More

    Balai Bahasa Terjemahkan 20 Judul Sastra Bali Modern

    Kontributor : Wayan Artika

    Singaraja, koranbuleleng.com | Balai Bahasa Provinsi Bali menyelenggarakan kegiatan Diskusi Kelompok Terumpun (FGD) dengan tema “Seleksi Naskah Cerita Bahan Penerjemahan” selama tiga hari di hotel Inna Sindhu Beach, Sanur, Kabupaten Buleleng,  19 – 22 April 2021.  Karya-karya yang dipilih adalah antologi cerpen dan novel berbahasa Bali yang akan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

    Acara ini diikuti oleh dua puluh orang dari kalangan sastrawan Bali modern, penulis, dan akademisi. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memilih 20 judul karya sastra Bali yang tahun ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian, karya sastra yang berkembang di daerah dengan menggunakan bahasa daerah masing-masing di seluruh Indonesia, termasuk di Bali, bisa dibaca oleh kalangan pembaca dari seluruh Indonesia. “Kegiatan ini diharapkan dapat juga menghasilkan karya sastra terjemahan yang digunakan untuk bahan bacaan literasi.” Demikian diungkapkan oleh Puji Retno Hardiningtyas, dari Balai Bahasa Provinsi Bali, yang banyak terlibat dalam berbagai program gerakan literasi nasional.

    Para ahli sastra yang sudah banyak terlibat dalam perkembangan sastra Bali modern yang penuh dinamika, seperti Dewa Windu Sancaya dan Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Lit. memberai masukan dan sumbangan wawasan seputar penerjemahan karya sastra. Kalangan sastrawan yang hadir seperti Oka Rusmini dan Made Adnyana Ole beserta para akademisi dan barisan sastrawan angkatan baru atau dari kalangan generasi muda, seperti Putu Supartika, Juli, Gus Eka, Darma Putra, dll. yang kini sebagian besar bekerja sebagai dosen dan ada pula jurnalis, menyambut baik kegiatan ini yang pada akhirnya bertujuan untuk menerbitkan karya-karya sastrawan Bali Modern dalam bahasa Indonesia sehingga terjadi lintas pemahaman, sebagaimana harapan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

    Adapun kriteria karya yang ditetapkan untuk menentukan karya yang akan diterjemahkan (berkisar maksima pada 15 judul) dan selebihnya akan diusulkan tahun depan, adalah berkaitan dengan kesejarahan karya, kepeloporan pengarang, aspek bahasa yang digunakan, dan kandungan tema yang mendidik dalam artian luas. Kriteria ini sangat penting sebagai patokan agar karya yang dipilih objektif dan representatif.

    Para peserta yang berjumlah 20 orang wajib membaca dan memberi tinjauan atas lima karya yang berupa antologi cerpen atau novel. Karya-karya pilihan peserta kemudian diajukan kepada pantia. Forum ini mendiskusikan karya-karya tersebut dengan berbagai argumen, baik yang menyangkut struktur karya, ketokohan pengarang, dan kelayakan karya itu sendiri.

    Di dalam kegiatan ini, di tengah diskusi yang sangat kooperatif, maka terungkap sastrawan bali Modern yang paling produktif, seperti Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten dan novelis Djantik Santha, yang ternyata spesialis menulis novel yang sangat panjang. “Bapak Djlantik Santa tidak bisa menulis cerpen karena beliau mengibaratkan menulis seperti menari. Beliau tidak bisa menari di kalangan yang sempit.” Demikian penjelasan Gede Gita Purnama, peneliti dan dosen sastra Bali dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana.

    Terhadap sastrawan Bali yang sangat produktif berkarya, seperti Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten dan novelis Djantik Santha, para peserta diskusi terumpun kali ini memutuskan untuk memilih satu karya yang paling diunggulkan dan dinilai telah dapat mewakili karya-karya pengarang tersebut. Karena itu, di antara sederet novel Djlantik Santha, yang dipilih untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tahun ini adalah Tresnane Lebur Ajur Satonden Kembang. Novel ini mengisahkan perjuangan Nyoman Santosa mengikuti pendidikan guru bawah (SGB) di Klungkung dan melanjutkan di SGA (Sekolah Guru Atas) di Singaraja. Selama menempuh proses pendidikan itu, Nyoman Santosa menjalin hubungan cinta dengan sejumlah wanita namun tidak ada satupun dari cinta itu yang berakhir di gerbang pernikahan. Di samping persoalan romantisme cinta remaja yang berseting sekolah guru, novel Djlantik Sntha ini sangat kaya dengan nilai-nilai kehidupan. Namun demikian, dalam karya ini pengarang sama sekali tidak tampak hendak berkotbah atau menggurui pembaca.

    Sastrawan, penulis cerita anak, pemain teater, dan jurnalis, Mas Ruscita Dewi mengajukan bahwa program penerjemahan ini juga harus mempertimbangkan posisi pengarang perempuan. Atas saran ini dipilih dua karya yang ditulis oleh pengarang perempuan, seperti novel Aud Kelor (Carma Citrawati) dan kumpulan cerpen Luh Jalir (Mas Ruscita Dewi).

    Ternyata pada masa sebelum kemerdekaan, kehidupan sastra Bali modern benar-benar lambat. Pada periode awal itu, hanya tercatat dua karya yang keduanya berupa novel, Mlantjaran Ka Sasak dan Nemoe Karma. Keadaan ini sedikit lebih baik memasuki periode kemerdekaan dan beberapa dekade sesudahnya. Satu setengah dekade terakhir, perkembangan sastra Bali modern sungguh menggembirakan. Hal ini terjadi karena panggung sastra Bali modern tidak lagi diisi oleh para sastrawan senior seperti Nyoman Manda, Ketut Rida, Wiyat S. Ardi, Bawa samargantang, Gde Dharna, Made Suarsa dan yang lain. tetapi bermunculan sastrawan muda. Mereka inilah banyak menyumbang karya. Namun demikian, kebanyakan karya-karya mereka berupa puisi dan kumpulan cerpen. Novel sangat sedikit dihasilkan dan jika itu ada hanya setebal kurang dari 140-halaman.

    Maraknya perkembangan sastra Bali modern akhir-akhir ini, tidak luput dari adanya pemberian penghargaan Rancage, sebagaimana ditulis oleh Prof, Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Lit. dalam makalah berjudul “Seratus tahun Sastra Bali Modern”. Dalam makalah ini bahkan dengan sangat jelas dinyatakan bahwa penganugerahan Hadiah Sastra Rancage kepada sastra Bali moodern, dijadikan salah satu pembabakan dalam periodisasi sastra Bali modern. (*)

    Berita Terpopuler

    Related articles