More

    Potensi Pasar Cabai Tinggi, Harus Mulai Dikelola Secara Organik

    Gede Komang |FOTO : Putu Nova A.Putra|

    Singaraja, koranbuleleng.com | Sekitar setengah hektar lahan di Desa Panji Anom, Kecamatan Sukasada, dikontrak oleh Gede Komang untuk ditanami bibit cabai unggul jenis Dewata 43 F1. Gede Komang, mantan birokrat Buleleng yang telah pensiun dan kini menekuni dunia pertanian.

    Bibit cabe dewata 43 F1 merupakan cabai rawit hibrida yang direkomendasikan untuk ditanam di dataran rendah sampai tinggi. 

    Tumbuhan ini menyemak, dengan potensi hasil panen antara 0,6-0,8 kg per tanaman. Dalam satu kilogram cabai, terdapat 450-500 buah cabai dengan ukuran rata-rata panjang 4-5 cm dengan diameter 0,6-0,7 cm.  

    Sementara umur panen  bervariasi menurut dataran tempat tanam, antara 70-75 hari setelah tanam. Cabai jenis ini dapat dipanen dalam tiga tingkat kematangan dengan ditandai tiga warna berbeda. Yakni, warna muda (kuning) setengah matang (oranye) dan matang (merah cerah).

    “Itu keunggulannya. Dalam waktu lebih dari 80 hari bisa petik merah, kalau dipetik 60 hari warna cabai masih hijau, 70 – 75 hari warna masih oranye dan 80 hari masa petik bisa berwarna merah,” terang Gede Komang saat ditemui di ladangnya, Jumat 10 Juli 2020.

    Keunggulan lain, kata Gede Komang, buah Cabai jenis khas dengan kulit yang tebal, dalam satu tanaman ini lebih banyak buahnya daripada daunnya. Yang terpenting, dalam perawatannya harus baik. Semua takaran pengairan dan pupuk harus seimbang.

    “Semua ini organik, saya tidak mau dengan puuk kimia,” ujarnya.

    Sekali panen dalam satu pohon bisa minimal mencapai berat 200 gram. Sekali panen untuk 10.000 tanaman cabai bisa panen raya mencapai 2 ton. Pasar cabe juga terbuka, kata Gede Komang.

    “Harganya bisa dikalikan sesuai harga yang ada di pasar. Jika harga perkilogram mencapai Rp 30 ribu, ya segitulah hasilnya,” ucap pria yang khas dengan Kumis tebal.

    Gede Komang menyatakan pola pertanian juga harus kembali ke organik agar lanskap alam tetap bisa lestari.  Dia kini mengelola lahan pertanian sekitar 2 hektar di berbagai tempat dengan menanam beberapa jenis tanaman. Vanili, Cabai, Durian Musanking, serta tanaman lain seperti kacang-kacangan dan yang lainnya. Semua pemupukan dilakukan secara organik.

    Pengelolaan pertanian yang dilakukan oleh Gede Komang dari hulu ke hilir., termasuk membuat pupuk organik, bahan anti hama secara organik.

    “Tanaman itu butuh pupuk yang rutin, penyemprotan juga harus rutin tetapi gunakan yang organik,” ujarnya.

    Untuk mengelola lahan itu, Gede Komang mengajak sejumlah buruh tani untuk mengelola lahan. Mulai dari penyemaian bibit hingga menanam dan nanti ketika masa panen. |NP|

    Berita Terpopuler

    Seni bagi Anak-anak Kaki Batukaru

    Wayan Artika dengan Buku I Gusti Made Deblog, Master Seni Lukis Naturalis dalam Medan Seni Rupa Denpasar-Bali, dari I Kadek Wiradinata...

    Pencuri Kayu di TNBB Dibekuk, Dua Orang Kabur

    Barang bukti kayu Pait yang dicuri di Taman Nasional Bali Barat |FOTO : Yoga Sariada| Singaraja, koranbuleleng.com |...

    BLK Asem Kembar Latih Generasi Muda Untuk Berkesenian

    Anggota DPR RI Dapil Bali, Ketut Kariyasa Adnyana meresmikan Balai Latihan Kerja yang dikelola oleh Yayasan Asem Kembar Santi Ashram |FOTO...

    Penyidik Geledah Kantor LPD Anturan, Sita Mobil dan Dokumen

    Kejaksaan menggeledah kantor LPD Anturan terkait dugaan penyimpangan dana nasabah |FOTO : Edy Nurdiantoro| Singaraja, koranbuleleng.com|Penyidik Pidana Khusus...

    Related articles