Singaraja,koranbuleleng.com| Direksi baru Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng mendapat target meningkatkan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) hingga Rp12 miliar pada akhir masa jabatan 2026-2031. Namun, target tersebut dibayangi persoalan kehilangan air yang masih mencapai sekitar 21 persen.
Target itu disampaikan Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra selaku Kuasa Pemilik Modal (KPM), usai melantik Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng I Made Lestariana dan Direktur Teknik I Nyoman Suwirta, Jumat, 14 Agustus 2026.
Kontribusi PAD yang saat ini berada di kisaran Rp9 miliar akan dinaikkan secara bertahap setiap tahun. Direksi baru dituntut mampu meningkatkan pendapatan sekaligus memperbaiki efisiensi perusahaan.
“Kita naikkan targetnya. Pokoknya saya tingkatkan 10 persen sesuai dengan bunga bank. Kita realistis melalui potensi-potensi yang ada dan jaringan yang kita miliki,” ujar Sutjidra.
Pemkab Buleleng juga mendorong Perumda mencari sumber pembiayaan alternatif. Skema kerja sama dengan pihak ketiga melalui pola business-to-business (B2B) menjadi salah satu opsi yang didorong.
Langkah itu ditempuh karena Pemkab Buleleng tidak ingin peningkatan kinerja Perumda terlalu bergantung pada penyertaan modal daerah, terutama ketika kemampuan keuangan daerah terbatas.
Sutjidra menegaskan setiap kerja sama pembiayaan harus tetap memberikan keuntungan bagi Perumda. “Creative financing. Kerja sama, tapi tidak mengurangi dari profit yang diterima oleh Perumda,” kata dia.
Ditempat yang sama, Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng I Made Lestariana mengatakan, target tersebut menjadi tantangan bagi jajaran direksi baru. Dalam rencana bisnis perusahaan, setoran PAD akan dinaikkan bertahap hingga mencapai Rp12 miliar pada akhir masa jabatan.
“Tahun ini kita memberikan kontribusi terhadap PAD di angka Rp9 miliar. Kemudian ini ditingkatkan terus ke depan jadi Rp9,5 miliar, kemudian Rp10 miliar, Rp10,5 miliar, Rp11 miliar, dan Rp12 miliar,” kata Lestariana.
Menurut Lestariana, salah satu kunci untuk mencapai target tersebut adalah menekan tingkat kehilangan air atau Non-Revenue Water (NRW). Saat ini NRW Perumda Tirta Hita Buleleng masih berada di sekitar 21 persen, meski angka tersebut sudah turun dari sebelumnya sekitar 23 persen.
Direksi baru menargetkan kehilangan air dapat ditekan hingga di bawah 20 persen. Sementara Sutjidra meminta penurunannya lebih jauh, yakni berada pada kisaran 15-17,5 persen.
Penurunan NRW menjadi penting karena air yang hilang akibat kebocoran jaringan maupun faktor administratif tidak dapat memberikan pendapatan bagi perusahaan. Semakin kecil kehilangan air, semakin besar volume air yang dapat tercatat sebagai penjualan kepada pelanggan.
Persoalan tersebut tidak sederhana. Perumda Tirta Hita Buleleng saat ini memiliki jaringan pipa transmisi dan distribusi dengan panjang sekitar 1 juta meter. Sebagian jaringan tersebut telah berusia tua, bahkan terdapat pipa peninggalan zaman Belanda.
“Jadi kalau sudah banyak terjadi kebocoran di jaringan pipa itu, otomatis segera harus dilakukan penggantian atau peremajaan,” ujarnya.
Selain mengejar kontribusi PAD, direksi baru juga mendapat mandat memperbaiki kualitas pelayanan air minum. Perbaikan mencakup kuantitas, kualitas, kontinuitas hingga perluasan cakupan layanan kepada masyarakat.
Bagi direksi baru, target Rp12 miliar akhirnya bukan hanya persoalan meningkatkan setoran ke kas daerah. Target tersebut juga menuntut Perumda membenahi jaringan, mengurangi air yang hilang dan memastikan peningkatan pendapatan berjalan seiring dengan pelayanan kepada pelanggan.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

