Singaraja, koranbuleleng.com | Pemerintah Kabupaten Buleleng kembali menghidupkan kemeriahan Buleleng Festival (Bulfest) 2025 setelah lima tahun tidak digelar. Festival budaya terbesar di jantung Kota Singaraja ini akan berlangsung selama enam hari penuh, mulai 18 hingga 23 Agustus 2025, dengan pusat kegiatan di Tugu Singa Ambara Raja.
Ketua Panitia Bulfest yang juga Sekretaris Daerah Buleleng, Gede Suyasa, menegaskan bahwa festival kali ini mengangkat tema yang sarat makna: “The Maks History of Buleleng, Topeng Leluhur, Jiwa Buleleng.”
“Kita ingin menunjukan Buleleng, punya karya topeng monomental di seluruh desa. Topeng kita juga diakui dunia, kita pernah jadi tuan rumah. Makanya masyarakat sering sebut gedung Mr. Ketut Puja di Eks Pelabuhan Buleleng sebagai gedung IMACO, karena disana pernah digelar pameran topeng internasional disana,” ujarnya, Rabu, 30 Juli 2025.
Suyasa menjelaskan, pemilihan topeng sebagai ikon utama festival bukan tanpa alasan. Topeng telah menjadi bagian dari warisan budaya tak benda yang melekat kuat pada identitas masyarakat Buleleng. Bahkan, pada 2011 lalu, Buleleng dipercaya menjadi tuan rumah Festival Topeng Internasional oleh IMACO (Mask Art and Culture Organization).
Untuk menyemarakkan suasana, setiap sudut festival akan didominasi ornamen topeng, mulai dari panggung utama hingga stand-stand UMKM. Tak kurang dari ratusan pelaku UMKM akan meramaikan festival ini, memperlihatkan potensi ekonomi kreatif khas Buleleng.
Tak hanya itu, Suyasa menyebut pihaknya menyediakan ruang khusus untuk perajin topeng. Di area ini, pengunjung dapat langsung menyaksikan proses pembuatan topeng tradisional khas Buleleng.
“Nanti hasil dari topeng tersebut, akan dibeli oleh kepala OPD. Sehingga mereka punya koleksi topeng khas Buleleng,” kata dia.
Tak tanggung-tanggung, Buleleng Festival 2025 akan melibatkan ribuan pengisi acara, termasuk seniman lokal dan artis nasional. Untuk menandai pembukaan, rencananya sebanyak 250 penari akan menampilkan Tari Gerumbungan secara kolosal.
“Pada saat pembukaan Wakil Menteri Pariwisata berencana hadir. Gubernur Bali I Wayan Koster, sudah menyampaikan kepastian hadir,” ucapnya.
Menariknya, festival ini tak hanya menonjolkan aspek budaya dan hiburan, tetapi juga menaruh perhatian serius pada pengelolaan sampah dan lingkungan. Suyasa memastikan, sampah yang dihasilkan tidak akan dibawa ke TPA Bengkala, melainkan akan langsung dipilah dan didaur ulang.
“Sampah akan dipilih dan dikirim teman-teman komunitas yang bisa di daur ulang. Bulfest bukan hanya masalah pelestarian budaya, juga tentang prilaku bersih dengan mengelola sampah,” kata dia.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

