Singaraja, koranbuleleng.com | Ketimpangan investasi antara Bali Utara dan Bali Selatan menjadi pekerjaan rumah dalam pemerataan ekonomi Bali. Kabupaten Buleleng pun didorong berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui penguatan infrastruktur, konektivitas wilayah, serta industri pengolahan berbasis potensi lokal.
Persoalan tersebut mengemuka dalam Forum Group Discussion (FGD) BALINOMICS Triwulan III yang digelar di Rumah Jabatan Bupati Buleleng, Kamis, 5 November 2026. Forum yang melibatkan Pemerintah Kabupaten Buleleng, Bank Indonesia, akademisi, dan sejumlah pemangku kepentingan itu membahas penguatan sumber pertumbuhan ekonomi Bali.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani, mengakui pemerataan investasi dan pembangunan infrastruktur masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Aktivitas investasi yang belum merata antara Bali Selatan dan Bali Utara dinilai perlu mendapat perhatian agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya terkonsentrasi di wilayah tertentu.
Pembahasan BALINOMICS mencakup empat fokus utama, yakni pariwisata sebagai sumber pertumbuhan ekonomi, pemerataan investasi dan pembangunan infrastruktur, penguatan UMKM serta sektor produksi komoditas pangan, dan pengembangan potensi ekonomi Bali Utara.
Menurut Achris, pengembangan Bali Utara perlu didasarkan pada potensi ekonomi yang dimiliki wilayah tersebut. Salah satu peluang yang disoroti adalah industri pengolahan berbasis hasil pertanian dan kelautan.
Pengembangan industri tersebut dinilai dapat meningkatkan nilai tambah komoditas lokal melalui pemanfaatan teknologi dan inovasi, termasuk pengolahan produk ekstrak alami. Dengan demikian, hasil pertanian dan kelautan tidak hanya dipasarkan sebagai komoditas mentah, tetapi berpeluang menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.
“Harapannya, ini menjadi semangat bersama untuk mendorong pengembangan industri pengolahan yang memberikan nilai tambah, tetapi tetap menjaga lingkungan Bali. Potensi ekonomi harus dikembangkan tanpa merusak alam yang menjadi salah satu kekuatan utama pariwisata Bali,” jelas Achris Sarwani.
Achris menambahkan, pembahasan potensi Bali Utara merupakan tindak lanjut dari rangkaian diskusi BALINOMICS sebelumnya. Peninjauan langsung diperlukan untuk memahami peluang dan tantangan pengembangan ekonomi di wilayah tersebut.
Di sisi lain, penguatan ekonomi Bali Utara juga membutuhkan konektivitas antarkawasan dan dukungan infrastruktur. Asisten II Setda Buleleng, Putu Ayu Reika Nurhaeni menyebut, pemerataan ekonomi harus ditopang penataan kawasan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Menurutnya, pengembangan ekonomi Buleleng perlu mengintegrasikan sektor pertanian, perikanan, kebudayaan, dan pariwisata. Konektivitas antarsektor tersebut diharapkan mampu memperluas manfaat pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat.
Sektor pariwisata juga dinilai tidak cukup hanya mengejar jumlah kunjungan wisatawan. Pemerintah daerah mendorong peningkatan lama tinggal wisatawan agar aktivitas ekonomi yang muncul dapat memberikan dampak lebih luas.
“Pengembangan pariwisata bukan hanya untuk jumlah wisatawan, tetapi juga untuk lama mereka tinggal. Dengan demikian, seluruh aktivitas tersebut dapat memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat. Namun, kita tetap harus menjaga ekosistem pesisir dan lingkungan lainnya,” ungkapnya.
Reika menegaskan, pengembangan sektor pariwisata, kelautan, dan pertanian harus memiliki target serta indikator pencapaian yang terukur. Dengan begitu, pelaksanaan program dapat dievaluasi secara berkelanjutan.
Selain pengembangan industri dan pariwisata, penguatan UMKM serta produksi komoditas pangan juga menjadi perhatian. Sektor ini memiliki keterkaitan dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat sehari-hari sekaligus upaya pengendalian inflasi.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

