More

    Bulan Bahasa Bali Penyelamat Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali

    Lomba Nyurat Aksara Bali Desa Adat Buleleng |FOTO : Rika Mahardika|

    Singaraja, koranbuleleng.com| Upaya pemuliaan dan penyelamat terhadap bahasa, aksara dan sastra Bali, bulan Februari diresmikan sebagai bulan bahasa Bali.

    Salah satu Penyuluh Bahasa Bali I Putu Satria Wiradharma, menjelaskan sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Bali nomor 4 tahun 2020 tentang Pemajuan dan Penguatan Kebudayaan Bali, dan Peraturan Gubernur Bali nomor 80 tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali Serta penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali, tahun ini sudah memasuki tahun ketiga.

    Dari peraturan tersebut, masing-masing Desa Adat di Bali sebisa mungkin melaksanakan perayaan Bulan Bahasa Bali. Sehingga, perayaannya pun dari tahun-ketahun selalu semakin semarak. Satria Wiradharma menyebut tingginya animo masyarakat Bali yang Nampak dalam unggahan sejumlah media sosial.

    Karena Bulan Bahasa Bali baginya menjadi dasar untuk mengangkat kembali apa yang selama ini belum maksimal, termasuk soal perkembangan dan pelestarian bahasa, aksara, dan sastra Bali.

    “Bahkan bukan hanya dari prajuru desa, masyarakat umum juga semangat membuat grup untuk mengangkat aksara bali dengan pendampingan penglingsir dan juga guru. Ada semangat daripada krama untuk memotivasi anak anak belajar di sekolah dengan Penyuluh Bahasa Bali untuk melestarikan bahasa, aksara dan sastra Bali,” ujarnya.

    Sementara itu di Desa Adat Buleleng, Penyuluh Bahasa Bali bersama dengan Prajuru menggelar Lomba Nyurat Aksara Bali yang berlangsung di wantilan kantor Desa Adat Buleleng Minggu, 28 Februari 2021. Lomba tersebut diikuti 12 peserta tingkat SD dari 11 Wewidangan Banjar Adat yang ada di Desa Adat Buleleng.

    I Putu Satria Wiradharma mengatakan, selama ini, salah satu program Penyuluh Bahasa Bali di Desa Adat Buleleng adalah menggelar kelompok belajar di sekolah-sekolah atau Balai Banjar untuk belajar membaca dan menulis aksara Bali.

    Lomba ini pun diharapkan menjadi motivasi bagi anak-anak khususnya tingkat SD untuk mau belajar membaca dan menulis aksara Bali. Apalagi diakuinya, dulu masih banyak siswa baik untuk tingkat SD dan juga SMP yang belum fasih dengan aksara Bali.

    “Dari lomba ini, anak-anak ini mempunyai capaian tujuan dia belajar dengan penyuluh  bahasa Bali. Tujuannya ada di depan, yakni lomba nyurat aksara bali. Dengan lomba ini minat belajar aksara bali lebih meningkat,” kata Satria.

    Sementara itu Kelian Desa Adat Buleleng I Nyoman Sutrisna mengungkapkan lomba ini merupakan evaluasi dari apa yang sudah dilakukan penyuluh Bahasa bali di tiap-tiap banjar adat. Kedepan lomba-lomba dalam rangka pelestarian budaya bali akan dilakukan di berbagai jenjang pendidikan.

    “Penilaian ini tentu saja di empat belas banjar adat. Kalau penyuluh Bahasa bali ini melakukan edukasi di 14 banjar adat sekarang lah harus ditampilkan. Dari banjar adat yang meraih juara, itu kita akan pakai percontohan,”terangnya.

    Disisi lain, dalam pelaksanaan lomba dengan protokol kesehatan itu, juara pertama diraih peserta nomor 12 atas nama I Kadek Putra Purnama Yasa dari Banjar Adat Kampung Baru, juara kedua diraih peserta nomor 9 atas nama Ni Luh Danisa Sudiastiny Adriana dari Banjar Adat Bale Agung, dan juara ketiga diraih peserta nomor undi 6 atas nama Kadek Tiara Maharani dari Banjar Adat Petak. |RM|

    Berita Terpopuler

    Related articles