Singaraja, koranbuleleng.com | Upaya membangun industri bambu nasional dari hulu hingga hilir terus diperkuat oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Melalui program Bamboo Academy, Kemenperin mulai melakukan identifikasi lokasi pengembangan dan pelatihan bambu di berbagai daerah, salah satunya di Hutan Bambu Sandan, Desa Bangli, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan.
Kunjungan ini dilakukan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Direktorat Jenderal Industri Agro Kemenperin, Dewa Putu Juli Ardika, bersama jajaran, pada Jumat 11 Oktober 2025. Mereka disambut hangat oleh Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) dan PT Langgeng Kreasi Jayaprima (LKJ) atau Diageo, yang selama ini mendampingi Kelompok Tani Hutan (KTH) Wana Kerta Lestari dalam program pelestarian dan pengembangan bambu di kawasan hutan seluas sekitar 100 hektar tersebut.
Sambil berjalan menuju wantilan di tengah hutan, Dewa Putu Juli Ardika menjelaskan bahwa program Bamboo Academy merupakan inisiatif pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) untuk menggerakkan industri bambu nasional secara terpadu. Program ini mencakup pelatihan teknis, penguatan rantai pasok, hingga pengembangan produk bernilai tinggi agar bambu Indonesia mampu bersaing di pasar global.
“Identifikasi pengembangan bambu dari hulu ke hilir, dan mempersiapkan SDM yang dapat mengembangkan pusat logistik bambu. Jadi bambu itu nantinya dalam keadaan siap dipakai. Karena saat ini orang mencari bambu harus di-order dulu, belum ada yang siap pakai. Jadi dibutuhkan adanya pusat logistik bambu dengan resi gudang agar lebih mudah menyalurkan ke masyarakat. Nah jadi itu tujuan kami, kalau ekonominya sudah jalan maka fungsi sosial, fungsi ekologi, dan kelestarian itu akan jauh lebih mudah tercapai,” jelasnya.
Rombongan kemudian menelusuri hutan bambu bersama tim YBLL, perwakilan KTH Wana Kerta Lestari, dan Diageo, untuk melihat langsung jenis-jenis bambu yang telah dikembangkan serta meninjau lokasi pembibitan dan penanaman.
Head of Program YBLL Nurul Firmansyah, menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor untuk memperkuat pengembangan bambu di Sandan. Ia berharap kolaborasi antara Kementerian Kehutanan, Kementerian Perindustrian, serta lembaga pendamping seperti YBLL dapat mewujudkan model pengelolaan bambu berkelanjutan.
“Secara ideal adalah bagaimana agar hutannya tetap lestari, menerapkan sistem pengolahan bambu yang lestari, dan pemanfaatan yang lestari. Dari pertemuan tadi dengan Pak Dirjen akan membuat sebuah modelling di Sandan untuk pusat sentral industri dan pengetahuan yang dikerangkakan dalam bentuk peta jalan. Sehingga ini juga akan memayungi semua sektor yang terkait dan terutama juga posisi pendamping seperti YBLL untuk pengembangan bersama-sama dengan pemerintah dan juga sektor swasta,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua KTH Wana Kerta Lestari, I Made Suda Arnaya, berharap kunjungan tersebut dapat membawa dampak nyata bagi masyarakat sekitar hutan. Ia menekankan agar keberlanjutan lingkungan tetap terjaga dengan sistem tebang pilih serta dorongan bagi masyarakat untuk memperoleh penghasilan melalui pengolahan bambu dan pengembangan ekowisata.
“Intinya pemeliharaan, itu yang kami harapkan. Juga pengembangan ekowisatanya agar lebih maju. Baik itu melalui pembinaan, pelatihan atau lainnya. Karena ini salah satu penghasilan dari desa adat kami,” tuturnya. (*)
Kontributor :Aprilia Enisari

