena bentuknya yang lucu.
Kapasitas produksi disesuaikan dengan tingkat kerumitan produk. Untuk gantungan kunci berukuran kecil, Sonia dapat menyelesaikan sekitar lima buah dalam sehari. Sementara karya dengan detail tinggi membutuhkan waktu pengerjaan jauh lebih panjang.
Perjalanan usaha tersebut bermula saat pandemi Covid-19 pada 2021. Ketika aktivitas masyarakat dibatasi, Sonia justru mulai mengenal amigurumi melalui media sosial. Ketertarikannya muncul setelah melihat boneka rajut tiga dimensi yang dinilai lucu, tetapi ketika itu ia belum memiliki cukup biaya untuk membelinya.
“Awalnya waktu Covid tidak boleh ke mana-mana. Saya lihat di media sosial lucu, tapi tidak punya uang untuk beli. Akhirnya belajar sendiri lewat YouTube,” ujar Sonia.
Dari sana, Sonia belajar secara otodidak hingga berhasil membuat amigurumi pertamanya berbentuk lebah. Kemampuan tersebut kemudian terus diasah sampai mampu menghasilkan karakter dengan tingkat detail yang jauh lebih tinggi.
Sebelum fokus mengembangkan usaha kreatif tersebut, Sonia pernah bertugas di lingkungan kepolisian di Polres Lampung Tengah. Ia kemudian memilih meninggalkan pekerjaan tersebut dan menekuni bisnis amigurumi.
Kini, aktivitas merajut yang bermula dari rumah tidak hanya menghasilkan produk kerajinan bernilai ekonomi, tetapi juga berkembang menjadi usaha yang melibatkan perajin lain dan memiliki pasar hingga ke luar negeri.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

