Singaraja, koranbuleleng.com | Sekaa Gong Legendaris Kebyar Giri Kusuma Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, tampil memukau sebagai duta Kabupaten Buleleng pada Utsawa Gong Legendaris Pesta Kesenian Bali (PKB) 2025.
Membawa empat garapan unggulan yang kental nuansa sejarah dan spiritualitas, Sekaa Gong ini berhasil memikat penonton di Panggung Terbuka Ardha Candra Denpasar, Sabtu, 28 Juni 2025 malam, bersama Duta Kabupaten Badung dan Gianyar.
Berdiri hampir delapan dekade, Sekaa Gong Legendaris Kebyar Giri Kusuma tetap bergelora menjaga napas seni karawitan Bali. Sejak Desember 2024, para penabuh dan penari telah mempersiapkan empat mahakarya, yakni dua tabuh dan dua tari yang menyatukan estetika, sejarah, serta nilai luhur budaya Bontihing.
Salah satunya Tabuh Kreasi “Pudak Sumekar”, karya maestro Made Keranca, menarasikan keelokan bunga pudak yang tumbuh di sekitar Pura Beji dan sumber air Kayoan—pusat spiritual warga Bontihing. “Karya ini adalah doa alam yang kami wujudkan dalam suara,” tutur Koordinator Sekaa Gong Legendaris Kebyar Giri Kusuma Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan, I Putu Sudiarsa.
Tak kalah bersejarah, Tabuh Telu “Dwi Mekar” yang lahir tahun 1984 menjadi penanda keberanian Sekaa Gong Legendaris Kebyar Giri Kusuma menembus batas pakem lelambatan klasik melalui eksperimen musikal yang tetap berakar pada tradisi.
Kekuatan kisah pun tercermin dalam Tari Kekelik, garapan (alm.) I Nyoman Durpa. Menyuguhkan simbol perlawanan kawanan burung kecil terhadap keangkuhan burung besar Kekelik, tari ini menyampaikan pesan sosial yang relevan lintas generasi. “Kekelik adalah cermin zaman. Ketika kesombongan dilawan dengan kebersamaan,” ujar Sudiarsa.
Semangat heroik juga hadir lewat Tari Baris “Sura Murti”, karya I Nyoman Kartina Laksana. Terinspirasi sosok Bimasena dari Mahabharata, pasukan Baris bergada tampil penuh keberanian, mengusung semangat Baratayuda sebagai bentuk bakti kepada ibu pertiwi.
“karya yang dihadirkan tak berhenti sebagai tontonan, tapi menjadi tuntunan menginspirasi generasi muda di Bali khususnya di Buleleng untuk terus merawat seni,” tutupnya.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

