Anyaman Bambu Tigawasa, Lesu di Tanah Sendiri Laris di Tanah Orang Lain

Singaraja | Bambu memberi penghidupan bagi warga Desa Tigawasa, serta desa-desa lain yang masuk kawasan Bali Aga, di Buleleng. Betapa tidak, hutan bambu yang menjadi ciri khas desa di Desa Tigawasa mampu memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

Selama ini, bambu digunakan oleh warga Desa Tigawasa untuk membuat anyaman lalu dijual ke luar desa. Mulai dari anyaman Bedeg, Sokasi hingga saat ini berkembang menjadi sejumlah hiasan rumah berbahan bambu. Perkembangan inovasi kerajinan anyaman bambu dari terus berlangsung dari hari ke hari. Mereka juga lihai memanfaatkan kebutuhan pasar yang didongkrak dari sektor pariwisata.

- Advertisement -

Karena itulah, Anyaman bambu Tigawsa ini seringkali lebih laris di wilayah Bali Selatan dibandingkan bila dijual di Buleleng.

“Kami menjualnya juga di Buleleng, tetapi tidaklah selaris di Bali selatan. Di Bali Selatan selain sebagai kebutuhan harian untuk upacara adat, juga banyak diminati oleh wisatawan. Kalau saya jual ke pasar tradisional di Singaraja paling banyak setiap bulan hanya terjual 40 – 100 biji,” ujar salah satu perajin anyaman, Luh Librayani, Rabu (27/4).

Librayani menjual berbagai jenis kerajinan dari anyaman bambu, mulai dari Sokasi berbagai ukuran maupun hiasan rumah. Kadang di sering juga mendapatkan pesanan secara khusus dari sejumlah gallery kerajinan dari Ubud atau Kuta dan Nusa Dua.

Namun, jika Librayani menggarap pesanan maka harus sesuai dengan permintaan pemesannya. Jika tidak, barang pesanan itu  bisa dibatalkan oleh pemesannya. “Itu sudah jadi resiko, menggarap pesanan itu memang lebih sulit. Kadang beda sedikit saja mereka bisa komplain. Barang dikembalikan atau tidak jadi dibeli,” ujarnya.

- Advertisement -

Librayani selain sebagai perajin dia juga pengepulnya. Librayani mengambil anyaman dari rumah-rumah warga.

Di Desa Tigawasa, hampir setiap rumah tangga melakoni hidup sebagai perajin anyaman bambu. Awalnya, warga di Desa Tigawasa ini adalah perajin Bedeg dan Sokasi untuk tempat masakan dan bebantenan.

Saat ini, warga yang banyakmenganyam Bedeg berada di dusun Konci, Desa Tigawasa. Rata-rata warga di dusun ini lebih banyak mengayam Bedeg untuk dijual ke toko-toko Bangunan.

Kehidupan warga Desa Tigawasa sebagai perajin anyaman bambu tidak lepaz dari potensi desa yang memiliki hutan dan lahan perkebunan bambu yang cukup luas. Bahan bambu yang melimpah yang menjadikan mereka menyesuaikan dengan alamnya.

Kepala Desa Tigawasa, Made Swadarma Yasa mengakui potensi desanya menjadi salah satu sentral kerajina bambu di Buleleng. Namun kelemahannya, seringkali warga sebagai perajin dengan modal yang terbatas dirugikan oleh pasar.

“Kadang-kadang pengepulnya saja yang membeli dengan harga yang seenaknya. Mereka mengatur harga sedemkian rupa, sementara warga sebagai perajin tidak bisa berbuat apa-apa,” kata Swadarma Yasa.

Swardarma berencana untuk membuat Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) sebagai sentral jual beli kerajinan anyaman bambu di Desa TIgawasa. Bumdes akan mengatur harga yang pantas untuk jual belinya. Jika perlu, pengepul-pengepul yang selama ini membeli langsung ke warga supaya membeli melalui BUMDes.

Sebenarnya, bukan hanya di Desa Tigawasa banyak perajin anyaman bambu ini eksis. Di desa lain yang masuk dalam komunitas Desa Bali Aga yakni Desa Sidatapa, Desa Cempaga dan Desa Pedawa juga banyak warganya yang menganyam bambu. Jenis anyamannya sama, mulai dari Bedeg, Sokasi, Hiasan rumah.

Perajin anyaman bambu ini menjadi ciri khas tersendiri dalam kehidupan desa-desa di wilayah Bali Aga. Merekapun memasarkannya ke berbagai daerah, baik di Buleleng maupun daerah lain di Bali. |NP|

 

 

 

Komentar

Related Articles

spot_img

Latest Posts