Dari Perajin Perak Hijrah Jadi Seniman Tato

Singaraja, koranbuleleng.com |  Liku hidup setiap manusia berbeda-beda, ceritanya tak sama.  I Gusti Putu Arya Rudyantha (52 thn), salah satu seniman tato yang berasal dari Bakung, Sukasada, kabupaten Buleleng, Bali.  Dia salah satu seniman tato yang cukup digemari oleh pecinta seni tato di Bali. Bahkan, sejumlah wisatawan asing juga menikmati goresan tinta dari tangan Rudyantha.    

Sebelum menjadi seniman tato, Arya Rudyantha pernah bekerja di sebuah galeri dan workshop pembuatan cinderamata berbahan perak di Kabupaten Gianyar. Dia paham betul tentang ragam ornamen dan ukiran perak bernuansa Bali. Dari kebiasaannya mengukir segala hal tentang Bali, terbawa ke aliran tato yang dikerjakannya.

- Advertisement -

Arya juga sudah hobi menggambar sejak kecil. Keterampilan alamiahnya ini membawa kehidupannya ke garis seni.

Tato, kata pria yang akrab dipanggil Gus Arya, merupakan seni yang menggunakan kulit manusia sebagai media. Seni tubuh ini sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Tato adalah seni lambang ekspresi yang bebas.

Dalam setiap tato yang digarap oleh Arya, dia selalu mengambil desain tentang Bali. Semua tato yang dibuat oleh Arya selalu punya makna dan cerita tersendiri.  Karena konsepnya lebih dominan tentang Bali, dia juga menuangkan warna tato black grey menjadi ciri khas setiap desain tato yang dibuat. Padu padan pewarnaan dan desain tentang karakter Balinese di setiap tato yang dibuat mampu menciptakan deimensi dan kedalaman pada desainnya.

I Gusti Putu Arya Rudyantha

Dari ciri khasnya tersebut banyak orang yang candu untuk membuat tato di rumah Arya. Bukan saja orang lokal, namun ada juga sejumlah wisatawan asing.

- Advertisement -

Di tahun 199, Arya pertama kali mengawali dirinya sebagai seniman tato. “Diawal-awal saya menggoreskan tinta ke tubuh orang itu, memang kurang sempurna. Saya tidak putus asa, terus melakukan eksplorasi,” ucapnya mengisahkan masa lalunya.

Sebelum hijrah menjadi seniman tato, Arya pernah bekerja sebagai perajin perak di Gianyar. Dia juga sempat menjadi perajin perak di wilayah Kecamatan Kuta, Badung. Profesi perajin perak ini digelutinya selama bertahun-tahun.  

Di Kuta dia mengenal seni tato lebih dalam. Selama menjadiperajin perak di Kuta, dia juga bergaul dengan para seniman tato, dibarengi denan hobinya yang suka menggambar, membuat adaptasinya dengan snei tato cepat berkembang. “Tetapi waktu itu belum ada pikiran untuk menjadi seniman tato,” ujar Arya.

Kala itu, dia hanya berfikir seni tato yang dipelajari secara tidak langsung itu untuk menyalurkan hobi menggambar saja. Tetapi seiring perjalanan waktu,galeri tempatnya bekerja mengalami kebangkrutan.

Akhirnya, dia memantapkan diri bergelut dalam seni dan bisnis tato secara perlahan. Banyak konsep seni dia eksplorasi, termasuk memahami karakter mesin tato sebagai pilar utama dalam seni tato.

“Dari sanalah saya memulai meniti karir saya sebagai seniman tattoo yang sampai sekarang masih aktif dengan nama studio Ajik Tattoo,“ ujarnya.  

Studio miliknya cukup sederhana namun sangat nyaman bagi kliennya yang datang ke sana. Selama melayani klien yang membuat tato, dia menemukan berbagai karakter klien. “Klien ketika merasa puas, dia akan terus ingin membuat tato dan rela bayar lebih mahal.” katanya.

Namun, Arya juga melihat di era kekinian masih banyak yang berpandangan negatif tentang tato,bahkan bisa terjadi diskriminasi. Padahal tato adalah karya seni menakjubkan. Setiap orang punya penilaian berbeda tentang tato itu.

“Tapi saya tetap menerimanya sebagai motivasi untuk terus berkarya di dunia tato ini. Dan dari hasil karya inilah saya menghasilkan uang untuk meningkatkan ekonomi keluarga saya sampai saya bisa menyekolahkan tinggi-tinggi kedua anak,“ ungkap dia.

Menjalani diri sebagai seniman tato, kata Arya, sangat membanggakan. Menikmatinya dengan cara menyelami setiap karakter manusia sehingga pergaulan juga menjadi lebih luas. (*)

Kontributor : I Gusti Made Gita Satryani

Editor : I Putu Nova Anita Putra

Komentar

Related Articles

spot_img

Latest Posts