More

    Pagerwesi, Perayaan Peneguhan Hati

    Dosen STAHN Mpu Kuturan, Nyoman Suka Ardiyasa |FOTO : Rika Mahardika|

    Singaraja, koranbuleleng.com| Bagi masyarakat di Kabupaten Buleleng, Hari Raya Pagerwesi adalah hari raya yang besar, sama seperti halnya Hari Raya Galungan dan Kuningan. Hal ini jauh berbeda dengan perayaan Hari Raya Pagerwesi di Daerah lain di Bali. Orang Buleleng juga terkadang menyebutnya dengan Rainan Pegorsi.

    Lalu, kenapa Hari Raya Pagerwesi di Buleleng dilakukan dengan besar dan berbeda dengan daerah lain di Bali?. Akademisi dari Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Negeri Mpu Kuturan Singaraja Nyoman Suka Ardiyasa menjelaskan, ada beberapa faktor yang menyebabkan hal itu terjadi.

    Menurutnya, sudah menjadi kepercayaan jika orang Buleleng merayakan Hari Raya Pagerwesi dengan sungguh-sungguh. Dijelaskan, ada petuah dari tetua Buleleng yang diwariskan turun-temurun yang mengamanatkan keturunannya untuk merayakan Pagerwesi secara sungguh-sungguh sebagai Perayaan Peneguhan Lahir Batin. Kebiasaan ini diwujudkan dengan melaksanakan perayaan secara meriah layaknya seperti perayaan Galungan kemenangan dharma melawan adharma.

    “Bagi sebagian masyarakat Buleleng yang diperantauan ada kebiasaan setiap hari Pagerwesi wajib ke Buleleng pulang, dengan tujuan  agar bisa bertemu dengan sanak keluarga dan melakukan persembahyangan di Sanggah Merajan,”jelasnya.

    Menurut Suka Ardiyasa, Hari raya Pagerwesi diyakini merupakan rangkaian dari Perayaan Rerahinan sebelumnya yaitu Hari raya Saraswati, Banyupinaruh, Soma Ribek dan Sabuh Mas. Empat perayaan ini, tidak terpisahkan dari hari peneguhan jiwa (Hari raya Pagerwesi).

    Perayaan Sarawasti merupakan turunnya Ilmu Pengetahuan yang jatuh pada Saniscara Umanis Wuku Watugunung yang diyakini sebagai turunya Ilmu pengetahuan ke dunia. Perayaan Saraswati ini sebagai sebuah refleksi bagi umat Hindu bahwa hanya dengan pengetahuan kita akan mampu meneguhkan hati dalam menjalani kehidupan dengan baik berlandaskan dharma. 

    Selanjutnya dalam Perayaan Banyupinaruh, diharapkan manusia berperan sebagai air yang mengalir dalam menjalani kehidupan. Banyu Pinaruh adalah sebagai penyucian diri telah didapatkan atau teraliri pengetahuan yang ada untuk dipergunakan sebesar-besarnya kemakmuran. Dan awal diterimanya pengetahuan itu berbarengan dengan awal bergantinya wuku menjadi awal kembali. Jadi pengetahuan itu digunakan untuk sewaktu wuku itu kembali menemukan awalnya kembali di masa yang akan ada nanti.

    Setelah itu, Soma Pon Sinta adalah hari raya Soma Ribek. Soma ribek masih berhubungan erat dengan Hari raya Saraswati. Dimana Soma Ribek adalah hari bagaimana pengetahuan dijadikan senjata untuk mencapai amerta.

    Kemudian Anggara Wage Sinta adalah hari Sabo Mas yang juga bagian dari hari Saraswati. Hari Sabo Mas adalah hari dimana mas itu menjadi suatu kemuliaan diri ini dengan menggunakan pengetahuan. Pengetahuan itu adalah yang membuat suatu kemuliaan diri itu sendiri. Ini adalah sambungan dari Soma Ribek yang menjadikan diri suatu kebahagiaan lahir, yaitu adalah suatu saat batin itu terpenuhi dengan pengetahuan itu sendiri. “Setelah mencapai kebahagiaan lahir batin, maka sampailah kita pada bagaimana mengajegkan hal tersebut. Mejadikan itu tonggak kehidupan yang tiada pernah tergerus oleh jaman dan waktu. Pager dari besi yang berarti suatu bagian perlindungan dari apa-apa yang telah dicapai,”ujar Suka.

    Kemudian, tepat pada Buda Kliwon Sinta, lanjut Suka Ardiyasa merupakan jatuhnya hari raya Pagerwesi. Pagerwesi merupakan juga arti dari deretan-deretan Hari raya Saraswati menuju hari Tumpek Landep. Setelah pada akhirnya sampai ke Pagerwesi, maka kemuliaan serta kebahagiaan lahir menjadi suatu yang tetap ada pada jiwa-jiwa manusia yang tercahayakan pada hari raya Saraswati tersebut.

    “Karena hal inilah sebagian masyarakat Buleleng secara sungguh-sungguh melakukan Perayaan Pagerwesi seperti halnya merayakan hari Raya Galungan,”imbuhnya.

    Di Kabupaten Buleleng, merayakan Pegorsi tidak hanya dilakukan dengan melakukan persembahyangan di Pura atau Merajan tetapi ada kebiasaan melakukan persembahyangan di kuburan (setra) atau sampai ke Makam Taman Pahlawan.

    Biasanya masyarakat yang melakukan persembahyangan di Kuburan menghaturkan punjung yang berisi olahan daging, nasi, minuman hingga jajan Bali. Yang dikunjungi adalah makam leluhur yang belum di Aben. Bahkan tidak jarang ada yang menambahkan makanan kesukaan leluhur yang telah meninggal. Biasanya persembahyangan dilakukan oleh keluarga besar.

    “Dari kepercayaan ini jelas ada sebuah keyakinan bahwa perayaan hari raya Pagerwesi khusuk jika melakukan tradisi sembahyang ke kuburan atau melakukan penghormatan kepada leluhur yang belum di Aben. Masyarakat Buleleng meyakini dengan melakukan persembahyangan kepada leluhur merupakan bentuk penghormatan agar selalu diberikan anugerah dalam menjalani kehidupan didunia. Hal inilah salah satu penyebab perayaan Pagerwesi di Buleleng sangat spesial sehingga dirayakan secara sukacita,”kata Suka.

    Hanya saja, tidak semua di wilayah Buleleng merayakan hari Pagerwesi secara meriah. Perayaan yang meriah hanya dilakukan sebagian masyarakat di Kota Singaraja. Sementara sebagian masyarakat di Buleleng barat seperti Gerokgak dan Busungbiu, perayaan Pagerwesi dilakukan secara sederhana. Sedangkan yang meriah dapat dijumpai di Daerah Buleleng Timur yaitu Kecamatan Buleleng hingga Tejakula.

    Perbedaaan perayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari perbedaan Kultur dan Geografis pada masa lampau. Secara Geografis masyarakat Buleleng dahulu dibagi menjadi dua bagian wilayah yaitu Dangin Enjung dan Dauh Enjung. Perbedaan Kultur dan Geografis inilah yang membedakan cara masyarakat Buleleng melakukan perayaan Pagerwesi.

    “Buleleng Wilayah Timur mendapat pengaruh Siwa Pasupata sedangkan Wilayah Barat mendapat pengaruh Sekte Buddha Mahayana. Perbedaan dua pengaruh ini sangat mempengaruhi sudut pandang dan pelaksanaan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Buleleng, termasuk dalam hal Perayaan Hari Pagerwesi yang berbeda cara perayaannya,” pungkas Nyoman Suka Ardiyasa. |RM|

    Berita Terpopuler

    Pemerintah Berharap Korupsi BUMDes Tirtasari Tidak Pengaruhi Kinerja BUMDes Lain

    Kadis PMD Buleleng, Nyoman Agus Jaya Sumpena |FOTO : Edy Nurdiantoro| Singaraja, koranbuleleng.com | Kepala Dinas Pemberdayaan...

    Polisi Tangkap Empat Orang Diduga Pengedar Narkoba

    Empat orang tersangka kejahatan narkoba yang diciduk oleh Satuan Reserse Narkoba Polres Buleleng |FOTO : Yoga Sariada| ...

    Urban Farming Panen Perdana Sayur Mayur

    Panen perdana sayur mayur di lokasi urban farming Desa Baktiseraga |FOTO : Edy Nurdiantoro| Singaraja, koranbuleleng.com | Masyarakat...

    5 Pejabat Eselon II Isi Jabatan Baru

    Pengambilan sumpah dan pelantikan pejabat baru organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Buleleng |FOTO : Istimewa| Singaraja,...

    Related articles