Singaraja, koranbuleleng.com| Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi, menegaskan pendidikan anak tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada sekolah. Menurutnya, lingkungan keluarga justru memegang porsi terbesar dalam membentuk karakter, kepribadian, hingga masa depan anak.
Hal itu disampaikan pria yang akrab disapa Kak Seto usai menjadi narasumber dalam Workshop Buleleng Excellent Teacher 2026 di Gedung Kesenian Gde Manik, Singaraja, Sabtu, 11 Juli 2026.
Kak Seto mengatakan, keberhasilan pendidikan lahir dari kolaborasi berbagai pihak. Selain guru, orang tua, organisasi sosial, hingga masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama dalam menyiapkan generasi yang berkualitas.
“Guru hanya 30 persen, sementara orang tua 70 persen. Jadi orang tua yang memegang peran penting terhadap pendidikan anak,” kata dia.
Menurut Kak Seto, ukuran keberhasilan pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh capaian akademik. Pendidikan juga harus mampu membentuk karakter, etika, akhlak, jiwa nasionalisme, hingga menjaga kesehatan fisik dan mental anak.
Karena itu, ia mengajak para pendidik untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan peserta didik agar suasana belajar menjadi lebih positif dan mampu membangkitkan semangat anak mengikuti proses pembelajaran.
“Belajar yang efektif adalah belajar yang menyenangkan, belajar dalam suasana gembira. Ciptakan bagaimana anak gembira dan bahagia,” ucapnya.
Kak Seto juga menyoroti pembelajaran membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Ia menegaskan kemampuan tersebut bukan menjadi kewajiban di jenjang taman kanak-kanak (TK), melainkan merupakan bagian dari pendidikan dasar.
Meski demikian, pengenalan angka maupun huruf di TK tetap dapat dilakukan melalui metode yang menyenangkan tanpa memberikan tekanan kepada anak.
“Belajar dalam arti calistung itu adalah kewenangan di SD, bukan di TK. Bahwa TK bisa mengajarkan angka-angka itu dalam suasanya gembira. Bisa dengan nyanyi satu tambah satu dan sebagainya,” kata Kak Seto.
Ditengah kebijakan kuikulum pendidikan yang sering berganti, Kak Seto menilai pergantian kurikulum merupakan hal yang wajar dalam sistem pendidikan. Namun, ia mengingatkan agar setiap kebijakan tetap menempatkan kepentingan terbaik bagi anak sebagai prioritas utama.
Ia menegaskan sekolah harus menjadi ruang belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan mampu membuat peserta didik merasa bahagia mengikuti setiap proses pendidikan.
“Kurikulum boleh saja berganti-ganti dan sebagainya, tapi mohon semua demi kepentingan terbaik bagi anak. Bukan anak untuk sekolah, tapi sekolah untuk anak,” kata dia.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng, Ida Bagus Surya Bharata, berharap materi yang disampaikan Kak Seto menjadi bekal bagi para guru dalam menerapkan pembelajaran yang semakin ramah anak, terutama menjelang pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah yang akan dimulai dalam dua hari ke depan.
“Jadi guru-guru dapat pemahaman bagaimana cara membuat pembelajaran itu semakin menyenangkan dan menyemangati anak-anak untuk mau belajar dan tentunya tertarik untuk selalu datang ke sekolah,” kata dia.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

