Sidatapa, Markas Para Penganyam Bambu Tanpa Kebun Bambu

Singaraja, koranbuleleng.com | Warga Desa Sidatapa, di Kecamatan Banjar selama ini dikenal sebagai penganyam kerajinan bambu. Dari tangan terampil mereka, tercetak benda-benda kerajinan tradisional yang dimanfaatkan untuk sarana kehidupan masyarakat Bali. Semisal, keranjang, ngiu, guungan.

Tiga jenis kerajinan itu yang paling banyak dibuat oleh warga. Keranjang biasnya digunakan para petani untuk tempat rumput. Sementara Ngiu adalah anyaman bambu berbentuk bulat untuk membersihkan beras. Guungan, adalah ulatan bambu yang biasa digunakan masyarakat Bali sebagai kandang ayam tersendiri.

- Advertisement -

Ada beberapa warga yang juga membuat kerajinan dari Bambu untuk hiasan rumah, atau perlengkapan interior rumah atau villa. Biasanya, kaerjainan untuk interior ini pasarnya bisa menembus pasar internasional.

Jadi, hampir sembilan puluh persen lebih, masyarakat setempat memang menjadi penganyam bambu. Namun, walapun seluruh warga disini adalah perajin bambu, tetapi mereka harus membeli bahan baku bambu dari luar desa, terutama dari daerah Kabupaten Tabanan. Di desa Sidatapa, sangat sedikit hutan bambu untuk keperluan bahan kerajinan ini.

Sidatapa masuk dalam jajaran desa Bali aga, maka itu banyak hal unik ada disini. Bali aga itu terdiri dari Desa Sidatapa, Cempaga, Tigawasa, Pedawa dan Banyuseri. Beberapa desa itu juga banyak warganya menganyam bambu.

Seperti di Desa Tigawasa, secara khas warganya menganyam bedeg atau dinding bambu. Sebagian di Desa Cempaga dan Desa Pedawa juga ada warga yang menganyam atau memproduksi bedeg.

- Advertisement -

Dari kelima desa itu, yang paling dominan warganya masih menjalani pekerjaan menganyam bambu adalah Desa Sidatapa dan Desa Tigawasa.

Desa Sidatapa terletak di wilayah ketinggian kurang lebih 600 diatas permukaan laut. Desa ini sebenarnya dikelilingi gugusan bukit dan lembah. Desa Sidatapa berbatasan langsung dengan desa-desa lain di Bali aga.

Jika berkunjung ke Desa Sidatapa, bisa masuk dari wilayah Desa Dencarik, di Kecamatan Banjar, lalu menuju ke arah selatan di Desa Tampekan, setelah itu baru bertemu dengan Desa Sidatapa.

Membaca profil Pemerintah Desa Sidatapa, luas desa Sidatapa mencapai 965,43 hektar. Letak desa di wilayah ketinggian membuat desa ini sebenarnya sangat subur. Disini, adalah penghasil buah cengkeh, serta tanaman perkebunan buah-buahan. Sedikit sekali ada perkebunan bambu, yang menjadi bahan baku kerajinan anyaman bambu di Desa Sidatapa.

Wayan Arba, salah satu warga yang masih setia menjalani pekerjaan sebagai penganyam bambu ini. Dia bersama keluarganya menganyam berbagai bentuk anyaman itu.

“Saya sendiri sudah lama menjadi perajin, ini pekerjaan turun temurun dari nenek moyang kami,” ucap Arba.

Hasil anyaman bambu itu dijual ke para pengepul. Di desa ini, banyak warga yang membuka usaha sebagai pengepul anyaman bambu. Para pengepul inilah yang membeli kerajinan warga Desa Sidatapa lalu mengedarkan ke seluruh pelosok pasar tradisional di Bali.

Jangan heran, hasil kerajinan warga desa Sidatapa ini tidak hanya beredar di Bali, namun sebagian ada yang dibawa ke Jawa Timur.

Arba menjelaskan, kendala selama ini sebenarnya pada bahan baku. Karena sebagian besar warga di Desa Sidatapa harus membeli bahan baku dari pihak luar.

“Mungkin nanti ada yang peduli agar ada yang menanam bambu di desa Sidatapa supaya kita tidak jauh-jauh membeli bambu,” katanya dengan bahasa khas Desa Sidatapa.

Arba tinggal di Dusun Lakah, Desa Sidatapa. Dusun ini juga sangat indah. Pagi dan sore adalah waktu yang tepat menikmati suasana alam disini.  Berdiri di Dusun Lakah, akan melihat banyak keindahan. Pesisir Buleleng terlihat terbentang dari wilayah timur ke Barat.

Seorang wisatawan ikut belajar menganyam bambu |FOTO : Putu Nova A.Putra|

Kondisi alam yang indah dengan pekerjaan warga sebagai penganyam bambu, menjadikan desa ini selalu dikunjungi wisatawan asing. Banyak, wisatawan yang ingin belajar menganyam walaupun hanya sekedar saja.

“Sangat unik, warga disini menganyam dengan sangat cekatan. Mereka terbuka terhadap kami, sangat ramah,” ucap seorang wisatawan, Kimberly Kynn.

Kimberly Kynn datang bersama teman-temannya. Kebetulan, Kimberly Kynn juga diundang menjadi volunteer untuk mengajar bahasa Ingris di Sidatapa Engslish Corner (SEC).

Kimberly merasa tertegun dengan keindahan, keunikan dan keramahan Desa Sidatapa, Kim yang juga sorang guru yoga merasa potensi Desa Sidatapa dan nilai-nilai tradisinya yharus tetap dijaga dengan baik, terutama alam jangan sampai rusak. |Putu Nova A.Putra|

Komentar

Related Articles

spot_img

Latest Posts